
Harisya tak akan kehabisan akal. Menatap punggung Alarico dari belakang lalu bergegas melangkah ke depan cepat.
Alarico menatap Harisya yang tersenyum.
"Lihat disna ada banyak pegawai yang melototin ke arah kita, Sekarang aja gue bilang," ucap Harisya.
Alarico bergeming di tempatnya.
"Al.. Kalo barang udah di pake otomatis nilai jualnya rendah, Oiya.. Kalo permen udah di buka dari bungkusnya jadinya kotor gak bisa di makankan. Sama kayak permen ini, Sekali kena pegang orang dan tanpa sadar permen baru ini masuk mulut, Habis.. Bukan lagi permen baru dia akan jadi bekas kalo udah gak kepake, Buang tuing... Masukkan ke dalam kotak sampah," ucap Harisya.
Alarico terdiam dengan posisinya menatap Harisa lalu bergerak berbalik pergi meninggalkan Harisya dan membantu melayani di tempat lainnya.
Harisya terdiam dengan tingkah Alarico yang terlihat kena dengan hasutannya. Kenyataannya Alarico bahkan tidak tahu apa yang dia lakukan dan katakan tadi.
Harisya terlalu percaya diri. Alarico sibuk melayani pelanggan sampai tidak terasa waktu berjalan sesekali waktu senggang di pakainya membaca pelajaran dan juga mengirimkan kan tugasnya pada Dosen yang waktu itu ia temui.
Alarico juga harus membayar kuliahnya sendiri begitu sungguhan sang Ayah ini menyayangi putranya, bagi Alarico ini bukan sayang tapi, kebencian besar.
Syera yang baru melayani beberapa pelanggan seketika melihat seseorang mencurigakan melewati tempat kerjanya.
Syera diam saja. Seketika itu Tak sadar waktu berlalu cepat sekarang sudah gelap.
Melihat mobil polisi dan tim gabungan pihak berwenang Syera merasa aneh dengan suasana kota.
Ketika ada yang berdiri di sampingnya Syera melirik sedikit.
"Eh.. tahu gak Bank Negara lagi kerampokan ada di ibu kota dan katanya ada anak-anak perempuan sama manula."
"Eh.. masa iya, Iya salah satunya ada ibu-ibu pakeannya warna Hijau botol terus agak tua pake jilbab gak telalu besar tapi, longgar katanya di di sandara di dalam kamera wartawan lebih busa ambil gambar dia." Jelas orang-orang di sebalah Syera.
Syera membuka ponselnya melihat berita hari ini Saat itu juga Syera berbalik arah berlari mendatangi Bank Negara. Baru sampa di sana Syera tak melihat para sandara keluar dan polisi juga pasukan khusus masih di sana. Seketika itu Syera menyenggol bahu Alarico yang tak sengaja lewat memang biasanya lewat di sekitar situ.
"Al.. Lo disini," ucap Syera kaget.
"Gue lewat." Datar jawabannya.
"Kenapa dia?" Alarico merasa aneh bergumam sendiri dan berjalan mendekat kerumunan. Seketika itu Syera terlihat mengambil langkah pintu samping yang tidi jaga tapi, seketika petugas datang dan meminta Syera menjauh.
Alarico masih disana memperhatikan. Tidak lama terjadi penembakan Syera langsung histeris petugas keamanan polisi langsung menarik Syera menenangkan.
"Didalem ada ibu saya, Ibu saya di dalem kenapa gak semuanya keluar."
Seketika Syera mengambil pistol yang tidak ada siapapun memperhatikannya Syera dengan langkah cepatnya berlari masuk saat itu juga Alarico dengan cepat menyusul.
Sebenarnya apa yang mereka lakukan ini hal paling berbahaya jika selamat mereka berdua beruntung jika tidak mereka mati. Para petugas keamanan bingung dan panik sampai menghubungi pusat dan meminta bantu.
Pusat segera mengirimkan bantuan dan ketika bantuan tiba Syera dan Alarico didalam berhadapan dengan lima orang perampok bank salah satunya yang Syera liat ketika berjalan didepan Toko Roti.
"Apa kalian anak kecil main masuk saja ke dalam," ucap Salah satu dari mereka seketika Alarico menghajar mereka dengan cepat dan bisa menghindar fokus terbelah dua menjaga Syera dan dirinya.
Para pihak keaman di depan juga pasukan khusus tidak bisa berbuatbapapun mereka ingin menembak tapi warga sipil dan Syera cet sekali berlari masuk padahal ada Bom di dekat pintu.
Padahal bom itu sudah di jinakkan Sore tadi tapi, tetap tidak bisa.
Saat ini Alarico sedikit terluka tapi, tetap bisa berjalan waspada dengan Syera.
"LO Tahu ini bahaya Ra," ucap Alarico kesal.
"Ini satu-satunya cara biar gue gak bawa masalah buat kalian.
Seketika itu Mereka ketahuan lagi Alarico mengambil pistol yang tergeletak dari lima orang perampok itu dan membawanya pergi bersama Syera.
Melangkah lantai dua ternyata semuanya disini. Syera langsung mendekat pada ibunya seketika itu postol menempel di kepala samping Syera.
"Kau tidak akan mendekat jika peluru ini sudah menancap bukan," ucap seseirang yang terlihat tak asing tapi, Syera lupa.
Seketika Alarico menembak tangan Orang itu tidak pandang bulu dan seketika terdengar tembakan keras didalam petugas masuk betapa terkejutnya mereka melihat para perampok di lantai bawah lebih dari lima orang tergeletak tak sadarkan diri.