
Syera masih diam seketika ayah Alarico bicara saat tatapan kedua mertua jatuh padanya.
"Saya mengambil resiko itu tapi, jika Alarico menyentuhnya maka mau tak mau mereka harus di satukan."
"Rayanza," suara Angga menegas pada satu nama yang ada di ruangan itu termasuk kedua orang tuanya.
"Kalian sudah membatalkan pertunangan dengan cara tidak formal dan baik, sekarang kedua orang tua Syera ada disini, mereka bahkan menanyakan satuhal kenapa kalian membatalkan pertunangan lewat pesan singkat dan bernada formal. Kenapa tidak bertemu langsung," ucap sang ayah yang putranya tak percaya.
Alarico ragu jika yang di sebelah kirinya adalah ayahnya yang jelas-jelas tidak mau mengambil urusan ikut campur keluarga lain.
"Kami minta maaf ya kami membatalkannya karena kami tidak mau memiliki menantu yang tidak terlihat sangat baik dalam artian mengambil keputusan tanpa berpikir dan kami harus membatalkannya takut nama keluarga kami menjadi buruk." Ayah Rayanza berucap dengan tegas dan terlihat sekali wajah Rayanza sangat tak terima.
"Kami juga minta maaf atas kesalahan putri kami tapi, tidakkah kalian memberinya pilihan, sedari awal kami mendatangi keluarga kalian dengan baik takutnya jika kalian membatalkan secara tiba-tiba kedua putra putri kita tahu-tahu sudah ada rasa," ucap ayah dari Syera.
Dalam hati Syera senang jika ternyata pertunangannya batal karena kejadian kemarin dan dalam hati sangat girang tapi, saat ayahnya bicara tentang rasa, seketika di dalam hati Syera langsung down dan Oh.. tidak jangan tidak akan kembali lagi, ucapan dalam hati Syera memohon untuk pertunangannya dengan Rayanza batal.
Saat itu juga. Tatapan sang kakek jatuh pada Syera dan Alarico yang wajahnya selalu acuh.
"Maaf saya bicara sebelum di persilahkan tapi, saya memahami perasaan kalian dan saya menerima pembatalan ini bahkan saya merasa jika putra kalian akan mendapatkan perempuan yang lebih baik dari saya."
Wajah senang di ekspresi datar Alarico tak terlihat karena Alarico tersenyum dari hati, bagus!
"Tapi, satu hal kami minta untuk keluarga Alarico memberikan kepastian," ucap ayah dari Syera.
Deg.. deg....
Aaa... Tidak! kenapa keluar dari kandang kanibal masuk kandang singa yang banyak jebakan, tipu muslihat dan Aaargh.. Alarico! Allahhuakbar, Ya Allah.
Syera ingin gantung diri sekarang sangat ingin, dimana tambang? dimana!
Syera menatap kedua tangan yang jemarinya masih saling meremas.
"Kami akan memperjelas nya tapi, apaakah keluarga Rayanza sudah yakin memutus pertunangannya," ucap sang kakek kali ini membuat Syera terdiam.
Gak mungkinkan kakek Alarico yang ngomong?
Alarico sama terkejutnya seperti Syera bahkan lebih terkejut dari Syera.
"Kenapa..."
"Al!" cegah sang ibu seketika Alarico kembali diam. Semuanya sekejap teralih pada Alarico.
Seketika itu keluarga Rayanza mengiyakan dengan tegas tapi, tidak dengan Rayanza sendiri.
Mereka sekeluarga bangkit dari duduk dan pergi dengan baik-baik lalu mengatakan kata terakhir sebelum pergi ya itu maaf untuk Syera dan keluar.
Tidak terdengar ganjil di telinga Syera tapi, di telinga sang ibu dan ayah Syera itu sangat ganjil.
Bahkan mereka jarang sekali meminta maaf dan mereka akan minta maaf jika orang itu berpengaruh dan diatas mereka.
Setelah berlalunya semua keluarga Rayanza saat itu juga Syera dan kedua orang tuanya lalu kakek nenek Alarico dan kedua orang tua Alarico.
"Sekarang kalian berdua harus di sahkan." Suara kakek seakan terdengar begitu mantap dan tegas tapi, sontak Syera dan Alarico menoleh ke arah sang kakek yang terlihat dengan santai mengangkat cangkir tehnya dan menyeruputnya sedikit dengan tenang.
"Enggak!"
Alarico dan Syera serempak menjawab cepat.