
Bang Raka menatap kedepan membuka dua kancing atas kemeja hitamnya dan kancing jasnya.
Bang Raka melepas kaca matanya dan menyimpan di tempatnya seketika mengambil air minumnya. Seketika itu wajah tampan bak dewa Yunani pahatan sempurna begitu indah di sekitar hidung dan lekuk rahang. Wajah putih bersih dan rambut hitam kemerahannya karena warna alaminya.
"Lo boleh balik, kerumah lagi kayak biasa tapi, Lo harus nurutin mau Papa," ucap Bang Raka santai sambil memainkan ponselnya.
"Bang !" Rasanya Alarico ingin mengumpat didepan wajah abangnya dan ketika akan keluar membuka pintu mobil karena sudah malas seketika Bang Raka berdehem.
"Mommy memburuk, Mommy nangis tiap malem mikirin Lo Mommy bahkan gak mau makan Mommy mau gue suapin makan tapi, gak banyak dan setiap hari mohon gue buat nyari lo dan minta lo tinggal sama gue. Gue bahkan buat semua orang tua temen-temen lo yang waktu itu lo bully di kelas, tenang... Mereka juga gak akan nuntut atau ngelabrak lo karena lo buat anak mereka sampe segitunya, Sekarang permintaan Mommy kalo Lo mau denger," jelas panjang lebar dan mengatakan alasannya yang menyangkut ibu mereka, istri kedua ayah mereka. Seketika juga Raka menjelaskan tentang kejadian di kelas. Alarico seketika itu menutup kembali pintu mobil terkejut sedikit.
"Lo tahu bang," ucap Alarico masih tak percaya tapi, tatapan Alarico tetap datar menatap abangnya yang bergeming dengan ponselnya.
"Gak semua tapi, hampir semua kelakuan lo gue usahaain gak sampe kuping papa, kalo sampe kuping papa otomatis Mommy juga bisa tahu." Jelas Bang Raka lagi dengan wajah datar masih menatap ponselnya.
Tiba-tiba bang Raka menghela nafasnya dan meminta sopir menjalankan mobilnya.
"Lo sekarang mau dengerin alasan tentang permintaan Mommy atau enggak?" Bang Raka sangat bisa membuat Alarico terkendali, Walaupun tidak selali tapi, Bang Raka bisa.
Beruntung waktu itu Raka langsung menarik adiknya masuk dan memukuli Alarico dengan berutal karena kesal dan setelahnya langsung di obati dan meminum segala macam sirup kesehatan dan buah apapun juga memberikan makanan yang banyak.
Intinya Raka memang keras pada Alarico, sayang pada Alarico tapi, jika marah dan kesal setelahnya Raka langsung mengobati Alarico. Walau sudah kuliah pun kelakuan Alarico tidak ada benarnya.
Kelakuan tidak ada benarnya menurut kedua ibunya dan ayahnya.
Alarico mengangkat wajahnya menatap abangnya yang menyandarkan punggung dan leher di sandaran mobil.
"Apa bang?" ucap Alarico memelan dan itu terdengar sangat lucu di telinga abangnya.
Bang Raka berusaha tetap tenang dan Cool di depan Alarico.
"Permintaan Mommy minta lo nurut sama Papa apapun keputusan papa, kalo lo punya pilihan lain Mommy harap Lo bisa bilang secara baik-baik Mommy mau liat Lo sama papa akur," ucap bang Raka sesuai apa yang ibu mereka, istri kedua ayah mereka katakan.
"Gak bisa bang maaf, Kalo buat itu gue gak bisa ngelakuin dan nurutin permintaan Mommy, Gue gak mau sama Papa yang gak mau jujur sama anaknya bahkan ngelakuin semuanya sendiri, Gue gak mau, Kalo tetep maksa nikah sama Salsa, Gue juga gak segan buat keputusan papa itu jadi jelek," ucap Alarico menggebu kesal lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi mobil sama persis apa yang di lakukan abangnya.