
Sang ibu yang melihat putranya di pojokkan terus tak bisa diam tapi, Raka mencegahnya menggeleng pada sang ibu untuk tidak membantu Alarico karena Sang ayah dan Alarico yang punya urusan.
"Mommy gak boleh ikutan, Inget kesehatan mommy bisa Down kalo sampe Mommy turun kesana." Jelas Raka seketika tangan Sang ibu lebih erat mencengkram tangan putranya, Raka.
Salsa dan kedua orang tuanya diam saja mereka berusaha menahan malu mereka karena menyaksikan ini.
Alarico menatap remeh Salsa.
"Papa bilang lebih baik Salsa di banding Syera. Itu menurut PAPA! Tapi, Al lebih baik Syera dan Mommy karena mereka berdua tahu Al gimana dan mereka gak lebih baik dari Papa kandung Al sendiri," ucap Alarico seketika sang ayah sudah tidak bisa mentoleril ucapan sang putra kelewat batas dimana membuatnya malu dan membuat istri ketiganya ketakutan.
Tamparan keras seketika mengejutkan satu meja dan itu membuat Salsa langsung berdiri.
"Om jangan pukul Al, Al gak salah karena Al ada benernya," ucap Salsa seketika itu menatap semuanya termasuk wajah terkejut kedua orang tuanya Syera dan juga Alarico.
"Maaf saya lancang karena ikut campur dalam obrolan kalian tapi, Saya membenarkan ucapan Alarico karena ia tidak tahu, dan Om kenapa tidak cari tahu jika Alarico memiliki pasangan atau belum, Saya dan kedua orang tua saya mohon maaf atas kehadiran kami yang membuat om dan Al kurang nyaman untuk saat ini, Kami mohon pamit," ucap Salsa dengan berani tapi, Sang ayah dari putri yang baru saja menyela perkelahian antara ayah anak laki-laki tak bisa mendukung ucapan sang putri tapi, dari perkataannya ada benarnya.
"Bukan begitu nak, Mari kita selesaikan sekarang..." ucap sang Mama menatap keluarga calon besannya.
"Maaf Jeng Leni," ucap seorang ibu yang putrinya merasa di kecewakan di depan satu orang asing.
"Tunggu," suara Alarico memberi mereka kesan mendadak dimana perasaan Salsa kembali terbang ke langit. Salsa mungkin bisa di bilang berharap tapi, Salsa harus bagaimana.
"Maafkan aku untuk hal ini," ucap Alarico.
Alarico memberi jeda seluruhnya menghirup nafas lega dan duduk kembali dan menyantap sajian di meja makan walau terasa seperti sangat tak enak.
"Al belum siap buat melanjutkan hubungan Al sama Salsa karena Syera adalah Orang yang ada didekat Al dalam waktu cukup lama walau tidak terlalu dekat sebagai sesuatu yang terikat," ucap Alarico sedikit pelan.
Syera diam saja tangannya tak bisa menyuap makanan ke dalam mulutnya.
Syera masih belum bisa bergerak sesuai keinginannya dan banyak sekali pikiran di kepalanya membuat Syera sangat tak berselera.
Tanpa Syera sadari jika Salsa dan kedua orang tuanya sedikit dan kadang melirik ke arah Syera yang duduk di samping Alarico.
Alarico melirik Syera sedikit dari pantuan piring kramik itu.
Ayah Alarico mengangguk dengan rasa tak nyaman dan malu di hadapan kedua orang Salsa.
"Mari saya akan mengantar sampai depan," ucap sang mama dari putra yang membuat mereka malu.
Ketiganya tersenyum canggung mengangguk dan pergi bersam melangkah jauh dari meja makan.
Setelah tinggal Alarico dan Syera lalu tatapan tajam dari sang ayah dan juga Tuan rumah bagi Syera yang merasa jika dirinya terus masih merasa asing sejak pertama kaki kanan melangkah masuk hingga di detik dan saat ini masih sama.
"Nak, bisa kamu menjauh dari putraku, Aku sangat tidak enak dengan kamu yang mendengar semua ucapan tadi dan perkelahian yang tak layak jika kamu mendengarkannya." Penjelasan sang Tuan rumah dengan nada datar sejak tadi yang dan pertama kali menyapa Syera tak berubah.
"Ma-maaf Om saya..."
"Al juga bisa menjauh dan turun jabatan dari perusahan yang selama ini papa kasih buat Al sama Bang Raka kelola, Atau melepaskannya," selaan Alarico sebelum Syera selesai bicara.
"Al," bisik Syera yang merasa jika sikap Alarico akan memancing keributan lagi.
"Salsa.. Lo jangan pergi sama orang tua lo. Yang harusnya pergi dari sini itu gue sama Syera. Permisi!"
Alarico menarik Syera dengan kasar membawanya keluar menjauh dari tempat yang Alarico sebut neraka.
Pembatalan perjodohan secara baik-baik gagal karena emosi yang terlalu besar.
"Jika Kalian sama-sama menyukai dan tidak bisa untuk... Tidak masalah Kalian bisa bersama tapi, Alarico kamu harus bisa memilih dengan cara dewasa tidak ribut-ribut seperti tadi nak," ucap snag ibu sambungnya.
Syera semakin tak enak hati. Tangan Syera seketika memegang tangan Alarico.
Alarico sekejap beralih pandang pada Syera yang gemetar ketakutan.
Alarico malas mendengar ucapan yang keluar dari Sang ibu sambungnya.
"Saya tak minta pendapat anda, Jangan pernah menyarankan apapun pada saya."
Seketika deheman keras membuat Al mendengus kesal.