Alarico

Alarico
Tiga puluh Lima



Alarico bergeming menatap layar laptopnya.


Tama terdiam sebentar seketika mengatakan apa yang ia dengar di restoran cepat saji dengan apa yang Syera dan dua temannya ucapkan.


"Syera juga bilang dia kek gak mau di bantu padahal Dinda menyarankan buat minta bantuan lo tapi, Syera orang terlalu berperasaan dia gak mau ngerepotin lo katanya juga masalah lo lebih besar dari dia tapi, gue masih ganjel ama apa yang Syera bilang ketemen-temannya tapi, gue gak terlalu mau tahu lebih jauh. Lo juga gak mau ambil pusing karena urusan Syera yang Syera Lo gak ada hubungannya."


Tama menjelaskan dengan wajah datarnya.


"Iya.. bener," sahut Alarico santai.


"Lagi pula kalo Lo tahu siapa yang di jodohin sama Syera lo mau bilang apaan," ucap Tama lagi seketika Galang dan Soleh menatap Tama.


"Siapa Tam?" ucap Galang dan Soleh.


"Rayanza. Dia bakalan nikah sama Rayanza juga dalam waktu dekat dia juga katanya Ngedoain Lo supaya cepet nikah sama Salsa."


Tatapan maut Galang dan Soleh menatap Tama. Tama tak perduli.


Seketika panggilan vidio terputus oleh Alarico sendiri. Galang dan Soleh menatap apa yang Alarico lakukan. Tama mengedikkan bahunya dan kembali melanjutkan mengerjakan tugas banyaknya yang sudah menumpuk padahal batu dua hari tidak di tengoknya.


"Tama lo kok bilang gitu ke tu bocah," ucap Soleh tak terima.


"Tama.. Lo Tahu masalah Mommynya sensitif apa lagi Salsa sengaja di sandingin sama Mommynya dia tambah sensitif lagi lah."


"Gak tahu gue ngomong apa adanya lagi pula gue gak sadar ngomongnya."


Apa dengan mudahnya Pratama Satria bilang dengan mudahnya mengatakan tidak apa-apa, dan tidak sadar emang cuman Tama yang berani kayak gini ke Alarico.


Seketika Tama berdiri dari duduknya.


"Gue mau cabut nemenin Fauzan tanding motor sama anak Tiger Lo ikut kagak," ucap Tama.


Padahal mereka bertiga ada di markas Endless cave. Tapi, tetep Vidio call ya.


Didalam kamarnya Alarico duduk diam termenung tidak juga tidak termenung terlalu dalam tapi cukup untuk berpikir jernih sekarang.


'Gak akan ada kata penolakan buat mommy yang minta.


'Syera juga di jodohin ama Rayanza tapi, dia gak mau minta bantuan gue.


'Lah kalo selalu gak enakan gini gue juga bisa apa apa gue juga harus cuek


Cewek kayak Syera gaka akan ada duanya dia hanya satu di dunia ini.


Tapi, perasaan Mommy gak akan pernah terbentuk lagi kalo gue nolak semua hal tentang kebahagiaan yang mommy pikir itu bakalan buat aku bahagia. Kenyataannya gak sama sekali,' batin Alarico sambil memejamkan mata menghela nafasnya bersandar pada kursi kerjanya.


Setelah hujan pasti akan ada jejak air yang di tinggalkan. Setelah panas pasti akan ada jejak gersang yang di tinggalkan.


Sudah lama menuruti semua perkataan ibu apa mungkungkin menentang sekali membuat jejak sedih di hatinya.


Alarico sangat pusing memikirkannya tapi, jika di teruskan Alarico memaksakan kehendaknya sendiri. Kenapa? Kenapa semua harus Alarico Bang Raka ada kenapa gak bang Raka aja.


Dasar emang sang ayah yang mencari perkara masalah dengannya.


Syera?


Alarico gak akan mungkin bisa dengan perempuan seperti Syera. Rayanza memang pantas.


Tunggu, Seketika ingatan Syera muncul di kepalanya.