
Alarico dan Syera melangkah bersama memasuki rumah sakit di belakang mereka Raka tak lama Anya datang bersama Mama Leni karena ada sesuatu jadi Anya keluar sebentar ternyata waktu kembali bersamaan datangnya Syera dan Alarico.
Langkah mereka berdua berhenti di sebuah ruangan dan Syera tetap memegang tangan Alarico jujur Syera juga mau menangis tapi, ia tidak tahu bagaimana menghentikan perasaan haru padahal ia tak mau menangis.
Anak mana yang tak sedih saat melihat orang tuanya yang paling ia cintai terbaring dengan banyak Alat mengelilingi tubuhnya termasuk detak jantung yang terus melemah.
Apa Tuhan salah menjauhkan mereka?
Apa sang anak harus menyukai hal ini? Ini semua paksaan! Alarico sama sekali gak suka paksaan tapi, kali ini ia harus menerimanya.
Di paksa lepas dari sang ayah karena keinginannya menjauh karena sang ayah menikah dekat dengan ibu setelah beberapa tahu sampai menikah ibu bertahan bersamanya, kali ini ibu sungguh pergi darinya.
Alarico tak akan bilang ini hal yang tidak wajar tidak! Justru ini hal yang sangat membuat Alarico terpaksa.
Kenapa mereka? kenapa Alarico? kenapa hari ini? dan...dan ibu?
Syera tak bisa mendengar suara tangis Alarico semakin dalam, Syera berusaha menenangkan dengan mengusap bahu Alarico.
Seketika Syera tersenyum.
"Al..." Suara lemah dan sangat pelan terdengar.
"Mommy kenapa... apa mommy mau pulang kita pulang Mom, Al bisa urusin mommy di rumah Al janji gak ninggalin mommy lagi Al janji... Bener-bener gak keluar gak ngerokok gak main sama temen-temen buat urus mommy Al juga bakal bawa mommy jalan-jalan, Mommy pasti suka, iyakan Mom Al pasti akan jadi anak mommy buat..."
Gelengan sang ibu menghentikan ucapan putranya. Syera tersenyum saat sepasang mata itu menatap nya.
"Sayangin anak mommy ya Nak, Mommy gak bisa..."
Syera menarik Alarico yang mengamuk pada perawat yang mau memberikan bantuan medis terakhir pada ibu.
"Al.. tenang..." Alarico tidak bisa bersiam diri saat sang ibu terbujur kaku dengan kain putih yang tiba-tiba menutupi seluruh tubuhnya.
Alarico marah menangis tak bisa membuat sedikit emosinya lebih terkendali.
Di pemakan semuanya berkumpul hari berkabung yang mendalam untuk Alarico, Syera yang ada di sampingnya pun tak bisa membuat Alarico tenang saat itu semua hanya diam dan saling mengendalikan emosi mereka Alarico terus menghapus air mata yang keluar walaupun dia sudah memakai kaca mata hitam.
Alarico tak mau pergi saat semua orang pergi perlahan berkurang. Tinggal Raka Anya dan teman-temannya.
Syera menatap teman-temannya dan mengangguk di paksakan senyum.
"Al.. kita balik," ucap Tama. Alarico mengangguk dan perlahan semuanya pulang tinggal Raka dan Anya di dekat mereka.
"Kalian pulang sebentar lagi hujan," ucap Raka lalu berbalik pergi sambil merangkul sang istri, Anya.
Alarico tiba-tiba mengusap nisan sang ibu dan kembali terdiam.
"Al... Kita pulang," ucap Syera sangat lembut.
Seketika Alarico menepis tangan Syera di bahunya Syera pertama kali mendapat perlakuan kasar walaupun itu hanya tepisan tangan biasa. Syera bahkan tak membuat Alarico terganggu.
Alarico berdiri dari jongkoknya dan berbalik tanpa memperdulikan Syera. Saat sampai di mobil Syera sedikit tersandung yang membuat alas sepatunya tersangkut ranting saat menarik ranting dari kakinya Mobil Alarico sudah melaju pergi. Syera menghela nafasnya dan berjalan kaki keluar area pemakaman yang sepi dan luas.