Alarico

Alarico
Enam puluh satu



Syera menatap nyalang juga terkesan ketakutan karena kedua tangannya waspada sekali sampai memegang meja dan satunya memegang kursi.


"MAU APA LO!"


Alarico memberikan isyarat untuk Syera menutup mulutnya diam memelankan suaranya.


"ALARICO!"


Menghela nafasnya percuma karena Syera suaranya sangat keraras dan cempreng. Alarico memajamkan matanya sebentar dan membuka pintu kembali lalu melebarkannya. Sekarang Syera masih dengan pakaian rapi, untuk pergi keluar. Alarico dengan kaos Hitam dan celana Cinos pendek selutut memperlihatkan kakipanjang dari lutut ke bawah terdapat banyak rambut kakinya.


Baru pintu terbuka Syera langsung berlari tapi, tepat berhenti saat Alarico menghalangi Syera dengan tangannya.


"Diem dulu, gue yang ngomong," ucap Alarico datar kelewat tegas. Syera terdiam mundur beberapa langkah.


"Lo duduk!"


Syera tak duduk dan tetap berdiri tidak melakukan apa yang Alarico perintahkan.


Syera terdiam menatap Alarico dengan tajam.


"Enggak mau!"


"Lo mau keluar gak?"


Seketika Syera duduk takut dengan mata tajam Alarico dan suara basnya yang mengintrupsi dan seolah patuh Syera duduk di kursinya.


"Lo tahu masalah kemaren itu besar dan lo tahu tindakan kemaren bahaya, Lo juga sadar kalo lo itu dalam masa isolasi yang mana lo gak bisa kemana-mana kalo pun lo harus berhubungan dengan orang luar Lo harus pake komunikasi lain Gak bisa sembarang."


Terangnya dengan nada menekan gemas dengan Syera yang tak mau diam dan bertahan sampai waktunya selesai.


"Yah.. Curang Al! Lo bisa keluar sana keluar kesini, Lah gue Al.. gue gimana Gue juga mau keluar tapi, gak bisa Alesannya banyak bahkan pengawal didepan aja gak nganggep gue ngomong padahal gue minta izinnya baik-baik loh," jelas Syera memperjelas apa yang ia lakukan selama ini dan dia inginkan selama ini.


"Maaf Syera, Gue serius kali ini Lo gak bisa keluar tempat aman lo cuman disini dan kalo pun lo harus ketemu temen-temen lo suruh aja mereka yang kesini dan Lo bilang sama gue, Ngerti Syera Alina!"


Alarico berusaha sabar sekarang di tiga kata terakhirnya Alarico menekan dengan sangat tegas untuk Syera mengerti dan paham.


"Tapi, Al... gue gak mau.. Gue mau keluar, Ayolah Al!"


Seketika dari tangga Ibunya Alarico melihat Alarico putranya berdiri didepan pintu kamar Syera.


Sang ibu yang merasa penasaran pun menghampiri putranya.


"Ehm.. Sayang, Syera." Menatap keduanya dan menyentuh bahu Alarico dengan pelan.


"Ada apa ini?"


Syera mengangkat wajahnya saat mendengar suara seorang yang sang lembut karena Alarico tak mungkin, ternyata ibunya Alarico.


"Tante," ucap Syera seketika menghela nafasnya dan meletakkan kepalanya di atas meja wajahnya menatap ke bawah dan dahinya menempel pada pinggir meja.


"Kenapa nak?" Ibunya Alarico semakin bingung sikap Syera semakin lesu dan malas-malasan.


Alarico menghela nafasnya dan berbalik pergi. Seketika itu sang ibu menatap putranya yang berbalik pergi begitu saja. Sang ibu yang bingung dan semakin penasaran juga tidak mau bertanya pada Syera.


Alarico naik keatas kamarnya dan tak lama turun lagi dengan celana dan jaket hoddie putih.


Turun tangga langsung bertemu sang ibu.


"Alarico pamit Mom, Nanti kalo bang Raka dateng bilang Al keluar sama Syera nyari buku mata kuliahnya Syera, " ucap Alarico mencium tangan ibunya dan pamitan.


Sang ibu bingung dengan sikap putranya.


Melangkah kekamarnya Syera Alarico mengajak Syera keluar.


"Ayo, gue anterin lo jangan kelamaan," ucap Alarico pada Syera seketika itu Syera menoleh menatap Alarico wajahnya masih malas tapi, Alarico yakin jika wajahnya sangat senang.


Alarico terdiam. Lalu berbalik pergi tiba-tiba.


Syera berpamitan pada ibunya Alarico dan berbalik pergi mengikuti punggung Alarico yang mulai berjalan lebih cepat didepannya. Wajah Syera tersenyum senang.


"Akhirnya keluar Yaahuu.. Yes yes!" bisiknya pada dirinya sendiri.