
Raka datang saat Syera keluar kamar mandi dengan pakain lengkap.
Melihat Bi Jum bicara dengan seseorang di sofa ternyata Bang Raka.
Syera mengangguk menatap Raka, abang iparnya dengan anggukkan.
Syera terdiam dan duduk didepan Raka.
"Kamu kasih tahu Al pelan-pelan kalo sampe dia ngamuk, abang ada di belakang kamu," ucap Syera makin bingung.
"Bang kasih penjelasan yang jelas bang," ucap Syera pelan.
Bang Raka menatap menghela nafasnya pelan dan menceritakan apa yang ia tahu.
Syera meremas ujung kemejanya. Syera mulai berdiri pelan terpaksa senyum pada Bang Raka tapi, dalam hati jujur Syera kaget. Berbalik melangkah santai berpura-pura tak ada yang terjadi saat akan melangkah naik keatas tangga Alarico terlihat turun sambil memainkan ponselnya.
Pakaiannya terlihat akan keluar lagi.
"Kamu mau kemana?" Syera bertanya dengan sangat pelan.
"Bang Raka bilang ajak pergi," ucap Alarico seketika sampai di tangga dasar terakhir dan berdiri di samping Syera.
Alarico melihat air mata Syera jatuh.
"Lo nangis, Ra.. kenapa? Lo nangis kenapa?" Syera tersenyum menghapus air matanya menggeleng dengan kedua tangan Alarico memegang pipinya.
"Enggak Aku gak papa..."
"Al.. Aku mohon kamu yang sabar kamu harus ikhlasin mommy buat tenang ya..." Alarico kaget melepas pegangan tangan pada pipi Syera dan tak sengaja melihat Bang Raka di sana duduk.
"Enggak bisa Ra! Lo kalo bercanda mikir-mikir inj gak lucu!" Alarico membentak didepan wajah Syera .
Ini gak percaya, sama sekali Alarico gak percaya.
"Al... Diem, tenang Liat aku aku belum selesai ngomong," ucap Syera.
"Mommy Memburuk kondisinya Mommy gak akan lama sekarang Mommy keritis kamu harus sabar kamu harus kuat aku akan jaga kamu," ucap Syera pelan memegang kedua tangan Alarico.
"Mommy pasti lebih baik kalo kamu ikhlas dengan cepat Mommy mau kamu selalu bahagia, Mommy minta kamu selalu senyum, Permintaan Mommy supaya kamu gak akan pernah tahu kalo penyakit langka Mommy udah sepenuhnya nguasain tubuh mommy," jelas Syera di barengi air mata dan tarikan ingus dan mata merah air mata yang berulangkali di usapnya.
Enggak!
Enggak mungkin!
Detik ini hari ini kenapa semuanya gak ada yang baik sama Alarico kenapa.
Seketika Alarico melepaskan pegangan tangan Syera dan menghampiri Raka. Menarik kerah baju Raka dengan kasar agar berdiri didepannya.
"Kenapa Bang Kenapa Lo gak bilang," ucap Alarico sangat marah kenapa semua menyembunyikan darinya.
Lalu Syera kenapa Syera juga ikut-ikutan berbohong padanya.
"Al.. Tenang...liat.. aku disini tenang... gak ada yang gak sayang kamu, liat Al aku disini Aku yang akan sayang sama kamu liat!" Alarico melepaskan cengkraman di kerah abangnya dan menatap Syera.
Air mata yang jatuh kebawah lantai wajah tertunduk lesu dan suara nafas tak terdengar baik Syera langsung memeluk Alarico dan membiarkan bajunya basah dengan air matanya.
"Enggak.. enggak boleh Ra... mommy gak boleh pergi Ra, Gue sayang mommy gue pengen Mommy selamanya sama gue Ra... Gak ada yang boleh ambil mommy termasuk penyakitnya."
Syera terus mengusap punggung Alarico dan menenagkannya, melepas pelukannya dan menatap wajahnya, Syera memegang kedua pipi Alarico sekarang tenang! Syera menatap Alarico dengan tersenyum dan perlahan Alarico mengangguk lucu.