Alarico

Alarico
Sembilan puluh enam



Alarico menatap datar orang yang baru saja di tembaknya. Saat itu juga Alarico melepaskan beberapa tembakan dan membuat pistol itu berantakan dan membuangnya ke sungai di sampingnya.


"Al!" Suara Bang Raka membuat langkah Alarico berhenti saat itu juga lengah dan seketika pisau hampir merobek dadanya. Alarico yang lengah tetap bisa sigap menahan pisau belati berukuran panjang runcing itu.


Darah dari telapak tangannya keluar begitu banyak dan tatapan mata tajamnya sangat mengintimidasi lawan.


Seketika itu Raka menarik adiknya dan memeluknya, membuang pisau panjang itu, Alarico tiba-tiba lemas di pelukan abangnya, dan dua anak buah saat itu juga langsung menarik mundur lawan Alarico, saat satu anak buahnya Raka membantunya membawa Alarico ke mobil.


Saat Raka pergi dengan mobilnya, tiga anak buahnya mengurus orang-orang yang hampir adiknya habisi.


Di dalam mobil Alarico terdiam dengan tatapan kosong wajahnya pucat lemas dan tangannya berlumuran darah.


Sampai di rumah Syera langsung melangkah keluar saat Alarico di bopong Bang Raka masuk.


"Di sofa aja Bang," ucapnya seketika itu Bang Raka membaringkan di Sofa dan menatap wajah adiknya.


Tanpa mengatakan apapun Raka pergi dari rumah tapi, Salam tak ketinggalan dan Syera menjawabnya.


Bi Jum dan Syera membersihkan Alarico dan juga Syera mengobati kedua telapak tangan Alarico yang berdarah. Seketika Syera menatap wajah Alarico.


"Kamu baik-baik aja kamu gak akan sedih kalo kamu biasa bangkit Al," ucap Syera sangat pelan dan sedikit berkaca-kaca.


Usapan tangan lembut mengusap pipi Alarico.


sedangkan wajah tampan dan mata terpejam itu masih terus tak memperlihatkan jika ia akan sadar.


Pagi datang waktu subuh Syera selesai sholat dan melihat ke samping di atas kasur didalam kamarnya bersama Alarico yang masih betah tidur di bawah selimut. Semalam Alarico sadar dan langsung bangun dengan langkah sempoyongan Alarico memilih jalan sendiri tak mau Syera bantu. Syera memegang tangannya pun di tepis kasar.


Syera mengikutinya dari belakang. Sekarang waktunya Sholat subuh Alarico masih betah tidur.


"Al.. bangun yuk subuhan!" Syera menggoyang pelan lengan Alarico dan saat bangun Alarico langsung duduk dan pergi ke kamar mandi.


Rasanya aneh Alarico mendiaminya, Syera memakluminya dan memilih untuk turun ke bawah bersiap dengan sarapan.


Saat masaknya selesai Syera tak melihat Alarico keluar kamar dan saat langkah kaki menaiki tangga Alarico keluar kamar dengan kaca mata baca dan membawa dua dokumen.


"Kamu mau kemana? Kok kamu belum ganti mau mandi dulu pake air anget?" Tak ada jawaban deheman pun tak Syera dengar. Alarico pun melewati Syera begitu saja dan Syera berbalik mengikuti punggung Alarico yang terus berjalan pergi.


Syera menganggukkan kepalanya dan kembali ke kamar saat melihat ruang kerja Alarico berantakan Syera merapikan tak lupa memberi makan ikan akuarium yang sering Syera lakukan karena Alarico selalu lupa. Saat berganti meletakkan wadah makanan ikan hias Syera menyenggol bingkai foto di dekat wadah makanan ikan hias.


Foto dengan dua perempuan cantik dan ada lembaran foto berikutnya. Ada foto Syera juga dan saat meletakkan lembaran cetakan foto kedalam laci Tatapan mata Syera tanpa sadar melihat fotonya saat menjadi pengantin dan Alarico yang menatap keluar jendela. Syera juga waktu itu menatap keluar jendela dan Foto di sandingkan seperti sedang saling memandang.


Senyuman di wajah Syera tak bisa di tahan saat mengangkat kedua foto Syera terkejut dengan kedua lembar foto yang jatuh dari belakang bingkai.


"Ini bukannya Salsa tapi, kenapa mirip sama perempuan waktu itu... eh.. iya Anissa, Ini Harisya, mereka pernah satu sd dan Ini Tk," ucap Syera lalu kembali merapikan dan pura-pura tak melihat apapun di ruang kerja suaminya.


Saat membersihkan laci di belakang lukisan alam didepan ruang kerja diatas sofa. Syera melihat ada tumpukan kotak dan itu sangat berdebu.


Syera penasaran dan membukanya.


Setelah selesai membereskan kamarnya Syera pergi ke kamar sang mendiang ibu mertua.


Masuk ke dalam kamar Syera merasakan hawa yang begitu dingin Syera beralih membuka horden dan mulai membereskan semua barang termasuk mengganti spari dan horden.


Bi Jum datang memebawa alat bersih bersih.


Ada pelayan lain dan Syera menunjuk bak cucian kotor.


Saat Syera akan melangkah keluar kamar lalu turun tangga Syera melihat Alarico datang dengan perempuan sama, yang namanya Anissa.


Seketika tatapan mereka bertemu.