Alarico

Alarico
Delapan puluh empat



Di bandara internasional tanah air Alarico datang dan menjemput Anissa yang baru datang. Saat itu juga Anissa terlihat Alarico langsung mendekat.


"Lain kali lo gak bisa gini sa.. Gue gak bisa dan harus orang lain yang jemput lo, gue udah gak bisa."


Anissa terdiam dengan ucapan Alarico niat hati ingin memeluk dan melepaskan rasa rindunya dengan Alarico malah gagal dengan ucapan Alarico yang terdengar tak menyenangkan di dalam hati Anissa.


"Gue kan minta tolong lagian mommy Daddy gue sibuk kalo bukan sama Lo sama siapa, Oiya.. Btw Lo gak jadi nikah sama Kak Salsa bisa dong gue pake tempat itu buat gue," ucap Anissa tak tahu kalo lelaki didepannya sudah ada pemiliknya.


"Siapa gue.. Siapa yang bilang?" Alarico menatap Anissa.


"Asistennya Mommy dan Kak Salsa sedih banget di tambah dia juga harus tinggal sama Mommy deddy di Roma gue di London sama Mommy daddy asuh mereka pulang kemarena dua hari lalu terus gue sekarang dan gue mau sama Lo beberapa hari di Indonesia lagian gue juga butuh nginjekin kaki di kota kelahiran gue kali," ucap Anissa sok akrab padahal Alarico sudah sangat malas rasanya anak kucing seperti Anissa ingin rasanya di masukkan ke dalam karung dan di buang ke tempat pembuangan anak kucing.


Syera masih menunggu Alarico sampai setengah sepuluh malam.


Di perjalanan Alarico banyak menghentikan mobil belum lagi macet dan juga Anissa yang minta berhenti.


"Makasih Al.. Lo udah mau ngajak jalan gue malem-malem." Alarico berdehem menjawab ucapan Anissa yang sedang tersenyum manis padanya.


"Gue masuk dulu makasih ya," ucapnya Lalu berbali turun dan pergi Alarico tanpa banyak bicara langsung pergi dari sana. Anissa terdiam saat Alarico sama sekali tak memberikannya kelakson. Alarico lebih dingin tak seramah dulu. Alarico menjauhinya apa mungkin? dalam pikiran Anissa begitu banyak pikiran tentang Alarico dan perubahannya.


Di dalam rumah Syera mendengar suara mobil Alarico dan saat membuka pintu ternyata Alarico sedang berjalan ke arah pintu. Syera langsung masuk dan naik keatas dengan cepat. Tapi, siapa yang lihat, hanya Alarico yang tahu kalo Syera berlarian di tangga. Syera langsung tidur dan pura-pura pulas.


Syera yang sedang ekting tidur seketika kaget saat pintu terbuka dengan suara kecil. Syera tatap meneruskan tidurnya. Alarico melangkah masuk ke dalam kamar dan langsung kekamar mandi lalu pergi mengambil baju ganti.


Alarico tak memakai atasan dan biasa tidur dengan celana panjang training atau dengan celana pendek training, kalo sekarang celana pendek training.


Bergabung tidur diatas ranjang yang sama. Ayolah ini bukan sekali dua kali, Syera bahkan lebih sering dan Syera sadar jika ia tak pernah melepas kerudungnya di depan Alarico padahal sudah sangat lama.


Alarico bahkan tak memintanya melepas karena Alarico tak ingin membuat Syera tak nyaman dengannya. Saat itu juga Alarico bergabung di selimut dan mendepat pada Syera yang masih berekting tidur menghadap arah Alarico.


"Maaf." Alarico sering mengatakan maaf Saat Syera tidur tapi, ini kata maaf pertama yang Syera dengar setelah beberapa kali Alarico bersikap kasar padanya padahal mah, Alarico setiap malam bahkan setiap tak mengatakan kata kasar pun sering meminta maaf tanpa alasan.


Tiba-tiba Alarico mengecup mata kanan dekat alis Syera dengan lama bibir itu menempel sampai akhirnya memeluk Syera.


Syera hanya pura-pura tidur tapi, apa yang ia rasakan sekarang sangat membuat tubuhnya bergetar hebat bahkan dadanya berdetak tak karuan semua rasa bahagia rasanya membucah.


"Maafin aku juga," ucap Syera pelan seketika Alarico tersenyum dan lebih dalam memeluk Syera memeberikan kehangatan di malam yang dingin dan walaupun bagian atas Alarico tak menggunakan pakaian, Alarico sama sekali tak kedinginan dan memeluk Syera adalah kehangatnnya.