
Sampai di markas seketika itu Alarico langsung melempar badannya ke atas sofa dan membuka ponselnya lalu memainkan game yang biasa dia mainkan, mengangkat satu kaki diatas sofa dan satunya di biarkan lurus mengantung menempel lantai.
Alarico tidur diatas sofa hitam dengan motif warna terang berbentuk persegi dengan kondisi Sofa sobek. Sobek juga masih bisa di pakai duduk karena sobek hanya sekedarnya sebagai variasi.
"Woy... Bang Tama di hajar anak tiger," teriak salah satu anak Endless cave.
Alarico seketika menendang meja kayu hingga jatuh bersamaan isi diatasnya suara berisik itu seketika membuat satu orang yang berteriak itu diam bersamaan yang mulai berbisik kecuali, yang tahu jika ada Alarico di markas Endless cave.
"Woy.. Biasa aja napa.. Berisik lo pada, Lo pada tahu Tama itu gak lemah," ucap Alarico seketika menatap semuanya dengan tatapan mata marah. Tak lama datang beberapa motor trail.
Tama juga ada disana Tama melangkah mendekat masuk ke dalam markas dan duduk seketika menyingkirkan kaki Alarico yang masih memanjang di sofa.
"Fauzan masuk Lo," ucap Soleh seketika wajahnya sudah mengeras.
"I-iya bang."
Galang masuk sambil menghempaskan jaketnya sembarangan dan hampir kena Alarico.
"Lo berhasil ngalahin mereka buat kedepannya Lo aja Zan tapi, kira-kira itu jebakan jangan beruntung Lo di jagain Tama kalo gak ada Galang di deketnya juga Lo udah jadi dendeng ama anak-anak tiger."
Soleh memberikan sekaleng bir pada Alarico Tama dan Fauzan.
Seketika mereka berbahagia seketika itu tatapan mata Galang terfokus pada meja kayu yang terbalik padahal menggeser meja ini saja sulit karena dari kayu jati dan tebal walaupun kecil cukup berat ini.
"Siapa yang nebaliki nih meja?" Tanya Galang dengan wajah bingungnya seketika itu Semua tatapan mata takut-takut menatap Alarico seketika itu juga Galang Soleh Tama menatap Alarico yang tetap bermain gamenya suara tembakan dari ponselnya sangat nyaring.
"Hahah.. Enggak kita kan cuman tanya iya gak," ucap Galang seketika menepuk pahanya dan berdiri di bantu Fauzan lainnya membereskan meja dan dan sampah di markas itu.
Tidak sangka jika Markas kotor.
Tanpa Alarico bilang kalo dirinya merasa sumpek karena Markas kotor.
Seketika itu Alarico bangkit saat yang lainnya sibuk bersih-bersih.
Alarico pergi tanpa mengatakan apapun pada ketiga temannya termasuk Tama. Hanya melirik Tama saja.
"Obatin luka Lo Tam," ucap Alarico langsung pergi lagi ke luar markas dan berpindah ke bawah pohon tiduran dengan santai diatas kursi santai sambil memainkan ponselnya.
Alarico tak pernah seperti ini kecuali dia yang sedang ada masalah Tama Galang dan Soleh menatap dari ke jauhan Mereka datang membawa kursi lipat yang bisa di bawa untuk kemping.
Duduk di samping Alarico dan memaikan ponselnya.
"Kita ikut maen bray," ucap Soleh dengan semangat.
Saat di permainan. Alarico menembak semuanya tak kenal itu kawan atau lawan. Permainan Alarico egois tapi, di sisi lain game Alarico duduk di tepi tebing Tama tak melakukan apapun dan hanya mengikuti Alarico memantaunya dari tempatnya.
"Gue ngerasa hampa gue bingung apa yang harus gue lakuin di rumah Salsa terus aja berusaha ngedeketin gue padahal gue udah berusaha jauh," Alarico menjatuhkan dirinya kedalam jurang dan berakhir kalah. Seketika itu Galang dan Tama bersama Soleh menutup permainannya di tengah jalan.