
Langkah yang terus melangkah tak tahu arah yang penting lurus, saat itu Syera melihat taksi tapi, lewat saja.
Niat mau pesan ojol ponselnya mati. Syera menghela nafasnya kasar dan saat terus berjalan Syera melangkahkan kakinya ke dekat pengkolan ojek, huuh beruntung masih ada ojek.
Minta tolong di antarkan ke alamat ini dan tukang ojek pun langsung mengerti mengangguk. Diantar dengan ojek biasa, Syera terpaksa karena tak ada kendaraan lain dan saat sampai di rumah Syera melangkah masuk setelah membayar ongkos pada Tukang ojek.
Saat masuk ke rumah Syera melihat mobil Alarico terparkir di garasi tapi, kenapa perasaan Syera tak nyaman.
Syera melangkah masuk ke dalam dengan cepat seketika itu melihat Alarico hendak menggunakan sesuatu yang berbahaya.
Syera langsung merebutnya dan membuangnya asal.
"Diam!" Bentaknya didepan wajah Syera.
Seketika akan memukul wajah Syera Alarico berhenti Syera melangkah maju dan memeluk Alarico seketika itu Alarico tenang.
"Jangan pake itu jangan minum obat itu, kamu gak sakit kamu sehat, Kamu Alarico... Alarico yang aku kenal gak akan ngelakuin ini semua," ucap Syera didalam pelukkan Alarico dan seketika Alarico melepaskannya dan pergi keluar dengan pakaian bekas pemakaman.
Syera menatap kepergian Alarico.
Seketika menelpon seseorang.
"Dia keluar, Hampir minum pil putih sama pake suntikan," ucap Syera di telpon. Seketika itu orang di sebrang sana langsung keluar dengan mobilnya bersama anak buahnya.
Syera mengambil obat-obatan dan semua barang yang di buangnya dan menumpahkannya di toilet.
Bi Jum mengangguk paham dan saat itu Bi Jum juga merasa sedih Bi Jum membiarkan Nyonya mudanya sendiri dulu dan juga paham akan Tuan mudanya tadi.
Bi Jum juga takut sebenarnya saat Alarico marah tapi, semua karena Nyonya mudanya, jadi Bi Jum hanya bisa berharap pada Nyonya muda yang baiknya sama seperti mendiang Nyonya besarnya.
Di tempat yang sepi bawah kolong jembatan adalah tempat dimana bangkai kontainer dan kereta di letakkan disana juga rimbun dengan pepohon walau tak ada jalan aspal tapi, jalanan tanah tak terlalu becek.
Alarico turun dari motornya dan melangkah mendekat pada mobil hitam Sport yang baru datang.
"Kenapa Al.. Lo bosen hidup, cepet amat Lo ngabisin barang dari gue," ucap orang itu dengan wajah berewok dan mata biru.
"B***sat... Kasih apa lo ke gue haah... Gue gak mau urusan sama Lo, Lo malah kiring gue barang itu!"
"Weezz.. santai.. Lo kalo ngomong yang jelas dong gue itu minta sesuai lo yang ngomong bahkan lo chat gue dan minta naro barang itu di mobil lo waktu pemakaman." Jelasnya seketika itu Alarico membogem mentahnya dan dua anak buahnya membalas pukulan Alarico.
Orang berewok dengan mata biru seperti orang asing itu tersenyum licik.
Alarico sibuk berkelahi sampai akhirnya wajah babak belurnya tak sia-sia membuat kedua orang itu terkapar tak sadar.
"Sekarang Lo!" Alarico mengeluarkan senjata dan menembak perut orang itu dua kali.
Syera di rumah langsung terkejut tiba-tiba suara gemuruh dan sesak didadanya datang bersamaan.
"Kenapa ini? Al?" Syera menghubungi Bang Raka dan tak ada jawaban saat menghubungi Alarico ternyata ada suara ponsel di lantai bawah Syera turun dan melihat, ternyata ponsel Alarico.