Alarico

Alarico
Tujuh puluh tiga



Syera melangkah pelan seketika melihat laptop dan casan ada di bawah tv atas nakas panjang Syera langsung mengambilnya.


"Al.. gue pinjem casan ya.. nanti gue balikin subuh maaf gue masuk kamar lo, Makasih Alarico lo baik dan ganteng," ucap Syera tanpa sadar memuji Alarico.


Tapi, yang di puji justru sedang berkelahi sampai babak belur dan terluka parah.


"Hahah.. Cuman ini kemampuan lo, dasar gak guna lo," ucap Rayanza seketika itu memekul Alarico bertubi-tubi dan memukul wajah Alarico hingga tidak bisa dikatakan baik-baik saja.


"Kenapa?" Rayanza menatap Alarico marah.


"Kenapa Lo... Kenapa Lo sama Syera kenapa bukan gue. Alarico gue kasih Lo Syera tapi, lo gak mau jaga dia," ucap Rayanza menguat seketika Alarico tersiam aneh mendengarnya.


"Apa yang Lo bilang, Kasih.. maksud lo apaan Hah!" Alarico lebih biasa berteriak lebih keras.


"Waktu Sma Syera pernah meratiin lo Diem-diem bahkan dia sering ngedeketin lo dan berakhir di di bully dan Lo bahkan yang sangking populernya Sma dulu, GAK TAHU KALO SYERA HIDUP DI SEKITAR LO BLOK!"


Rayanza bicara lebih tinggi dan berakhir memukul wajah Alarico lagi.


"Lo lupa, Sia yang udah bantuin lo waktu li kecelakaan di depan sekolah?" Rayanza mengingatkan kejadian tabrakan Alarico di depan Sma nya waktu itu.


"Dia.. Dia orang pertama yang liat lo bahkan gue orang pertama yang dia mintain tolong buat bawa lo kerumah sakit dan semuanya pengorbanan waktunya beberapa kali sempetin nengokin lo dari jauh bahkan dia sering liat lo sendirian dan minta tolong gue buat nemenin lo, Gue nolak! Karena gue suka Syera dan Syera milik gue, dan Lo gak bakalan bisa deketin dia," ucap Rayanza berteriak di semua katanya sampai suaranya terdengar keluar satadion yang beruntungnya sepi.


Alarico tersiam dengan posisi sulit berdiri karena pukulan dan juga keseimbangannya sedikit goyah dengan Alkohol.


"Kenapa? Lo marah sama gue, Gue bahkan gak tahu apapun Yan!" Alarico menarap Ranza marah.


Seketika membalas pukulan Rayanza lebih berutal.


"Tapi, keberuntungan karena gue gak jadi kasih bibit gue kedia sebelum dia kasih izin, beruntung juga kosleting listrik." Rayanza berucap sambil berusaha bangkit dari terkapar diatas kobangan air kolan yang hanya semata kaki.


"Ingetin gue kalo Lo udah gak suka dan Bosen gue siap nerima Syera walaupun itu dari Lo," ucap Rayanza lagi. Seketika Alarico menghajar Rayanza tanpa ampun tanpa jeda dan tanpa belas kasihan.


Mereka melihat mobil Alarico dan satu mobil lain dan beberapa orang yang hanya menatap mereka saat Tama dan lainnya datang.


Mereka masuk ke dalam stadion yang penerangannya hanya satu lampu dan itu hanya mengarah ke tengah lapangan.


Kaos putih dan jaket kulit serta celana jeans sudah basah dan bau lumut juga wajah rambut mereka basah bercampur bau amis darah dari perkelahian mereka.


Termasuk Rayanza.


"Al.. Udah Al.. Udah."


"Stop Al.. Lo gila Anak orang bisa mati... G*blok!"


Galang dan Soleh langsung maju menarik Alarico dan seketika itu Rayanza bangun dengan tubuh gemetar ketakutan dan saat itu juga.


Tama menatap Rayanza.


"Lo gak pernah tahu apa yang temen lo pikirin, Sekarang gue yakin buat ngelepasin Syera demi dia, dan pukulan ini," ucap Rayanza dengan wajah datarnya dan nafas tak beraturannya juga batuknya.


Tama bergeming di posisinya menatap Rayanza.


"Kenapa.. Lo lakuin itu Lo bisa mati Za!" Tama memanggil nama Rayanza walaupun cuman panggilan tapi, itu cukup mengejutkan hingga Alarico menepis pegangan tanga Galang dan Soleh di tangannya kembali menghampiri Rayanza tapi, saat itu Tama menahannya.


"Sekarang Lo yang pulang Al," ucap Tama membentak sangat galak. Alarico mendesah kesal dna marah lalu pergi dari sana dengan Soleh yang mengejarnya tapi, Galang menghampiri Tama.


Tama yang sadar Galang masih bersamanua melirik kesamping kearah Galang.


"Kita cabut dari sini, Ini tempat terkutuk!"