
Syera terdiam saat Alarico mengatakan hal itu tepat di samping kepalanya saat dahinya menempel bahu kanan Alarico.
"Syera lo denger gue kan," melemas terdengar suara Alarico Syera mengangguk dan dari gerakan dahinya menempel pada bahu kanan Alarico.
Tapi, apa Alarico dengar Syera? Tidak dengar sepertinya, Syera bahkan tak pernah memberikan suara untuk Alarico dengar walaupun itu suara yang singkat untuk apakah paham, Enggak sama sekali.
Alari menunggu waktu yang terlihat di lampu merah masih ada beberapa menit dan rasanya sangat Alarico nikmati.
"Ra.. Lo bosen sama gue," ucap Alarico tiba-tiba seketika jari tangan Syera bergerak sendiri mencubit perut Alarico yang bahkan tak bisa dan Alarico rasnaya seperti di gelitik.
Perut terlalu atletis tuh gini susah mau nyubitnya.
"Ngaco!"
Alarico tersenyum di balik helem ful facenya tak sangka di bagian ini Syera masih bisa terlihat sangat sama sebelum menikah dengannya. Alarico jadi geli dan semakin ingin membuat Syera gemas.
Jika Syera gemas Alarico tambah dan semakin ingin membuat Syera sampai wajahnya merah dan marah sungguhan. Kecanduan Syera! Itu salah satu akibat karena punya Syera yang orang gak bisa miliki selain Alarico sendiri.
"Al Aku buat kamu bosen ya?" Seketika ucapan Syera yang membuat jantung Alarico berdebar tak karuan terkejut bersamaan itu lampu kembali hijau.
Syera terdiam saat tak ada jawaban dari Alarico.
"Kenapa? Lo mau apa biar Lo gak ngebosenin?" Seketika Syera semakin rapat menutup mulutnya. Syera tak mau mendengar jawaban itu tapi, bibirnya terlanjur bicara.
"Gak ada yang- udahlah lupain aja apa yang aku bilang," ucapnya seketika menghindar.
"Ok," Alarico menjawab ucapan Syera seketika itu mereka berhenti pinggir taman Alarico memarkirkan motornya bersamaan motor lainnya dan Syera turun.
"Kenapa kesini bukannya kamu mau pulang, nanti kalo kamu ada urusan banyak gimana?" Syera bicara tanpa jeda membuat Alarico dengan santainya melepas helmnya turun dari motor dan memegang tangan Syera, bergandengan.
Sekejap semua waktu terhenti bagi Syera tapi, detik berikutnya Syera menarik tangannya.
"Ya Terserah." Alarico berbalik pergi meninggalkan Syera yang menatapnya menjauh seketika melangkah kan kakinya mendekat ke Alarico.
Tidak begitu juga, Sebenernya Syera senang tapi, gimana ya, kan Syera gak biasa pegangan tangan kayak orang mau nyebrang tapi, pahala juga udah halal. Pokoknya geli dan malu.
Alarico mengumpat dalam hatinya kenapa juga dia memegang tangan Syera walaupun gak masalah tetep tapi, itu buka Alarico yang melakukan tapi, tangannya sendiri. Alarico sangat malu, untung Syera menolaknya Alarico jadi tidak seberapa malu, Alrico suka sih tadi tapi, Akhg... gak boleh kayak gitu lagi malu-maluin.
"Al.. Apa suka ajak Cewek lain selain aku kemari?"
"Gak! Gue kesini sendiri terakhir kesini waktu bolos ekskul karate di kelas lima sd," ucap Alarico begitu saja seketika Syera menatap aneh beberapa mengedipkan matanya.
Gampang sekali Alarico bicara.
"Lo kenapa tanya gitu? Cemburu?" Alarico dan Syera berjalan santai bersamaan sampai Syera berdehem dan meremas tangannya di tali tasnya.
"Gak.. aku gak cemburuan orangnya, Aku udah nikah sama kamu kenapa aku cemburu, gak mutu!"
Alarico tersenyum terhibur dengan ucapan Syera wanita unik biasanya walaupun sudah menikah wanita lain tetep akan cemburu walaupun suaminya setia.
"Beneran Lo gak tipu-tipu gue? Gak masalah sih Lo cemburiii!" Alarico mulai bersikap aneh lagi Syera mendorong bahu Alarico.
"Gak usah kepeleset segala! Ngomong yang bener," ucap Syera galak.
"Iya.." Alarico enikmati dan sangat nyaman bersama Syera.
Tapi, kenapa waktu bersama yang lainnya Alarico mera gelisah takut dan khawatir jika Syera di sampingnya hanya ada rasa debaran dan senang berlebihan. Walaupun senang berlebihan Alarico tetep menutupinya dengan wajah yang datar.
"Ra.. Lo lebih dari segalanya, Jangan pernah diemin gue."