
Sang Ayah duduk di hadapan putranya di sofa yang di pisahkan meja kaca bening dengan kaki empat berwarna emas dan bagian lapisan pengaman meja adalah kayu.
"Lalu apa yang kamu mau, Ini pulihan terbaik, Salsa itu baik dia pasti bisa memahami kamu kalo kamu sedikit membuka hati, Orang tua Salsa adalah salah satu kolega papa yang bagus kinerja perusahaannya sampai bisa berkembang pesat," ucap sang Ayah dengan nada pelan.
Alarico menatap ayah tajam tanpa mau tahu jika yang didepan ayahnya.
"Oiya.. kalo gitu nikahin aja Salsa sama bang rama Pah," ucap Alarico dengan sangat santai.
"Gak bisa, karena Raka udah punya calon sendiri bahkan ia mai menikahinya dalam waktu dekat." Singkat Ayah berucap lalu menyeruput tehnya.
"Heh.. Kalo gitu Al juga gak mau sama perjodohan ini, bukan karena Salsa gak sesuai atau gimana sama apa yang Salsa lakuin, Al cukup punya keputusan sendiri buat hidup Al," katanya dengan sangat tenang bahkan kelewat tenang.
Sang ayah terkekeh.
"Kamu masih bocah bahkan kamu belum ada setahun masuk kuliah kamu sudah bisa mengambil keputusan, Kamu sering meninggalkan mommy kamu sampai pagi, pulang mabuk dan juga sering menginap di luaran selain di rumah sendiri."
Alarico terkekeh.
"Al suka kenapa, Papah gak suka, Ya itu beda Pah.. Papa punya istri tiga dan nikah saat Mommy masih hidup, Papah itu tahu gak haah.. Tiap Malem mommy demam ngeringkih sakit kadang Al tidur di kamarnya gak tidur di kamar Al sendiri, Papah tahu mommy selalu senyum saat keadaan badannya sama sekali gak sehat, Papa tahu gak.. Jangan bandingin Al sama Papa dong, Kita beda pah."
Seketika wajahnya menahan kesal tapi, hatinya senang. Katakan saja Angga senang jika Alarico, putranya sendiri semakin membencinya.
"Tapi, sekali lagi kamu gak biarin Salsa deket sama kamu Papa ambil Mommy dan semua fasilitas yang ada sama kamu," ucapnya mengancam putranya sendiri.
Sekarang Angga membuat Alarico diam seribu bahasa bahkan Alarico gak akan visa membuat alasan untuk tidak melakukan perjodohan dan saling membuka hati dengan baik.
"Ok.. Papa ambil Mommy ambil semua yang ada sama Al, Silakan Al gak akan nolak, Asal Papa jaga mommy baik baik," ucap Alarico.
Seketika berbalik.
"Sekarang mulai detik ini kamu gak akan bisa tinggal di rumah itu atau bahkan ketemu Mommy kalo kamu masih enggak mau nerima Salsa."
Alarico tersenyum terkekeh seketika mengeluarkan semua yang ada di kantongnya termasuk atm uang tunai ponsel dan juga kunci motor .
Alarico melangkah keluar dengan satai dari rumah itu berjalan kaki menuju tempat lain dimana rumah Galang berada.
Kali ini Alarico akan pergi ke rumah Galang.
Di rumahnya Galang barusan melakukan adu jotos dengan anak buah ayahnya.
Kali ini rumah hanya berisi Galang pelan dan para pengawal ayahnya. Jangan tanya dimana orang tua yang mengurus dan melahirkan karena jika ada yang bertanya lihat saja besok ia akan jadi makanan Singa liar di belakang mansion Galang.
Rambut gondrong nya berantakan. Beberapa rambut keluar dari ikat rambutnya keringat mengucur deras sampai terlihat jika Galang sedang mandi keringat tanpa memakai baju berlengan bahu dan sedikit bagian ketiak dan Dada terlihat bidang disana.