Alarico

Alarico
Tiga puluh satu



Di dalam perpustakaan Syera dan Salsa saling berhadapan.


Syeraencoba acuh saja membiarkan Salsa melakukan apa yang dia mau.


"Syera lo sibuk banget gak," ucap Salsa kini berbisik.


Syera mengangguk dengan tersenyum.


"Gue mau ngobrol sama lo sebentar," ucap Salsa.


Seketika menatap Syera dengan berharap Syera jadi tidak tega.


Jika menolak tidak mau bicara nanti Salsa kira Syera dan Alarico saling suka. Enggak Syera, Enggak mau di kita pasangan biang kerok kayak Alarico.


"Hehe... Sebentar lagi ya Sal, Gue selesain satu ini dulu, " ucap Syera pada Salsa yang mau menunggunya.


'Dasar polos dia mau aja gue ajak ngomong kenapa dia gak takut gue jailin ya,' batin Salsa menatap Syera dengan tatapan ramah dan bersahabat.


Alarico yang sibuk dengan urusannya menghadap Dosen kini selesai dan melangkah keluar ruangan Dosen bersamaan dengan itu Syera dan Salsa keluar dari ruang perpustakaan.


Syera menyadari Alarico tapi, Salsa belum Sampai mereka berjalan mendekat akhirnya mereka bertemu.


"Gue tunggu lo di kantin kampus," ucap Alarico pada Salsa.


Seketika itu Salsa melirik Syera.


Syera acuh dan pura-pura tidak tahu.


Merasa suasana canggung Salsa tersenyum mengangguk.


"Iya. Nanti aku telpon kalo aku gak sempet kekantin kampus Oiya.. aku pinjem Syera ya.. Aku mau ngomong sebentar sama dia," ucap Sala seketika itu Alarico berlalu saja tanpa mau mengatakan apapun.


Syera terdiam.


Salsa melirik Syera.


Sekarang mereka di taman selatan kambus samudra yang ramai anak-anak kampus duduk di bawah pohon diatas rumput untuk sekedar mengerjakan tugas atau membaca buku.


Syera dan salsa mengambil tempat yang ada kursi tamannya di bawah pohon.


"Gue gak tertarik cemburu," jawaban Syera membuat salsa kehilangan ide dalam sekejap ide untuk membuat Syera cemburu gagal.


"Kenapa.. padahal lo sama Alarico di belain lo semalem, ehm.. Sorry tapi, menurut gue cowok kayak Alarico itu langka," ucap Salsa mulai mengarahkan pembicaraan ke tempat dimana Syera akan marah perkiraannya.


Tapi, Salsa tak tahu apapun tentang Syera.


"Oiya. Tapi, gue gak merasa langka karena sang pencipta pasti udah siapin jodoh buat gue," jawaban Syera seketika membuat raut ekspresi sennag di wajah Salsa.


"Lo cewek paling cantik Syera.. Tapi, gue sama Alarico udah kenal lama bahkan gue pernah dianggep anak sama mommynya."


Syera tersenyum.


"Baguslah.. itu kemajuan besar buat hubungan kalian, gue doain lo sama Alarico cepetan nikah bahkan kalo bisa lo segera bahagia gue doain Lo nikah sama Alarico besok."


Salsa tersenyum lebar.


"Berarti bener Lo sama Alarico gak ada hubungan, makasih ya Syera, gue bakalan seneng banget."


Seketika Mereka berdua berdiri Salsa dan Syera saling bergandrngan kedua tangan saling memegang.


"Kalo Lo butuh sesuatu lo bisa minta gue," ucap Salsa.


Syera tersenyum mengangguk saja.


"Iya Sal.. terserah lo tapi, maaf ya gue harus pergi jamnya gue kerja part time hari ini gue mau berangkat, Salam gue buat lo nanti kalo lo lupa ngundang gue di acara nikahan Lo sama Alarico."


"Iyaa.. Syera." Salsa memeluk Syera seketika itu berubah raut wajahnya menjadi datar.


Syera melepaskannya dan berbalik pergi sebelumnya melambai.


Di kantin Alarico menikmati americano esnya dan ketika itu sebuah pelukan di lehernya oleh seseorang langsung Alarico lepas.


"Jangan sentuh gue, karena gue gak mau lo atau orang lain sentuh ngerti, Sekarang lo mau kemana kalo gak kemana-mana lo pulang sekarang ke Roma kalo bisa," ucap Alarico kasar.


Seketika Alarico pergi dengan membawa ponsel dan es kopi Americano nya.


Salsa terdiam menatap sedih kearah dimana bekas kursi Alarico duduk tadi.