
Sudahlah lagi pula itu bukan urusan Alarico mau Syera bagaimana punya masalah lain atau tidak lagian Alarico dan Syera hanya bekerja sama untuk waktu singkat jadi urusannya ya urusannya, urusan Alarico ya urusan Alarico.
Seketika Alarico bangkit dan pergi ke kamar mandi membersihkan dirinya lalu menyibukkan dirinya.
Alarico tak mau ambil pusing masalah pribadi Syera, masa bodo, Mau bagaimanapun Alarico dan Syera adalah orang asing untuk beberapa waktu.
Alarico yang seketika sudah duduk kembali di ruang kerjanya kembali sibuk dengan pekerjaannya sekarang mulai dengan fokus tentang masalah perusahan. Badan segar setelah mandi rasanya sejuk.
Seketika terdengar suara pintu terketuk tiba-tiba terbuka dan ternyata Sang ibu yang masuk.
Alarico langsung berdiri dan meraih benda yang ibunya bawa, mengambil nampan yang ibunya bawa dan menuntun pelan untuk ibunya duduk.
"Mommy, kenapa bawa sendiri ini keatas Hem. Mommy bisa panggil Al ke bawah," ucapnya berlutut didepan ibunya yang duduk di depan di tepi ranjang.
"Sini nak," ucap Ibunya seketika membawa bahu anak lelakinya untuk duduk di sampingnya.
"Kenapa kamu keluar tiba-tiba tadi terus muka kamu kelihatan gak baik-baik aja nak, ada apa, ayo cerita Mommy kepo nih kalo kamu kayak gitu," ucapnya sangat lembut bersahabat sambil menuntun satu tangan putranya keatas pangkuannya dan mengusapnya.
Alarico merasakan kehangatan ibunya melalui usapan tangan kasar ibunya yang tak pernah berhenti melakukan kesibukan atau kegiatan padahal Alarico sudah sedikit melarangnya tapi, tetap saja ibunya keras kepala.
"Enggak ada Mom, Sekarang Mommy istirahat nanti Al juga mau ketemu Papa," ucapnya pada sang ibu seketika tangan ibunya berhenti mengusap dan menatap manik putranya yang tajam seperti elang.
"Hem.. Apa kamu mau berkelahi lagi dengannya," ucap ibunya seperti langsung mengena di hati Alarico tapi, bukannya tersinggung justru Alarico tersenyum.
"Enggak Mom, Mommy itu buruk sangka, Alarico mau urusan sebentar sama papa terus pulang." Jelasnya singkat. Alarico tak mau mengatakan apapun tentang pembatalan perjodohan
Sang ibu tersenyum manis didepan putranya tapi, dalam hatinya sedih.
"Iya.. Mommy percaya sama kamu, Kalo gitu apa perlu Mommy siapin baju buat kamu dateng ketemu papa nak," ucapnya pada sang putra.
Seketika itu sang ibu berdiri setelah melepaskan usapan tangannya pada tangan Alarico pelan.
"Kira-kira Kamu dateng mau pakai rapi, atau biasa," ucap sang ibu sebelum melangkah pergi.
"Formal Mom, Papa minta dateng untuk makan malam juga, dan Bang Raka nanti juga kasih tahu mommy," ucap Alarico lembut pada ibunya.
Alarico langsung mendatarkan wajahnya saat ibunya sudah berbalik pergi ke lemari baju dan saat itu pikiran tak nyaman nanti malam hanyalan yang bahkan kejadian belum terjadi sekarang berputar di dalam kepala Alarico.
Jika nanti malam, Memang sang ayah akan membuat makan malam formal sesuai yang di katakannya lewat pesan yang di kirimnya ketika Alarico di dalam mobil setelah melihat adegan dua orang tua dan Syera.
Alarico tak ingin semuanya sesuai harapan Sang ayah.
Alarico harus membatalkan semuanya. Tidak akan pernah mau Alarico menikah dengan Salsa apapun alasannya jangankan menikah bertunangan atau melakukan pendekatan Alarico tak akan mau.
Alarico tahu betul bagaimana sikap Salsa saat didepannya dan di depan orang lain yang membuatnya menjadi pemeran bintang.
Alarico sedikit mau mengatakan untuk sang ayah yang memilih calon istri untuk putra sangat sembarangan.
Saat sibuk menelisik lemari pakaian putranya Sang ibu melihat sesuatu yang terlihat sangat bagus. Jas hitam dan dasi juga kemeja putih.
Jangan kira sang ibu tidak tahu, Ibunya Alarico tahu betul pertemuan yang bagaimana yang anaknya hadiri.
Lagi pula Salsa sangat cantik sehat dan juga seorang calon Dokter cantik.
Sang ibu menduga jika putranya tak akan menolak permitaan perjodohan itu, pria tampan harus dengan perempuan cantik dan perempuan cantik tentunya dengan pria tampan dan juga sukses.