Alarico

Alarico
Enam puluh tiga



Syera dan Dinda kini didalam perpustakaan. Mereka berdua bicara berdua dan Alarico dengan Tama bersama Soleh ada di depan perpustakaan.


"Tama.. Lo kenapa gak bilangin Galang kalo kemaren Lo hampir di tabrak anak tiger." Soleh berseru sangat semangat.


Soleh terdiam saat Alarico menatapnya tajam.


"Bukan gitu, Al sorry Din sorry, Gue bukan gak mau tapi, masalah itu gue yang nyari. Masalahnya juga gue penasaran sama oenjahat yang ketangkep di bank Negara itu kayak gak asing di tambah salah satunya pernah nyerang Fauzan, Sepontan gue cari tahu," ucap Tama.


Alarico masih diam mendengar penjelasan Tama. Alarico sebenarnya tak perduli tapi, jika sampai Tama hampir celaka ini sangat tak bisa di biarkan.


"Lo harus hati-hati kali ini, Gue gak mau denger anak-anak Endless cave bermasalah apa lagi kita duluan yang cari masalah, Gue gak bisa nyalahin kalian karena kalian juga punya alasan, gue juga gak bisa nyalahin anak Tiger juga karena mereka bales kalian yang ngusik mereka, Maksud kalian apa tapi, mereka anggepnya anceman," ucap Alarico seketika Tama mengangguk paham dan langsung mengerti patuh dari wajahnya terlihat jika, Tama takut pada Alarico sekarang.


Wibawa juga ketegasan Alarico semakin terlihat jika menjelaskan nasehat pada Tama Galang Soleh ataupun anak Endless cave lainnya.


Memang gak bisa di tandingi sikap tegas Alarico pada gengnya.


Alarico mengunyah permen dengan santai sambil memainkan gem di ponselnya ketika permennya habis Alarico kembali mengambilnya dan memakannya.


Area kampus di larang merokok jadi Alarico harus menghormati tempat ini walau nakal tetap taat peraturan saat ada tanda peringatan.


Syera terdiam saat Dinda menatapnya tajam.


"Syera.. Lo ini kenapa gegabah banget sih, Lo tahu Zulaika bahkan ampe di marahin Satu keluarga besarnya dan kak Anya ajak Zulaika tinggal sama dia untung Bang Raka calon suaminya orang berpengaruh jadi Zulaika di tinggalin sama Kakaknya," ucap Dinda berbisik bersamaan kesal pada Syera.


"Lah.. elo.. mau ngapain lo mau peraktekin film Action di kehidupan lo, Lo gak mikir Syera," ucap Dinda panjang lagi. Seketika Syera menunduk.


"Iya.. Dinda maafin gue, gue kan bilanggue ngebleng, Ada ibu didalem masalahnya tuh polisi diem diem aja gak ada masuk," ucap Syera membalasnya dengan bisikan juga.


"Nah.. sekarang lo bilang kenapa Lo tinggal berdua sama Alarico di rumahnya Lo nikah atau lo kebobolan Ra?"


Aah.. Pusing Syera.


"Dinda.. gue terpaksa tinggal sama dia karena sekarang semua tempat bahaya masalahnya gue sama Alarico berurusan sama penjahat kemaren dan katanya kelompoknya gak terima dan kata bokapnya Alarico gue suruh tinggal bareng sama dia ada mommynya Al juga di rumah."


Dinda melirik Alarico seketika menatap kedua teman di samping Alarico.


"Lo kemaren di cariin sama Rayanza. Gue ngehindar dari dia Ra, Gue takut masalahnya orangnya serem banget mukanya sama kayak Alarico, walaupun sama-sama ganteng tapi, gue takut!"


Syera terdiam dan sedikit menjauhkan Dinda dari Alarico.


"Lo kalo ngomongin Rayanza jangan dideket Mereka dong gue Lo sama Zulaika doang yang tahu," ucap Syera.


Dinda menutup mulutnya.


Mengangguk seakan paham.


Alarico santai saja. Beralih langkahnya bersandar pada dinding.


Syera melambai pada Dinda dengan senyuman lebar lalu menjauh sambil mengucapkan salam.


Alarico langsung berjalan di samping Syera saat Syera sudah berjalan kearahnya.