
Bang Raka terdiam sebentar Alarico acuh saja seketika akan memejamkan matanya Alarico terkejut dengan sesuatu diatasnya.
"Itu hp Lo gue ambil dari rumah Mama Leni. Mama Leni juga kasih tahu gue buat jaga Lo karena Papa kasih kelogaran tapi, semua fasilitas tetep papa pegang kecuali hp ini, Rekening lo juga di stop sama papa, Mau duit berapa pun di saldo hp lo gak bakalan bisa keluar," ucap panjang Bang Raka menjelaskan.
"Biarin ajalah, Gue gak mau mikir, ribet hidup sama orang itu," ucap Alarico memaksudkan orang itu dengan sang ayah.
"Serah Lo," ucap Bang Raka seketika itu mobil yang mereka naiki akhirnya sampai di rumah dengan gerbang hitam besar polos tanpa ada motif. Lalu bagian dalam hanya ada tanaman hijau dan rumput, Taman tanpa apapun terlihat seperti taman gersang walaupun ada rumput dan tanaman hijau besar beberapa.
Walaupun malam rumah Bang Raka tetap terlihat cantik padahal di terangi lampu dari kolam renang dan lampu halaman jika ada mobil atau orang berjalan di halaman lampu otomatis menyala.
Seketika itu mobil berhenti di depan garasi. Alarico dan Bang Raka turun bersamaan.
"Lo cuman tinggal sama makan Pakaian semua punya lo seperti kegiatan sama yang hampir lo lakuin sendiri di rumah Mommy Falisa disini Lo lebih mandiri. Anggep Lo kost gratis dan makan geratis. Gue juga gak akan larang Lo kerja atau apapun tapi, satu Lo harus bisa kendaliin emosi lo karena setelah kejadian pagi tadi gue gak mau lagi bantuin Lo, Buat perusahan Gue yang kendaliin semua persetujuan lo sama dengan gue," ucap Bang Raka panjang berharap Alarico langsung faham.
Kenyataannya Alarico tak mau paham tapi, kepalanya mengangguk mengerti.
Masuk kedalam rumah Alarico diantar pelayan ke kamarnya Alarico mengikutinya saja. Sampai di kamarnya Alarico langsung masuk dan mulai mengistirahatkan badannya. Setelah keramas dan ketiaka mau merokok. Alarico lupa ini rumah Abangnya.
Alarico keluar dengan rambut lembab kaos putih dan celana mocca cinnos pendek. Langkah Alarico memelan saat Bang Raka ada tamu perempuan.
Alarico membelokkan kakinya ke ruangan makan sekaligus dapur terbuka ke ruangan makan saja meja pantry dan meja makan berbeda dan berjarak.
Alarico membuka kulkas seketika menemukan Sekaleng soda.
Di ruang Tamu, ternyata Bang raka menerima tamu perempuan yang ternyata calon istri sekaligus rival bisnisnya.
"Kamu gak ngerasa itu kasar sama adek kamu ka?" Anya Satya latin. Bang Raka menggeleng.
"Gak juga lagian Lo ngapain kemari tumben ada apa lo biasqnya dateng juga kalo Lo lagi kere," ucap Bang Raka asal bicara padahal dengan calon istrinya.
Beruntung Anya Satya Latin tidak terlalu baper karena Anya menghargai sifat calonnya dan pedas ucapan yang kadang Anya lawan Bang Raka yang ketar-ketir.
"Kalo ngomong... Kayak udah paling kaya aja kamu," ucap Anya dengan wajah sok jijik padahal ingin tertawa.
"Enggak sih ka... Sebenarnya gini aku kesini malem-malem mau kasih adek kamu bonus kemaren, itu pegawai aku lupa pas mau ngejar Adek kamu gak keliatan pas aku tanya siapa namanya biodatanya, ternyata adek kamu gak ngisi lengkap di isi doang nama dia sama ibu lalu kamu nama depan doang...Raka tapi, karena aku tahu nama Adek Kamu Alarico Samudra aku cari lewat tante Leni, eh gak tahunya kata Tante Leni, Alarico sama kamu."
"Pas aku kemari eh gak tahunya bener, dia juga tadi mau kesini tapi, gak jadi dia malu kayaknya, dia mirip kamu juga ya datar," ucap Anya.
Raka menatap Anya datar.
"Lo pulang sama bodyguard kalo gak mau pulang kerumah gue kasih anak lo sekarang," ucap Raka sedikit mesum menurut Anya, kasar juga menurut Anya.
"Iya ntar langsung gue gugurin anak lo," ucap Anya dengan berani menjawab lebih parah ucapan Raka.