Alarico

Alarico
Lima puluh Empat



Dinda menceritakan kejadian tadi sambil mengemudikan mobil Zulaika pelan pelan. Zulaika juga sedang keritis di rumah sakit kehabisan banyak darah.


Tanpa sadar Zulaika jika kakaknya, Anya mengamuk didepan ruangan gawat darurat.


Bang Raka langsung datang dan memeluk Anya. Anya langsung tenang dan sedikit meredakan tangisannya.


"Tenang, Anya... Gue disini." Bang Raka menatap nyalang ruang gawat darurat dimana Adik iparnya ada di dalam.


Dinda dan Syera berlarian masuk rumah sakit baru saja turun dari mobil tak lupa mengunci mobilnya.


Syera menangis tak bisa membayangkan hal ini terjadi pada Zulaika. Bukannya, gimana tapi, Syera dan Zulaika baru kemarin bicara banyak dan sekarang Zulaika keritis, kok bisa?


Syera dan Dinda mendatangi ruangan dengan pintu unit gawat darurat.


Melihat da dua orang disana Syera dan Dinda langsung menyadari Kakaknya Zulaika, Anya.


"Kak Anya?" Mereka berdua mendekat dan seketika Anya memeluk keduanya.


"Minta Doanya buat adek ku ya.. Kalian temennya Zulaika kan Kalian harus bisa kuatin Zulaika didalem ya. Zulaika harus selamet." Dinda dan Syera mengangguk.


Seketika itu ponsel Syera berdering dengan nama Biang masalah, siapa lagi kalo bukan Alarico.


"Hallo ?"


Syera menjawab telpon Alarico dan mengucapkan salam seketika tanpa di jawab di jawab salam Alarico menanyakan dimana Syera berada.


Syera menjawab saja kalo dirinya ada di depan ruang gawat darurat.


Langkah keempat lelaki tinggi tampan itu langsung saja ke tempat dimana Syera bilang. Mereka bisa saja bertanya Resepsionis tapi, karena kelamaan Alarico mengambil jalan pintas.


"Kalian semua kenal Zulaika?" Tanya Anya pada keempat lelaki itu setelah bicara pada Dokter. Seketika Syera menjelaskan jika mereka berempat yang sering membuat Zulaika rebutan tahu bunting di warung kopi Bu Leha.


Anya langsung mengangguk mengerti.


"Oh.. iya. Doanya ya busat Zulaika," ucap Anya seketika keempat nya mengangguk.


Tak lama Zulaika keluar dengan wajah pucat dan selang infus juga darah bersandingan.


Syera yang melihat Zulaika seperti itu seketika terduduk lemas Dinda menyadari Syera yang terduduk lemas langsung membantu Syera berdiri.


Sedangkan Anya terfokus pada sang adik saja. Bang Raka juga langsung mengejar Anya dan berusaha menenangkannya.


Alarico dan ketiga temannya menoleh pada sikap Syera yang aneh mereka ingin mengejar Zulaika tapi, sikap Syera membuat mereka lebih tertarik diam melihat Syera dan Dinda yang tak ikut mengejar Zulaika.


"Gue.. masalah Din.. Ini semua karena gue.. Lo semua jauhin gue.. Jangan deketin gue.. Gue mohon Dinda lo selalu sama Zulaika bilang kalo gue sayang dia dan kalo Zulaika butuh sesuatu lo bisa hubungin gue. Buat sekarang dan seterusnya gue ngejauh dari kalian. Termasuk Lo Al, Maaf tapi, gue gak mau Lo celaka kayak Zulaika Lo lebih aman pura-pura gak kenal gue," ucap Syera yang membuat semuanya kebingungan seketika Syera berlari pergi keluar dari rumah sakit.


Saat sampai di luar Syera terdiam melihat Rayanza yang tersenyum.


"Gimana percaya apa kata gue, Gue bilang nurut apa mau gue kan kejadiannya beneran," ucap Rayanza sedikit menakutkan dengan Syera pelan dan ekspresi seperti orang bahagia setelah melakukan hal menyenangkan.


"Ngomong-ngomong Bestie lo gak bakalan selamat kalo Gue nyetop darah dari tempatnya ngambil darah," ucap Rayanza seketika membuat Syera menatap tajam.


Telunjuk kanan Syera menunjuk Wajah Rayanza.


"Lo Gak waras Lo bukan! Manusia!" Syera pergi meninggalkan Rayanza tapi, Rayanza bergeming di tempatnya menatap Alarico dan ketiga temannya juga raut wajah mereka sedikit terkejut karena Rayanza dan Syera ada disana. Terlebih lagi Alarico tangannya kini mengepal keras rasanya ingin di lepas hanya untuk membuat wajah Rayanza babak belur.