
Masjid yang sama yang yang di gunakan untuk pernikahan Raka kemarin. Suasana yang sangat sederhana hanya keluarga dan orang di kenal sama seperti kemarin tamu undangan juga tak sebanyak kemarin walaupun yang di undang kemarin.
Alarico duduk didepan penghulu dan juga juga ayah Syera. Di samping Alarico ada sang ayah dan abangnya. Alarico terlihat sekali sangat santai sampai Syera yang melihat dari tempatnya sangat tak menyangka.
Syara duduk di tempat para perempuan sang ibu dan ibunya Alarjco ada di kanan kiri Syera dan adik-adik nya pun juga ada.
Syera terdiam saat Alarico terdengar sangat mantap mengatakan langsung saja.
"Bagaimana saudara Alarico mau langsung atau percobaan?" Penghulu bertanya. Alarico menatap dengan tajam dan menegakkan tubuhnya.
"Langsung," ucap Alarico sangat mantap.
"Baik." Penghulu mengiyakan dan membaca bismillah lalu jabatangan Alarico dan ayah Syera terjadi.
Jabat tangan yang sama-sama berurat itu sangat terlihat maco dan kerena bahkan urat tangan Alarico dan Ayah Syera sangat menarik tapi, bukan itu saja tapi, tatapan kedua orang ini yang sangat serius.
Raka pun tak menyaka jika ini adiknya.
Seperti hal yang sudah sering bahkan terlihat sangat santai Alarico langsung menjawab ucapan Ayah Syera dengan jeda satu tarikan nafas dan saat itu juga badan Syera menegang dan Alarico merasa ada hal aneh di dalam dirinya. Tapi, bagi Alarico ini pasti karena pukulan Rayanza semalam tapi, kenapa rasanya sakit di hatinya ada rasa haru dan senang bercampur.
Syera menghentikan remasan tisu di tangannya seketika itu usapan sebuah tangan di bahunya.
"Sayang ayo," ucap ibu Alarico tapi, Syera masih belum sadar walaupun mendengar dan melihat semuanya didepan matanya. Syera masih merasa ini hal yang aneh Syera merasa bahagia juga merasa sedih kesal di waktu bersamaan.
Alarico berbalik bangkit dengan santai mendekat dan membuka selambu Syera dan duduk di depan Syera dengan sangat lembut bahkan Syera tak pernah sama sekali melihat Alarico duduk seperti itu.
Seketika wajah Alarico maju dan menyampingi wajah Syera. Pemandangan itu pun tak luput dari tatap semua yang melihat.
"Lo gak mungkinkan malu-malu keluarga." Bisikkan yang bahkan membuat Syera menegang sampai dua kali. Seketika Syera melirik Alarico dan seketika Alarico mengulurkan tangannya seketika itu Syera mengambilnya.
Saat kulit tangan mereka bersentuhan saat itulah Alarico tersenyum manis senyuman itu bahkan sama sekali tak pernah Syera lihat bahkan Syera lupa kapan terakhir kali melihatnya.
Syera mencium punggung tangan Alarico yang sah menjadi suaminya saat itu juga Alarico mencium dahi Syera sangat lama sampai siempunya tuga kali menegang sekaligus kaget berulangkali.
Syera sudah berpikir jika jantungnya sudah lelah berdetak tak karuan dan kali ini lepas dari tempatnya meminta melompat keluar.
Alarico si biang masalah yang sayangnya sudah sah menjadi suaminya ini bahkan akan memulai hidup baru mulai dari detik ini dan satu hal lagi jika sejak awal Alarico lebih banyak berwajah datar dan bahkan senyum sebentar dan menghilang.
Alarico menjauhkan wajahnya dan sekarang wajah keduanya terlihat sangat dekat. Tanpa Syera sadar jika wajahnya snagat merah dan sangat mengemaskan.
"Bantu aku untuk dekat dengan Tuhanku, Syera."
Seketika Syera menatap mata Alarico lebih dalam.