Alarico

Alarico
Tujuh puluh empat



Syera sibuk membaca di kamarnya entah yang di ponsel atau yang di buku atau juga Laptopnya.


Syera masih menggunakan mukenah sambil sibuk di kamarnya.


Seketika mendengar pintu terbuka. Syera yang ada di kamar dengan pintu tidak terlalu tertutup jelas sekali mendengar suara itu.


Sebelumnya


Alarico pulang sendirian dengan mobilnya dan masih meminum alkoholnya sebelumnya dan membuang botolnya di dalam mobil.


Alarico menghabiskan setengah Wine nya agar tidak merasa sakit tapi, ketika kena lukanya sangat sakit.


Tama yang menghentikan Soleh dan Galang untuk mengikuti Alarico.


"Gak bisa kita ikutin dia kita cukup sampe sini tapi, kalo kita khawatir dari jauh aja," ucap Tama. Seketika Soleh dan Galang mengangguk paham.


Alarico berhasil sampai rumah dan keluar dari mobil, teman-temannya sudah pulang saat mobil Alarico berbelok masuk ke dalam gerbang. Alarico bersandar pada kap mobil dan menyalakan rokoknya sambil meredakan rasa sakitnya juga sempat mencuci wajahnya di keran taman air depan sebelumnya masuk ke dalam rumah.


Seketika di rasa baik.


Alarico mulai menghabiskan rokoknya dan menginjaknya lalu melangkah masuk ke dalam rumah pintu yang di buka tak sengaja terlalu kencang.


Lalu langkahnya berjalan pelan saat melihat pukul tiga pagi Alarico menatap tajam jam yang tak bisa berbohong itu, kenapa juga jam itu harus berlalu cepat sesuai dengan hari, Membuat Alarico sangat kesal saja.


Syera mengintip dari pintunya melihat seseorang melangkah masuk dengan rupa hitam karena beberapa lampu di matikan dan tersisi lampu penting untuk orang yang bangun malam.


Saat tatapan Syera menajam pada wajahnya ternyata Alarico Syera langsung terkejut.


Tiba-tiba badan Syera bergerak sendiri mendekat dengan berlari dan menarik tangan Alarico dengan tangannya yang masih didalam kain mukenah.


Syera membawa Alarico ke dalam kamarnya dan mendudukukan Alarico.


"Dimana saklar lampu lo?" ucap Syera tajam. Alarico langsung menengguk ludahnya kasar.


"Deket nakas tuh," ucapnya langsung acuh karena sebal sengan tatapan Syera membuatnya terintimidasi, menunjuk nakas sambing tempat tidur Syera meneranginya dengan ponselnya dan terlihat saklar lampu ada di bawah.


Syera menyalakannya.


"Kotak obat." Syera bicara sendiri sambil mencari kotak p3k. Alarico terdiam saat lemari bawah tv dekat nakas panjang ada kotak obat sedang Syera lihat.


Gitu juga ketemu gak guna juga jawab, pikir Alarico.


Alarico terdiam duduk di kursi dekat meja dan pintu balkon seketika Syera menutup horden tebal padahal jendela sudah tertutup horden tipis tapi, bagi Syera itu tak cukup.


Syera membuka lemari Alarico sesukanya dan mencari pakaian yang nyaman dan meminta Alarico berganti pakaian.


"Ganti dulu di kamar mandi, Gak pake lama !" Seakan perintah mutlak entah kenapa Alarico tak bisa membantah, Alarico jadi kesal sendiri.


Masuk ke dalam kamar mandi Alarico melakukan apa yang Syera katakan sedang Syera terdiam kenapa juga dirinya membantu Alarico tapi, Saat lampu menyala Syera tak bisa hilangkan ke terkejutannya di wajahnya walaupun sesaat. Syera langsung sadar saat ponselnya bergetar di tangannya dan meletakkan kotak obat di sampingnya lalu bergerak ke lemari mengambilkan pakaian yang kira-kira nyaman.


Syera tak bisa diam saat Alarico seperti itu tapi, jika benar-benar dirinya akan menikah dengan Alarico tapi, Syera tidak mau pernikahan ini terjadi dan hari ini tepat saat ini pernikahannya dia adakan.


Wajah Alarico saja babak belur bagaimana mau mengatakan ijab nanti ini.


Suara pintu kamar mandi terbuka saat itu Alarico keluar dengan handuk di lehernya dan juga kaos dan celana pendek. Syera bangkit dari duduk di tepi kasur dan menyikap mukenah nya ke bahu dan memberikan ke leluasaan tangannya mengobati luka Alarico nanti. Saat Alarico memperhatikan Syera bergerak membawa kotak obat atau kotak p3k itu ke atas meja depan pintu balkon, wajah Alarico sebenarnya tersenyum tapi, kaget juga.


Kenapa Syera melakukan ini? Pikiran Alarico terus kesana.


Sampai tatapan tajam Syera membuatnya sadar.


"Mau kasih betadine mata lo, apa balsem?"