
Syera membuka sebotol betadin besar dan mencelupkan kapas dengan alat penjepitnya. Alarico yang dudu di depan Syera seketika melihat Syera serba salah.
"Hadep sini Al, Gue susah, Muka lo bonyok gue jadi iba liatnya," ucapnya menarik dagu Alarico kasar dengan tisu supaya kuku atau jari tangannya tak langsung mengenai luka Alarico didekat sudut bibir.
"Aw... Pelan pelah Aakh.. Sakit Ra!" Seketika Syera kaget karena tiga kali sentuhan kapas basah obat merah itu mengenai pelipis Alarico baru ini menjerit.
"Oh.. maaf Sakit ya, Sebentar!" Syera meniupnya pelan tanpa sadar memberikan obat merah di pelupus dengan sangat lembut.
"Lo lagian kurang kerjaan banget kenapa sih pake berantem Al, Lo nanti mau jadi penganten kenapa lo malah buat diri lo malu sih," ucap Syera seketika menarik pelan dagu Alarico lebih dekat dan sedikit berbalik ke sebelah kanan karena pelipis sebelah kanan lebih parah.
"Kenapa?"
"Lo kan juga penganten." Seketika Syera berhenti mengobati lalu berdecak dan kembali lagi mengobati.
"Lo malu gue babak belur, makanya gak usah punya suami kayak gue, pilih lelaki di luar sana lebih baik dari gue Ra, Gue ini jelek gak ada bagusnya, gue buruk gak ada baiknya, gue ini salah terus gak ada benernya, gue ini Dosa doang gak ada pahalanya, masa iya lo di imamin ama Cowok brengs*k kek gue? Gue bantu Ra... lo, kalo lo mau kabur sekarang," ucap Alarico seketika membuat Syera terdiam dan kembali mengobati dan mengambil plester.
"Brisik lo!" Seketika Syera menekan plester luka dan membuat Alarico meringis sakit.
"Gue ngehargaain semua yang lo lakuin tanpa sadar itu juga buat gue. Gue juga bahkan sadar gue justru lebih buruk dari lo bahkan gue sebenernya yang minder bukan lo Al, Lo punya segala bahkan apapun Lo baik Lo pengertian bahkan Mommy lo adalah hal utama buat lo, Gue gak ada apa-apa nya di bandingin Lo, dan Lo kayak gini pasti lo punya alasan, Cowok seberengs*k nya dia gak mungkin jadi Bodoh sebentar." Syera kembali mengobati luka di wajah Alarico sampai seluruhnya dan terakhir tinggal hidung dan sudut bibir.
"Lo tahu Al, Lo Orang pertama yang balik noleh ke gue di saat semua wajah menatap ke depan, Gue termasuk orang yang tertinggal karena tali item masalalu kelam gue gak akan mudah lepas jadi sejauh apapun gue ngelangkah masalalu akan ikut, beda sama orang yang hidup sama masa lalu dan cara mereka menghadapi, masa lalu," ucap Syera seketika memberikan plester pada hidung Alarici di bagian atas hampir dekat tulang hidung.
Seakan membeku di tempatnya Alarjco terdiam saat membicarakan masa lalu.
"Gue menghargai itu Al sebenernya, Gue bersikap teraniaya dan merasa terancam tinggal di rumah lo kemaren-kemaren itu sebenernya nutupin kalo gue seneng karena orang-orang kayak kalian masih ada yang baik dan mau jadiin orang asing orang terdekat mereka termasuk Mommy lo yang gue gak sangka dia panggil gue layaknya putrinya," ucap Syera seketika tersenyum lembut dan lebih manis Alarico terdiam sekejap merasa damai memandang wajah Syera.
Seketika Syera mau mengobati bibir Alarico seketika terhenti dan menatap meta lalu bibir dengan gerak cepat seketika Alarico malu.
"Lo Mau ngapain hah?"
Melihat ekspresi Alarico seperti itu Syera kesal dan menarik kasar dagu Alarico. Seketika itu juga tertutup mulut Alarico saat hembusan nafas Syera dekat sekali di wajahnya dan mata Syera begitu cantik, kedua bola mata indah layaknya pemandangan semesta yang tak pernah hilang dan bosan.
"Lo luka parah di bibir masih bisa ngomong banyak lo," ucap Syera mencibir kesal.
Sengaja Syera menekan untuk kekesannya di kapas obat merah itu.
Lalu memberikannya plester luka kecil untuk menutup luka.
Akhirnya selesai tinggal lebam Syera memberikan salep pada Alarico.
Sebelumnya Syera memberikan pada Alarico dia membacanya.
Tatapan Alarico tak lepas dari wajah serius Syera sebelum memberikan salep itu dan di bacanya dengan baik.
Mengulurkan salep itu tatapan mata Alarico dan syera bertemu seketika Alarico menatapnlebih dalam dan fokus.
Masih duduk di tempatnya.
"Lo pernah suka sama gue Ra?"