
Mereka semua seakan ingat tentang nama Alarico. Mereka semua langsung acuh dan beberapa dari mereka juga sempat tak percaya jika Syera menikah. Siapa yang tahu sebenarnya mereka yang terlihat asing sama sekali tidak asing.
Semuanya langsung sibuk seperti semula dan tinggalah Harisya dan teman-temannya yang tadk bisa bergerak seharusnya setelah itu mereka pergi.
Zulaika dan Dinda memberikan jalan pada Harisya dan teman-temannya pergi begitu juga Galang menyeret si rambut mereh hitam dan temannya pergi juga.
Seketika Galang membayar semua yang makan bersamanya di warung kopi Bu Leha.
Semua semakin tak nyaman. Zulaika dan Dinda langsung menatap semuanya sebelum pergi dan akhirnya mereka berdua pergi dengan pamit Bu Leha mendahului Galang dan lainnya.
Di rumah Syera yang langsung naik keatas tangga setelah bicara dengan sang ibu. Ibu bahkan tak mau tahu tentang putranya karena sudah ada istri.
Di detik yang sama Syera yang membuka pintu langsung melihat Alarico yang berbaring tak benar diatas kasur.
Syera mendekat dengan sebelumnya menutup pintu dan melangkah mendekati Alarico. Syera mengambil tas Alarico dan melepas sepatunya juga memberikan bantal memindahkan kakinya yang menggantung.
"Ya.. Allah, dia demam dahi panas," ucap Syera setelah mencoba memegang dahi Alarico.
"Sebentar." Syera langsung keluar dan tak lama kembali lagi lalu membawakan bubur dan air kompresan.
"Kamu pasti begadang kemarin malam kan." Syera menatap iba Alarico sambil mengompres dahinya Syera juga mengaduk bubur yang ia buat dengan cepat karena Alarico pasti tak suka menunggu.
Syera mencuci bubur dengan menggunakan sendok yang sedikit bubur di jatuhkan di atas telapak tangan.
Syera mengangguk merasakan rasanya pas.
"Al..." Panggilan lembut Syera membuat kedua kelopak mata itu terbuka.
"Makan dulu ya.. buburnya masih hangat," ucap Syera sangat lembut.
Syera pergi mengambil baju ganti dan meminta Alarico mengganti baju atasnya.
"Gak usah," ucapnya acuh Syera mengangguk dan mengambil kaos yang Alarico berikan seketika itu duduk di samping Alarico yang kembali tidur. Handuk lap kompres masih menempel di dahinya.
Alarico juga membuka mata saat Syera sedang sholat duhur. Syera menoleh dan melihat Alarico sudah bangun.
"Sekarang sholat dulu aku bantu ke kamar mandi," ucap Syera sangat perhatian seketika Alarico bangkit dan melempar lap itu ke dalam baskom.
Syera melepas mukenah dengan pakaian yang sama dan hijap yang masih menempel.
"Masih panas gak enak banget badannya?" ucap Syera seketika duduk didepan Alarico yang bersandar pada pinggir kasur. Syera memegang wajah dan juga dahi Alarico dengan telapak lalu punggung tangan.
Memegang leher dan juga lengan atasnya.
"Ra?" Alarico terdiam dengan perlakuan Syera tapi, rasanya sulit sekali untuk membuat hatinya jujur Alarico malu kalo dirinya menyukai Syera tapi, ia juga tak mau mengatakan yang sebenarnya.
"Iya kenapa? Ada yang gak enak atau sakit atau mau aku ambilin susu kotang dingin atau anget?" Syera menatap Alarico seketika Alarico memeluk Syera dan menyembunyikan wajahnya di dalanm pelukan dah bahu leher Syera.
Terkejut dengan apa yang Alarico lakukan membuat Syera akan segera melepaskannya tapi, Syera tak bisa dan kedua tangannya seperti bergerak sendiri membalas pelukan Alarico.
Seketika tangan Syera menepuk nepuk pelan punggung Alarico dan mengusapnya.
Syera tersenyum dan membiarkan Alarico memeluknya.
Ternyata Alarico lucu sekali persis seperti bayi yang berumur di bawah lima tahun ketika sakit dan ibunya ada di sampingnya.