
Syera membulatkan matanya melempar tisu itu ke wajah Alarico dengan bentuk gumpalan.
"Makan tuh tisu, Ngipi lo gue suka sama Lo!" Seketika Syera berbalik seketika itu melihat Bi Jum dan Ibu Alarico ada disana berdiri menatap keduanya.
"Anak-anak mommy udah besar." Seketika Syera terdiam Alarico justru cuek saja dan berjalan dengan santai menuju kaca cermin kecil di bawah tv diatas nakas.
"Mommy masuk sembarangan ke kamar anaknya," ucap Alarico datar.
"Halah Al.. Sok anak nya, ngaku kalian ada niatan buat anak kan pas tadi Diem-dieman?"
Seketika Syera melotot kaget dan Alarico juga berekspresi sama dengan Syera tapi, tak bisa Syera liat karena Alarico menatap cermin. Tapi, sang ibu tahu itu, mereka semua memang tak berpikiran sampai sana dan sang ibu hanya menggoda.
"Em.. maaf Tante.. Sa-syera keluar dulu, ma-permisi," ucap Syera sangat gugup bingung apa yang mau di ucapkannya.
Ibu Alarico terdiam mengangguk dengan senyuman tiba-tiba. Syera melangkah cepat dengan mukenah yang terlihat bergelombang ketika jalan Syera lebih cepat untuk segera keluar.
Tinggal Alarico sendirian bersama Bi Jum dan sang ibu.
"Bibi batu Syera siap-siap nanti sekitar abis subuh Syera harus udah sampe di tempat acara. Nanti ada Anya disana sama Raka, Bibi cukup temenin Syera sampe saya datang dan nanti buat Alarico biar di jemput abang sama ayahnya dan Leni," ucap sang ibu pada asistennya Bi jum.
"Mom.. Oh Ayolah Mom ini gak beneran nikah kan Al, belum mau Mom masa iya kemaren abangnya sekarang adek nya, gak lucu apa kata orang," ucap Alrico memelas pada sang ibu saat Bi Jum sudah pergi menghampiri Syera.
Sang ibu berbalik memeluk perutnya dan tersenyum.
"Tumben mikir omongan orang, Dan kalo kemaren bang Raka nikah kamu nikah juga sekarang masalah, hem? Kayaknya gak deh, gak sama sekali bermasalah," ucap Sang ibu menatap putranya.
"Gimana cara kamu bertanggung jawab nanti, Mommy mau liat kamu nanti," ucap sang ibu lalu benar benar pergi dari kamar sang putrnya.
Alarico terdiam dan berbalik dengan menghadap tv wajah datarnya menatap kaca hitam tv yang mati didepannya lalu berbalik mematikan lampu kamarnya dan membiarkan lampu sudut ruangan menyala dan membuka horden juga jendela.
Alarico langsung naik keatas kasur dan terdiam tak lama azdan subuh berkumandang di mana langit subuh masih sangat terlihat di lingkungan di sekitar mesjid dan juga beberapa orang pergi bekerja sebelum subuh mampir ke masjid.
Syera baru selesai salam di akhir Sholatnya lalu berbalik sambil membereskan alat sholatnya. Syera menatap Bi Jum yang ada di dekatnya membatunya membereskan beberapa barang.
"Bi.. gak usah repot-repot nanti Syera beresin juga bibi duduk aja nonton drama di laptop Syera," ucapnya. Seketika Bibi tersenyum.
"Iya Non, maaf bibi udah kebiasaan," ucapnya menatap Syera malu.
"Eh.. iya.. bibi mau pake lupa Syera nih bi," ucapnya meminjamkan sajadah dan mukenah bibi mengambilnya dan mulai sholat sedangkan Syera mencabut casan laptopnya dan duduk di atas kasur tak lupa volume di kecilkan.
Syera yang menonton Drama di layar laptopnya seketika menatap malas.
"Kenapa ini sama persih kayak kajadian tadi mana dialognya mirip-mirip dikit, ck.. kebetulan." Syera meletakkan laptopnya dan pergi keluar kamar seketika itu mata Syera berjalan ke pintu keluar samping dapur saat itu juga Syera melihat karangan bunga yang di kirimkan kakek nenek dan beberapa keluarga ibunya Alarico berjajar rapi, didalam dan pak sopir pak satpan juga pelayan mengesernya untuk merapikannya di dalam.
"Seneng lo sekarang!"
Syera terkejut dengan Alarico yang berdiri di belakangnya tiba-tiba.