Alarico

Alarico
Empat puluh



Alarico yang berjalan kaki jauhnya ke rumah Galang sedangkan di rumah sang ayah. Istri keduanya datang dengan wajah sedih.


"Mas Angga kenapa usir Al Mas," ucapnya ketika melihat sang suami baru keluar dari ruang kerjanya Leni langsung menghampiri Falisa dan merangkul bahunya dari belakang dengan kedua tangannya. Leni juga merasakan kalo bahu dan badan Falisa bergetar.


"Demi kebaikannya itu juga biar dia belajar, Malem ini juga Salsa di jemput Keyla asisten ibunya oulang langsung ke Roma," ucap Sang suami dengan wajah datarnya.


Seketika Falisa pingsan saat itu juga Leni panik ikut jatuh menyanggah agar tak langsung jatuh ke bawah lantai. Angga memijat pangkal hidungnya seketika berbalik dan mengangkat Falisa yang mulai ringan karena penyakitnya terus mengerogoti tubuh kesehatan juga pikirannya Tidurpun Falisa tak pernah baik.


Angga tak menyesali perbuatannya, ini juga demi putranya Alarico agar lebih dewasa.


Alarico yang baru sampai rumah Galang seketika melihat Galang menggunakan mobil. Alarico tak tahu jika Galang yang ada didalam mobil.


Seketika itu mobil yang baru menjauh berbalik lagi dan berhenti. Galang turun dan menghampiri Alarico.


"Gue numpang di rumah lo sebentar," ucap Alarico cepat tanpa basa basi. Galang mengangguk.


Di dalam kini mereka berdua duduk di meja pantri Galang memberikan segelas air putih lalu botol dingin besar jika Alarico kurang.


"Gue bakalan cari kerja dan gak akan nyusain Lo," ucap Alarico pada Galang seketika itu Galang terdiam.


"Lo berantem lagi ama bokap lo,"ucapnya tanpa basa basi. Alarico mengangguk saja lagi pula Galang ini, temannya sendiri juga.


"Ok gini Al.. Lo tinggal aja semau lo selama yang Lo mau Lo mau tidur di kamar manapun Lo suka lo bisa tidur tapi, Lo jangan mikirin kerjaan buat kedepannya, Sekarang tenangin sebentar." Galang dengan cepat memberikan tempatnya oada Alarico untung singgah atau berteduh.


Alarico terkekeh tersenyum sedikit saat Galang berpaling pada ponselnya.


"Makasih Lang," ucap Alarico.


"Sama temen sendiri gak boleh pelit apa lagi sekarang Orang tua itu gak ada yang bakalan pulang kerumah selama beberapa bulan termasuk sabtu minggu mereka gak akan balik karena bisnis mereka makin lancar broww.."


Galang sangat senang sekali jika kedua orang tuanya tak pulang.


Alarico diam saja kembali minum air putihnya.


Tak lama di luar terdengar suara kelakson mobil dan motor.


Soleh dan juga Tama bersama Tami datang mereka masuk kerumah Galang. Alarico bahkan tidak tahu kalo Galang memanggil mereka dan Tama yang datang bersama Tami membuat Alarico sedikit terhibur.


"Bang al," ucap dari suara gadis manis itu memanggil nama Alarico.


"Iya cantik kenapa hem," ucap Alarico menghampiri Tami.


"Bang Al kok nginep di rumah Bang Galang kenapa gak di rumah Kakak Tami aja, Kan bisa sekalian ajarin Tami tentang buat buat hal baru dari sains atau praktek kimia atau juga tentang bisnis, Bang Al juga bisa main sama Abel," ucap Tami tak berhenti juga menawari bermain bersama Abel Kucing besarnya yang terlihat sangat tingginya selutut orang dewasa dengan motif totol hitam dan bulu jingga.


"Hahah.. Kamu ada ada aja... mana mau kucing Abel mau sama Al, Yang ada Abel kalah saing karena Bang Al lebih manis tahu," ucap Galang mengusap kepala Tami sayang.


"Gue lagi belajar sama Tami di kamarnya hp bunyi dan gue langsung pergi sepontan dia curiga terpaksa aja gue ajak, di mewek kalo gak diajak." Tama menjelaskan terus terang kenapa Tami ikut walaupun Teman temannya tak bertanya.


"Ih. Kakak Tami gak mewek ya.. Tami cuman ngerengek." Seketika semua terkekeh.


Polosnya gadis kecil ini. Seketika Alarico terdiam sesaat lalu ikut tersenyum tipis.