
Alarico menatap kedepan seketika Alarico merasakan getaran di ponselnya dengan nomor bertuliskan nama Angga lalu ada emot tengkorak tanda silang.
"Gue pergi dulu," ucap Alarico pamit pada teman-temannya yang hanya mengangguk dan Alarico mengangkat telpon sambil berjalan ke motornya.
Sampai di motornya, Alarico langsung memakai helmnya dan pergi dari markas Endless cave.
Jarang sekali orang tua lelaki itu menelpon putranya ini pertama kalinya seorang ayah menelpon putranya meminta datang kerumah dimana ia dan istri ketiganya tinggal.
Alarico malas meladeni tapi, namanya orang tua dan Alarico anak. Daripada tidak mau datang menambah dosa Alaruco sadar dosanya pada ayah itu banyak tapi, malas juga kalo harus melihat istri ketiganya dan menginjakkan kaki di rumah yang haram Alarico datangi.
Alarico yang masih dalam perjalanan dengan motornya seketika berhenti karena macet lampu merah.
Alarico menunggu dengan sabar saat lampu hijau Alarico kembali menjalankan motornya sengaja Alarico tak cepat-cepat, santai saja nanti juga sampe.
Alarico terlalu meremehkan sang ayah tapi, apa ayahnya pernah tidak merehkan putranya. Alarico tak percaya jika ayah tak meremehkan Alarico.
Seketika semirik kesal muncul di balik helm fulface.
Sampai di rumah yang ayah bilang untuk datang menemuinya. Alarico terdiam sebentar tatapan matanya memanas tiba-tiba kebencian di hatinya meningkat saat membuka helmnya terlihat sekali rumah tanpa tingkat cat putih dengan tanaman menghiasi halaman terlihat asri dan indah.
Alarico melangkah masuk kedalam rumah itu, awal langkah terasa ringan kini berat karena melihat seorang wanita yang baru saja keluar dari ruangan dengan pintu coklat. Tatapan datar Alarico pakai sejak awal datang kemari.
"Al.. kamu dateng, Papa udah di dalem nungguin kamu," ucapnya seketika mendekat menyapa Alarico dengan tatapan manisnya. Alarico melangkah masuk saja keruangan tadi tidak memperdulikan sambutan dari ibu sambungnya.
Cepat-cepat pergi dari sana sebelum bibirnya berucap kasar pada wanita yang sangat ayahnya cintai itu.
Ibu sambung hanya bisa tertunduk dan memaksakan senyumannya, benar kata ibu kandung Alarico jika Alarico masih sulit tapi, tetap harus sabar Raka dan Alarico sama seperti Angga yang sulit sekali menerima hal baru jika sudah memiliki yang nyaman walaupun terpaksa Angga harus menerimanya dan Raka atau Alarico kalo di paksa ia memberontak.
Angga tak berani lebih jauh dengan Raka tapi, tak berani terlalu bebas dengan Raka.
Sekarang putra keduanya Alarico, Alarico lebih keras tempramen jika di senggol orivasinya.
Tidak di pungkiri jika kedua putra Angga hanya dekat dengan Falisa Mommy dari Alarico.
Keperibadian Falisa sangat lembut dan tidak asing bagi mereka jika Angga kasar dan keras lalu Leni mereka sangat asing bahkan tak mau mengenal terutama Alarico yang secara terang-terangan tak menyukainya.
Angga berbalik saat mendengar pintu terketuk.
Alarico melangkah masuk saat Sang Ayah berbalik lalu memintanya duduk.
Alarico menutup pintu itu sedikit dan duduk sesuai perintah sang ayah.
"Baru aku memberikan Salsa di rumahmu kau sudah sering keluar rumah nak," ucap sang ayah pada putranya tiba-tiba Alarico langsung duduk saja dengan tenang.
"Gak suka!" Langsung tanpa basa basi Alarico mengatakan tidak menerima Salsa di rumahnya. Angga mengangguk mengerti dengan apa yang ada di kepala putranya.