
Alarico menoleh menatap kedua temannya terakhir Soleh datang.
"Lo pada urus mereka," ucap Alarico seketika menatap cctv.
Tanpa sadar diruangan Cctv ternyata ada Raka dan meminta petugas menyalin rekaman tadi ke dalam flasdiksnya dan membiarkan hal ini terjadi jika tidak ada rekaman Dosen Rektor pun tidak akan ada yang mau mengurusi masalah ini. Hari ini juga Raka akan menarik adiknya untuk tinggal bersamanya.
Alarico melangkah keluar kampus dengan santai.
Saat itu juga Tama mendekat dan menatap Alarico.
"Lo gak sampe parahkan mukul mereka," ucap Tama memastikan sesuatu. Alarico menghentikan langkahnya di samping Tama dan menatap wajah Tama.
"Gue gak sengaja, Lo tahukan arti gak sengaja sekarang gue bakalan tanggung semuanya sendiri mulai dari sini lo semua jangan bantuin gue," ucap Alarico seketika menjauh.
Tama menghela nafasnya kasar.
Tama menatap punggung Alarico yang menjauh dari depannya.
Alarico yang sudah keluar kampis kini berdiri di halte bus seketika melihat Syera duduk disana sambil memainkan ponselnya. Tidak lama bus datang dan Syera langsung naik lalu Alarico naik kedalam Bus duduk disana dan seketika melihat ada perempuan masuk Al memilih berdiri dan memberikan penumpang perempuan itu kursinya.
Sikap Alarico tak jauh dari apa yang Syera perhatikan. Seketika itu Syera mengingat ucapan Rayanza. Syera melirik ke seluruh tempat Bus yang tak terlihat Rayanza di sekitarnya. Syera menghela nafasnya. Sikap Syera mengamati tempat di dalam bus tak sengaja Alarico tahu.
Alarico melihat sikap Syera yang aneh. Seketika itu sampai di depan Halte tak jauh dari Toko Roti Sam. Syera turun.
Alarico tak ikut turun dan tetap tenang di bus. Syera menghela nafasnya dan segera bekerja di belakang lalu melayani di depan.
Syera bekerja bersama teman perempuan lainnya. Seketika toko Roti mulai senggang Syera mengelap beberapa meja bekas pelanggan yang sekedar duduk untuk ngopi ngeteh atau ngobrol sambil minum.
Toko Roti Sam juga menyediakan minuman layaknya Cafe.
Saat hampir selesai mengelap meja satu penggan masuk ternyata Rayanza pakaiannya dengan jas dan rambutnya acak-acakan.
Syera mengehela nafasnya dan benar saja saat melihat jam di tangannya waktu Syera juga beberapa menit lagi habis.
Setelah selesai dengan meja terakhir Syera memesan kopi sesuai mau Rayanza tadi juga kueh di bungkus tapi minum disini makan juga di sini.
Rayanza melihat Syera menurutinya merasa senang.
"Lo gak pesen apapun," ucapnya menatap Syera.
"Enggak gue lagi puasa," ucap Syera seketika Rayanza mengangguk dan menenteng kueh dan minumannya.
Syera bingung kenapa di bawa lagi.
"Kita jalan-jalan aja sambil nungguin lo buka, ini bisa di makan nanti," ucap Rayanza sangat ramah. Syera mengangguk saja. Tapi, untuk jalan-jalannya Rayanza sedikit aneh.
"Ehm.. Gue pulang sendiri aja deh Yan, gue gak mau sama lo," ucap Syera menolak.
Seketika Rayanza mengangguk.
"Sedikit luka gak masalah kan," ucap Rayanza seakan mengancap pelan tapi, Syera seakan langsung peka.
"Ok gie jalan sama Lo," Syera terpaksa menjawab mau ikut terpaksa mau.
Syera melajukan langkahnya mengikuti Rayanza menaiki mobilnya.
Duduk tenang di dalam mobil seketika itu Syera merasakan suasana menakutkan.
Saat mobil mulai berjalan rasanya lumayan tak menakutkan tapi, merinding juga dengan tangan Rayanza yang membuat Syera seakan ingat dengan kejadian hari itu.