
Kegiatan yang tak akan ada bedanya sama saja seperti pada setiap harinya bedanya sekarang di manusia beda gender ada di satu ruangan dan mereka terdiam dengan ponsel tiba-tiba melangkah keluar dengan berlari.
Siapa lagi jika bukan Syera. Langkah Alarico keluar kamar setelah Syera sangat pelan dan santai saat dimana melihat kebawah Alarico melihat Syera berjalan pelan.
"Ngapa lo?" Alarico bingung tapi, saat melihat arah tatapan Syera Alarico menghentikan langkah kaki dan menatap Syera.
Syera menatap Alarico saat netra mereka saling bertabrakan tatapan mata dua arti satu dengan artian gak bakalan tahu, dan satunya dengan arti senyuman setulus itu tatapan mata penuh cinta dari dia ke Alarico.
Syera mendekat ke dapur dan membantu menyiapkan sarapan bersama Bu Jum.
"Mommy mana Bi," ucap Syera pelan.
"Eh Nyonya udah pergi tadi di jemput Nyonya Leni," ucap Bi Jum mengingat tadi waktu ibu Alarico pergi untuk cek up sepertinya karena itu rutin setiap awal bulan.
Dan saat Syera turun ada Anissa disana duduk di sofa ruang tamu, tatapannya ramah pada Syera saat menuruni tangga tapi, pada Alarico ia sontak berdiri.
Syera yang melihat perubahan ekspresi gadis didepannya yang gak di kenalnya langsung melewati Alarico yang menatapnya dan berhenti didepannya. Syera langsung bergabung dengan bi Jum.
"Ehm.. Bi itu siapa?" Syera bertanya dan Bi Jum melirik kearah Tuan mudanya dan Gadis manis rambut pirang itu berjalan mendekat.
"Oh.. itu kalo gak salah adeknya non Salsa waktu itu masih kecil pas diajak pindah tapi, kok udah gede sekarang," Bi Jum terkekeh Syera juga tersenyum.
"Bi aku bawa bekal aja, Aku udah telat ini sarapannya buat Al sama tamu bilang Al, Aku berangkat duluan dianterin sopir ya Bi," ucap Syera yang bergegas keluar dan meminum susunya sekali teguk habis lalu pergi dengan salam.
"Ngapain lo kemari?" Alarico mendatarkan wajahnya dan melepaskan pelukan di lengannya.
"Ya bertamu lah, Kuliah lo pasti siang Gue mau ikut dong sekedar jalan-jalan aja nanti pas lo masuk pelajaran gue jalan-jalan sendiri."
Kemana?
"Bi? Syera?" Alarico memanggil Bi Jum. Saat itu juga Anissa tiba-tiba mendekat dan mengambil segelas air putih.
"Siapa Syera? Sepupu kamu atau adik angkat kamu, dia kuno banget ya pake tutup kepala," ucap Anissa seketika Alarico menatapnya tajam tatapan yang berartikan gak usah ngomong kalo gak mutu.
Anissa terdiam langsung.
"Oh.. Itu, katanya udah telat terus berangkat di anterin Sopir." Alarico mendengar penjelasan Bi Jum mengangguk ngerti. Alarico melirik Anissa dan berdecak malas seketika menarik kursi ujung dan sarapan pasti ini roti isi buatan Syera.
"Bi ini?" Alarico bertanya sebelum memakan roti isi didepannya.
Bi Jum menoleh dan tersenyum mengangguk.
"Biasa De.. Setiap pagi kan gitu," ucap Bi Jum seketika membuat Alarico sangat bernafsu memang Syera banyak sekali perubahan setelah menjadi istri walau Alarico tidak minta Syera terlalu peka tapi, pura-pura sok gak pekanya kadang buat Alarico salah paham.
Sekarang semua barangnya sudah di bawa kendali Syera termasuk kebersihan kamar dan Alarico saja sampai di marahi karena menyeka rambut basah tak sampai kering, sebenernya gak sering hanya saja Alarico kadang lupa jika ia habis keramas karena saking banyak pekerjaan di ruang kerjanya menumpuk.
Belakangan ini juga Syera lebih posesif pada kesehatannya Soda roko Wine pulang malam Syera batasi dan kalo lewat batas, Syera akan tidur di kamar lain tidak dengan Alarico, ancaman itu berhasil dan Alarico uring-uringan keesokan harinya karena tidak bisa tidur jika tidak memegang tangan Syera .
Mereka memang belum melakukan dinas suami dan istri setiap malam dah itu dari awal malam mereka sah menjadi pengantin bahkan sampai sekarang Syera malu membuka kerudungnya di depan Alarico kadang jika Syera memperlihatkan sedikit rambutnya Alarico langsung menutupnya dengan kain apapun itu entah kaos handuk horden.
Syera jadi malu sendiri, Alarico mah santai aja.