Alarico

Alarico
Empat puluh delapan



Anya menatap sungut sungut kesal Raka yang masih datar menatapnya. Seketika Raka menghela nafasnya dan menatap Anya biasa.


"Gue terima ini lo balik sono takut amat gue korupsi ini bunus kerja adek gue," ucap Bang Raka dengan datar dan kelewat santai.


"Hem.. iya Raka Terimakasih ya, Oiya bodyguard nya cowok aja ya," ucap Aya balik menggoda bang Raka lagi.


"Iya lo mau liat gue matahin pala orang langsung," ucap Raka seperti serius. Seketika Anya tertawa puas.


"Halah Babang Raka sok deh, Cinta enggak giliran ayangnya didekitin yang laen marahnya bikin hati ku meleleh," ucap Anya seketika Bang Raka memirikan bibirnya tersenyum miring dan hampir lebar memperlihatkan giginya.


"Oh.. berani gombal." Bang Raka melangkah mendekat dari tempatnya duduk dan seketika itu Anya berdiri dan menjauh berlarian keluar dan melambai saat didekat mobilnya.


"Makasih ya, Oiya.. Jangan terlalu kasar, Kalo kasar-kasar Aku suruh kamu nikahin janda sebelah rumahku," ucap Anya seketika Bang Raka kembali tersenyum miring.


"Dasar gak guna, Lo mau pulang apa ngelawak atau beneran," ucap Alarico menggoda seketika sudah ada didekat Anya seketika itu Bang Raka mendekatkan wajahnya Anya menjauhkan badannya.


"Bukan muhrim Raka jauh-jauh sana ihh."Anya mendorong dada Bang Raka dengan kedua tangannya berlapis hoddie yang kepanjangan.


"Ok, balik kalian berdua awasi jarak dekat," ucap Bang Raka pada kedua anak buahnya perempuan tomboy memakai helem dan siap menaiki motor sport trail.


Anya pamit sambil mengucapkan salam lalu menjalankan mobilnya pergi tak lama kedua bodyguard perempuan itu menjalankan motornya mengikuti Anya.


Alarico yang melihat Anya dan Abangnya sudah berpisah seketika kembali menghampiri abangnya.


"Bang bagi roko!" Alarico menengadakan tangannya seketika Abangnya memberikan satu kotak dan meminta Alarico tinggal mengambilnya.


Seketika Alarico mengambilnya. Alarico juga menghidupkan rokoknya dengan korek milik Abangnya.


Bang Raka berjalan meninggalkan sang adik yang membuka amplopnya dan tanpa menghitung berapa lembar uanganya. Alarico melipatnya dan kembali memasukan dalam amplop. Alarico berbalik melangkah ke tempatnya duduk tadi dan mulai menghabiskan satu kaleng sodanya.


Di tempatnya kini Anya Satya latin sampai. Anya mengucapkan terimakasih.


Tapi, saat baru saja melangkah masuk sebuah sepeda mini khas perempuan dengan keranjang didepannya datang masuk garasi.


"Kak, aku nginep sini di rumah utama sumpek Berantem mulu nilai mulu sekolah mulu, Kerjaan.. mulu," adunya. Seketika berjalan masuk rumah tanpa menunggu persetujuan sang pemilik rumah.


"Zulaika, kamu gak boleh gitu yang namanya orang tua itu gitu, kamu mau dapet pahala atau dosa sih, Sekarang ganti baju terus tidur. Besok Kakak anterin kamu kesekolah," ucap sang kakak pada adik perempuannya.


"Iya Kak nanti Zulaika lagi sibuk ama bestinya," jawab Zulaika pada sang kakak yang hanya menggeleng.


"Cepet ya.. Jangan tidur pake baju keluar," Wanti-wanti sang kakak sebelum menaiki tangga masuk ke dalam kamarnya.


Di tempatnya Syera sedang duduk sambil nonton tv tapi hpnya menyala panggilan Zulaika.


"Gue baru sampe rumah Kak Anya Ra!" Beritahu Zulaika.


"Iya.. gue tahu ada suara Kak Anya dari tadi." Jawab Syera.


"Lo kurang kerjaan nelpon sambil jalan kerumah kak Anya." Syera berucap sebal pada Temannya yang terlalu kesal dengan ulah orang di sekitarnya apa lagi ketika si Zulaikan baru akan menghela nafas eh suara kaca pecah.


Kira-kira begitulah hal yang Syera dengar ketika sedang telponan dengan Zulaika.