
Alarico terdiam dengan memainkan ponselnya sambil berjalan-jalan. Syera menatap sekitar sambil mengikuti langkah Alarico di sampingnya.
"Ra!" Alarico tiba-tiba bicara menyimpan ponselnya.
"Lo pernah ngerasain hal yang enggak lo suka harus tetep suka, Gue ngerasain itu," ucap Alarico seketika menghentikan langkahnya di depan kolam ikan mas buatan dan Syera melangkah duduk di pendopo pinggir kolam.
"Gue pernah tahu rasanya di paksa gak enak," ucap Alarico seketika bercerita tentang dirinya yang dulu merasa paling tidak di perdulikan dan tidak di sayang.
"Al... Emang aku gak ada di posisi kamu tapi, Kamu adalah yang terhebat karena kamu masih bisa sayang ke mereka, papa kamu? Mama kamu? Mommy kamu? mereka punya alasan pasti ngelakuin itu," ucap Syera sangat pelan.
"Iya Ra..."
Syera tersenyum seketika hari mulai senja dimana matahari mulai berganti tempat dengan sang bulan dan jubah hitam bertabur bintang perlahan menutupi jubah ke jingga an yang mulai pudar bersamaan dengannya pergi berganti tempat.
Mereka berjalan ke arah motornya. Syera tiba-tiba menghentikan langkahnya ponselnya berdering dengan panggilan Mama Leni.
"Assalamualaikum hallo. Mah."
"Waalaikum salam nak, Syera kamu dimana?"
"Lagi sama Al Mah kenapa mah?"
"Syera nak tolong kamu jaga Al jangan sampe dia lepas kendali ya.. Kalian dateng kerumah dulu nanti Bang Raka ada disana, ya nak hati-hati," ucap di telponnya seketika di matikan.
Syera terdiam apa maksudnya yang Mama bilang kenapa bilang jaga Alarico, tiba-tiba perasaan Syera perih khawatir gak karuan.
"Ra? lo mau ngapain disana ayo pulang," ucap Alarico yang sudah siap.
Syera kaget dan menoleh pada Alarico seketika Alarico tersenyum dari balik helm ful facenya. Syera melangkah dan naik ke atas motornya.
Saat sudah duduk di atas motor tiba-tiba Syera memeluk perut Alarico dan membuat yang di peluk terkejut rasanya sesak padahal tidak begitu kencang.
Di depan unit rawat vvip Semua keluarga terdekat Falisa datang kecuali, kerabat Om tantenya hanya ayah ibu dan suami juga istri ketiga suaminya.
Tak lama Clara keluar dan menatap Angga.
"Ini tiba-tiba, Maaf sebelumnya keadaan Falisa sangat buruk dan kondisi kesehatannya tak bisa punya harapan lain, Mungkin besok atau beberapa jam lagi Falisa akan meninggalkan kita."
Angga menangis benar-benar tak kuat menahan tangisnya termasuk kedua mertuanya.
"Clara kamu kenal anak saya kenapa bisa mendadak down semua kondisinya," ucap sang ibu, nenek Alarico begitu terkejut.
"Maaf Tapi, itulah yang terjadi bahkan tadi pagi saya masih bisa bicara normal dengannya."
Dokter Clara menatap semuanya yang sedih di ruangan itu dan Leni juga Angga sangat sedih satu lelaki di pinggir pintu berdiri bersandar dengan wajah murung.
"Raka... Kamu yang kuat ya," ucap Dokter Clara.
"Alarico kabari dia," ucap Angga pada Leni.
Leni menelpon Alarico tapi, tak jadi dan malah menelpon Syera.
Ketika akan bilang untuk datang kerumah sakit Leni mengurungkan niatnya.
"Kenapa kamu gak bilang datang kemari!" Angga bicara dengan tatapan tajam dan basah pada Leni.
"Mama Bener pah biar Raka yang jemput pasti Mama tahu kalo Alarico lepas kendali Syera sama Raka cukup buat nenangin Alarico sebentar."
Angga percaya kata-kata putra sulungnya dan berharap Alarico tak akan melewati batas amarahnya.