Alarico

Alarico
Sembilan puluh Sembilan



Tidak ada kata yang baik untuk menggambarkan kekacauan perasaan Alarico bahkan semuanya tak ada gunanya jika ia membuat semuanya lebih baik, Alarico sebenarnya sudah mengikhlaskan sang ibu tapi, Syera?


Syera, gak mungkin Alarico tahan bersamanya waktu ada mendiang sang ibu, Alarico mau menyayangi bahkan suka dengan Syera itu karena melihat Syera dekat dengan mendiang sang ibu.


Sekarang tidak bisa! Alarico tak mau Syera sakit bersamanya Syera harus melepaskannya apapun yang terjadi dan hidup bersama Alarico sekarang yang hampa tak akan membuat hidup Syera bahagia, Lelaki payah sebut saja Alarico seperti itu.


Syera melangkah memasuki kamarnya dan sama sekali tak melihat Alarico kecuali, di ruang kerjanya dengan monitor menyala.


Syera memilih pergi ke kamar mandi dan mendinginkan kepalanya. Saat keluar Syera terdiam dengan menatap cermin kamar mandi.


Apa ini harus ia lakukan, Syera ingin tahu apa perasaan Alarico sekarang dan bagaimana Alarico jadi sekasar ini bahkan dulu tidak terlalu walau tak ada bedanya.


Alarico melangkah keluar ruang kerjanya dan tanpa menoleh ke arah Syera. Padahal Syera ada di depannya dan sedang menggunakan pengering rambut.


Syera juga tidak tahu kalo Alarico keluar ruang kerja padahal lewat pantulan cermin Syera bisa tahu dan Alarico lebih fokus ke ponselnya.


Di depan warung nasi lele remes mpok Rempong Syera janjian dengan Zulaika dan Dinda.


Saat sedang makan. Syera teringat belum menelpon Alarico jika pulang telat. Saat waktu lewat asar juga Syera takut jika Alarico mencarinya.


Tapi, saat membuat pesannya dengan Alarico ada banyak pesan yang sama sekali tidak di baca dan panggilan sudah lebih dari lima kali.


Udahlah palingan juga udah baca, gak bisa angkat telpon itu karena sibuk, Syera memakluminya tapi, Saat di tempat Alarico berada di detik yang sama.


Alarico baru saja menyelesaikan brifing dengan pegawainya walaupun muda Alarico harus belajar dari sekarang dan sejak pagi Alarico sudah di sibukkan dengan panggilan kerja dari abangnya.


Siang saat akan pulang Alarico di cegah abangnya.


Kerjaan lain terus di berikan.


Saat waktu magrib selesai. Al langsung bergegas pulang di antar pak Amat sama seperti pergi tadi.


"Pergi! Al... pergi dari aku... Aku kotor hiks.. aku gak pantes hidup aku mati aja aku mau Mati! Seketika Alarico menatap tak percaya apa yang ia dengar dan lihat dan saat ini yang didepannya Syera penuh luka.


Saat yang sama Zulaika dan Dinda bertemu Soleh yang entah dari mana dan dengan mobilnya tak sengaja melihat Dinda dan Zulaika panik.


"Lo berdua ngapain?" Zulaika dan Dinda saling menatap dan Soleh yang sudah turun dari mobil langsung menatap keduanya.


"Syera ilang!" Soleh langsung terkejut.


"Eh... sebenernya... kita mampir bengkel mobil Zulaika bocor bannya pas itu gue sama Zulaika mampir mini market ninggalin Syera sendiri dan dan kita balik lagi Syera gak ada dan kita bingung kalo pulang kerumah Al, kita takut Al bakalan marah."


"Enggak sekarang gini Lo berdua jelasin sedetailnya sama gue dan gue juga minta Galang temenin kita nyari, Lo berdua ikut gue kerumah Al dan kalo emang gak ada, dan Al marah itu urusan gue," ucap Soleh dengan beranis sedangkan kedua perempuan didepannya slaing diam menatap lalu mengangguk anggukkan kepalanya pelan.


Mereka berdua pergi bersamaan mobil Zulaika yang sudah di perbaiki bannya.


Di rumah Syera dengan penampilan acak-acakan terlihat terus histeris sampai melihat pecahan vas kaca dan mengambilnya untuk menyayat lehernya.


"Aku kotor... aku bunuh orang hiks... Al.. jauh! jauhin aku aku kotor, Kamu gak pantes nyentuh aku Al aku udah buat diri aku buruk aku bahkan lebih buruk dari sampah... Al!" Syera menangis sambil terus mengarahkan pecahan tajam itu ke lehernya.


Tanpa banyak bicara sekali gerak Alarico mencengkaram tangan Syera dan membuat pecahan kaca lepas dengan sendirinya. Syera langsung memeluk Alarico dan menangis. Rambut ikal yang panjang dengan poni yang sudah sepanjang telinga.


Terlihat rambut Syera sangat berantakan.


Alarico membalas pelukannya dan menatap wajah Syera mencium keningnya.


"Al.. Mereka pegang aku mereka pukul muka aku mereka maksa buat aku, lakuin itu, Al... aku gak mau.. aku gak mau Al... hiks... Al... Aku di pukul mereka bentak Hiks... Aku di paksa Al... mereka pegang semuanya aku kotor Al... Hiks... Maafin aku Al... Aku Bodoh.. Aku mati aja.. Aku gak pantes idup... Al... Aku bodoh Hiks.. hiks... Aku takut... Al takut mereka..takut."


Alarico langsung terbakar amarah saat Syera terus menangis bersaaman sesegukannya membuat amarah Alarico memuncak sedikit demi sedikit, menatap wajah Syera juga membuat hati Alarico sakit dan melihat berantakannya pakaian dan wajah Syera yang terluka, sampai ada bekas air mata yang terlihat oleh nya dari jarak sedekat ini, Hal sangat Alarico tak bisa terima.