
"omaaaa!!!!"jerit arvin dari luar pintu
naina bangun dan ingin membukakan pintu
"jangan oma!"boy,melarang naina membukakan pintu
"tapi arvin ada diluar"ucap naina
"biarkan saja dia!"sahut boy
"tidak bisa!"naina ngotot ingin membuka pintu
aqilla melan dan romeo yang tidak tahu apa apa langsung membuka pintu besi tersebut
"jangaaaan!!!"teriak alya dan yang lainnya
glek!
mereka menelan ludah terpaksa
tubuh arvin terlihat penuh darah
"oma"panggilnya
alya dan yang lainnya langsung menarik aqilla dkk mundur
"jangan mendekat!"boy dan danu berada paling depan sambil menodong kan pistol miliknya
"apa tidak ada jalan keluar lainnya?"tanya boy kepada alya
"tidak ada"jawab alya
"habislah kita"ucap danu pasrah
"kenapa kalian nggak mau dekat dengan ku?"tanya arvin
"kamu penuh luka,apakah mereka menggigitmu?"tanya boy
"ini?"tanya arvin balik
"tadi ada perampok masuk kedalam rumah,dan mereka semua dibunuh"jawab arvin
"apa?! jadi kamu tidak tergigit?"tanya boy
arvin menggeleng kepala
"saya tidak akan percaya begitu saja"kata boy
*tap
tap
tap*
suara langkah kaki mendekat kearah pintu
deg!!
boy dan yang lain sangat panik
"kenapa kalian berada disini?"tanya soni,seperti nya aoni belum sepenuhnya sadar
"em kakek"sahut arvin
"mau pergi kemana kamu arvin?"tanya soni
mata arvin langsung berubah merah,diikuti kuku memanjang dan taringnya yang keluar
"bukan kah kamu sudah minum begitu banyak? kamu bahkan sudah menghabisi semua penjaga,apakah itu masih kurang?"tanya soni
deg!!
boy dan yang lain nya terkejut mendengarnya
"aku,tidak bisa mengendalikan diri!"kata arvin
soni melesat dengan cepat
tak!
soni memukul tengkuk arvin
bruk!"
arvin langsung jatuh kelantai dan pingsan
deg!
aqilla,romeo dan melan sangat terkejut melihat nya
"om?"panggil boy
"hm"sahut boy
"aish! rasa haus ini sangat menyiksa"ucap soni kesal
soni berjalan mendekati aqilla
diangkatnya tangan aqilla
"kenapa ini bisa terluka?"tanya soni sambil melihat ujung jari aqilla yang tergores
"bagaimana dia bisa tahu?"tanya aqilla dalam hati
"om harus ingat,dia istri om!"kata boy takut takut
dirinya tahu soni bukanlah lawannya walaupun dirinya punya sepuluh senjata elit pun dirinya tidak akan bisa menang dari nya
"a apa yang lain sudah terbangun?"tanya naina
"belum,hanya saya dan dirga yang sudah terbangun"jawab soni datar
"mulai sekarang kita tidak ada penjaga lagi karna dia sudah menghabisi mereka semua!"kata soni menunjuk kearah arvin yang tergeletak dilantai
*tap
tap
tap
dirga datang ke ruangan itu..
"melan"gumam dirga saat melihat kehadiran melan disana
tiba tiba tubuh mereka lemas kembali
bruk!!
soni dan dirga jatuh kelantai
"om!!"jerit aqila dan melan serentak
mereka berdua langsung menghampiri dirga dan soni
"hiks om kenapa lagi?"tanya aqilla" tadi kesurupan sekarang malah pingsan lagi"kata aqilla
"saya tidak apa apa"sahut soni
tenang saja,setelah saya tidak ada nanti janin diperut kamu akan menemani mu"kata soni
"huaaa!!! om jahat!!"rajuk aqilla sambil nangis kejer
"cup cup jangan nangis
"saya cuma bercanda kok"kata soni
"om janhan mati dulu,nanti aku tidak ada yanh nampung!"ucap melan sambil menangis
semua orang diruangan itu slaing tatap sambil menahan tawa mereka
"ck,kamu hanya khawatir tidak ada yang mau menampung kamu"kata dirga
"bawa aku kekamar!"pinta dirga
entah apa yang ada dipikiran dirga saat ini
melan dibantu romeo membawa dirga kekamar tamu
"cepat bantu yang lain!"suruh dirga
romeo langsung pergi membantu yang lain
"kunci pintunya"suruh dirga
tanpa berpikir lagi melan langsung mengunci pintu kamar
"sini!"panggil dirga
melan langsung menghampiri dirga
"naik"dirga menyuruh melan naik kekasur
dengan polosnya melan menuruti semuanya
sasy melan mendekat dirga langsung menarik nya dibawah kungkungannya
"om!"wajah melan memucat
"hem"sahut dirga
"maaf,aku harus mempertahankan keturunan ku dengan cara seperti ini"ucap dirga
dirga langsung meniduri melan meskipun melan menolaknya
dirga melakukannya dengan cepat sehingga membuat melan pingsan karna kesakitan