
"saya sudah mengerahkan sebagian anak buah saya untuk berjaga disini,saya juga akan menyuruh rendi tinggal dan berjaga disini"kata soni selalu dengan tatapan tanpa ekspresi
"terimakasih om"ucap vira
boy melotot mendengar vira memanggil soni dengan sebutan om"kenapa mama manggil bokapnya azka dengan panggilan om?"tanya boy
"sekarang belum saatnya dia tahu"soni melarang vira memberitahu boy
"baiklah"vira menuruti perkataan soni
setelah puas melihat wajah joy,azka berdiri berbalik badan lalu pergi
"dia benar benar tidak menghargai pengorbanan papa ku"ucap boy geram dengan tingkah azka yang menurutnya sangat kurang ajar
"boy!"dimas memperingati boy
"saya pamit dulu"ucap soni,kemudian pergi menyusul azka keluar
"kenapa kakek sama mama begitu takut dengan mereka?"tanya boy
"seperti yang dikatakan oleh tuan soni,belum saatnya kamu tahu"balas dimas
"sepertinya aku harus mencaritahu sendiri"gumam boy
"anak ini sangat keras kepala"dalam hati rendi
ditempat lain...
axel dan arsy untuk pertama kalinya tinggal satu rumah,axel ikut tinggal dirumah milik arsy
semua sudah berada dimeja makan..
hening...
axel yang sudah terbiasa meminum darah dan memakan daging mentah hanya bisa menelan paksa hidangan dihadapannya
"kalau seperti ini terus lama kelamaan aku akan kehilangan tenagaku kalau terus memakan makanan seperti ini"gumam axel
arsy yang mengetahui nya langsung menghentikan makannya"aku lupa kalau dia vampire yang haus darah"dalam hati arsy
ting tong!
suara bel rumah berbunyi
ningsih,pembantu dirumah itu langsung bergegas membukakan pintu
"hay bi ningsih!"sapa doni dan fino
"silahkan masuk den"ucap ningsih
"arvin mana bi?"tanya fino
"ada diruang makan"jawab ningsih
mereka berdua bergegas menemui arvin
"ja jadi mereka berdua beneran orang tuanya arvin?"tanya fino terkejut
"sulit dipercaya"ucap doni
"duduk!"suruh arsy karna mereka berdua hanya bengong
"i iya tante"sahut fino dan doni
"bik,ambil kan piring lagi"suruh arsy
"iya non"sahut ningsih
fino dan doni memperhatikan axel yang hanya fokus dengan makanan miliknya
"bokapnya arvin muda banget"bisik doni
"nyokapnya juga,mereka seperti adik kakak kalau lagi jalan bareng"sahut fino
axel merasa sedikit tertekan karna tiba tiba saja mempunyai istri dan anak
tiba tiba hidung axel mencium bau darah segar matanya langsung menyala
"haus"ucap axel
arvin memberikan air putih kepada axel namun tidak dihiraukan oleh axel,matanya menatap kearah bik ningsih yang sedang berjalan kearah meja
tap!
arsy langsung memegang bahu axel yang mau berdiri
"untung aku cepat menyadarinya"gumam arsy
"akhh!"axel memegang lehernya
"cepat obati luka bibik!"ucap arsy
"bagaimana non tau kalau saya terluka?"tanya ningsih dalam hati
"baik non"sahut ningsih
ningsih melihat axel yang seperti sedang menahan sakit"tuan kenapa non?"tanya ningsih
"obati saja luka kamu,kalau luka mu belum sembuh jangan pernah kamu muncul dihadapannya"kata arsy
"baik non"ningsih langsung bergegas pergi kekamarnya
"ada apa dengan non arsy? tidak biasanya dia seperti itu"tanya ningsih dalam hati
diruang makan..
"bagaimana?"tanya arsy kepada axel
axel langsung meraih air putih diatas meja dan langsung meminumn nya sampai habis
"ini tidak membantu sama sekali"ucap axel frustarsi
"tidak perlu,aku sudah membawanya"ars datang berkunjung sambil membawa darah yang sudah dikemas rapi
axel langsung mengambil dan meminum nya
"bagaimana?"tanya ars sambil tersenyum misterius
axel menatap ars"lumayan"jawab axel
"cih,lumayan kata mu?"tanya ars kesal
"om!"rayhan berlari dari luar
"hai"sapa axel
"om tau nggak aku sama papa tadi jalan jalan kelumah papa soni"cerita rayhan
"hey kamu seharusnya memnaggilnya kakek bukan papa"kata axel
"nggak,dia papaku bukan kakek"sahut rayhan kesal
"ck,dia itu teman kakek kamu,bukan teman papa mu,bagaimana bisa kamu memanggil nya papa"ucap axel tidak habis pikir
"sepertinya kamu mulai seperti azka,hal kecil saja diributkan"ucap ars
axel memutar bola matanya mendengar perkataan ars
"kak!"sapa arsy
"om ikut lay sebental!"rayhan mengajak axel
"kemana?"tanya axel
"ikut aja"rayhan menarik tangan agar ikut dengannya
ars duduk dimeja makan"tolong jaga dan kendalikan axel,jangan sampai dia lepas kendali"gumam ars
"jauhkan dia dari pembantu kamu itu"gumam ars lagi
"iya kak"jawab arsy
"arvin!"ars menoleh kearah arvin
"kamu harus bertahan,kami sedang berusaha mencari obat untuk penyakit kamu"kata ars kepada arvin,ars sengaja mengatakan itu didepan teman teman arvin
deg!
fino dan doni sangat terkejut mendengarnya
"lo lo sakit vin?!"tanya fino
"tega lo sama kita vin,kenapa lo nggak pernah bilang kalau lo sedang sakit?"tanya doni,ia merasa sangat kecewa karna arvin menyembunyikan hal sepenting itu
"gue nggak mau di kasihani,sebab itu gue nggak ngasih tau kalian"jawab arvin dengan bibir bergetar
"lo lo jahat banget vin!"ucap fino kecewa
"apa salahnya kalau gue nggak mau kalian tahu kalau gue sedang sekarat?!"tanya arvin dengan mata berkaca kaca
deg!
fino dan doni kembali dibuat terkejut
"sesekarat?!"tanya fino
"bukan itu maksud gue"arvin panik sendiri"bisa bisanya aku keceplosan"gumam arvin
"sudahlah arvin,lebih baik teman kamu tahu,mereka bisa melarang kamu melakukan hal hal yang akan membuat kesehatan kamu memburuk"kata ars
"ta tapi"arvin langsung berlari masuk kedalam kamarnya
"arvin!!"panggil fino dan doni
"kalian berdua sebagai temannnya harus menjaga nya agar dia tidak melakukan sesuatu yang bisa mengancam nyawanya"kata ars kepada kedua teman arvin
"ba baik om"sahut mereka berdua
"kami tidak akan membiarkan arvin melakukan hal bodoh lagi"kata fino
"bagus" ars puas dengan jawaban mereka
"kalau begitu saya pulang dulu"ucap ars
"arsy,ini obat axel"ars sengaja mengatakan obat dihadapan fino dan doni
setelah itu ars langsung pergi mencari rayhan dan axel
"darimana saja kalian?"tanya ars
"sana pulang sama papa mu"kata axel
"papa lay dibeliin tembak tembakan sama om axel"ucap rayhan senang
"axel!"geram ars,namun axel sudah melarikan diri duluan
"dasar"kesal ars
ars tidak membelikan mainan tembak tembakkan itu karna ars tau rayhan akan menggunakan nya untuk menembak para pengawal dan pembantu dirumah
"ayo pulang"ajak ars
saat masuk kedalakam rumah mata axel langsung berubah merah karna mencium bau darah segar
"darah!"gumam axel
ternyata ningsih tidak sengaja melukai tangan yang lainnya
taring axel keluar saat melihat ningsih didapur