(3) Vampire

(3) Vampire
6 vampire



sebelum bawahan dirga sampai dimansion,soni sudah terlebih dahulu menyuruh seluruh asisten rumah tangga dan tukang kebunnya pergi kemansion sastrawijaya untuk membersihkan semua ruangan dan halaman disana


soni dengan santainya duduk disofa sambil menonton penyiksaan yang dilakukan rasya terhadap julia


"aju sudah lama menantikan hari ini julia!"seru soni


"pa!"panggil azka dengan lemah


rasya menoleh kearah azka,ars dan axel


"aku sangat merindukan kalian"mata rasya berkaca kaca saat melihat ars dan axel


"tapi sayang,kalian tidak mengenaliku


aku akan membuat ingatan kalian kembali secepatnya agar kita bisa mencari sea, arsy,tante naina dan tante salsa bersama sama" dalam hati rasya


soni langsung bangun dari tempat duduknya


ia menggertakkan giginya melihat darah begitu banyak membasahi baju azka


"kurung wanita gila itu diruang bawah tanah"teriak soni


"baik om!!"sahut rasya


rasya melirik kearah azka,ars dan axel sekilas kemudian menyeret julia yang sudah tidak berdaya menuju ruang bawah tanah


"pa dia"tunjuk azka kearah julia yang sedang diseret oleh rasya


"biarkan saja,wanita itu pantas menerimanya"kata soni


"tapi"protes azka


"tidak ada tapi tapian!"bentak soni


"ambil minum untuk azka!"suruh soni


dirga yang mengetahui maksud soni langsung masuk kedalam ruangan pribadi yang selama ini tidak ada satu pun pembantunya yang boleh masuk


ruangan itu juga selalu tertutup rapat sampai sampai membuat ria dan yang lainnya sangat penasaran dengan isi ruangan itu


tak lama kemudian dirga keluar dari ruangan itu membawa sebotol minuman


soni menuangkannya digelas transparan lalu memberikannya kepada azka


"minum!"suruh soni


darah azka tidak akan berhenti keluar kalau dia tidak meminum obatnya,yaitu darah segar yang baru kemarin diambil oleh soni dari seekor sapi yang sengaja ia beli untuk diambil darahnya


"tutup hidung kamu dan habiskan minuman itu!"titah soni


"tapi pa,baunya seperti darah


aku tidak bisa meminum ini"tolak azka


"beraninya kamu membantah papa??"tanya soni,ia menunjukan ekspresi marahnya


"ba baiklah aku akan meminumnya"kata azka


ars dan axel bergidik ngeri melihat azka meneguk habis cairan merah yang sangat mirip dengan darah itu


"dan rasanya persis kayak darah"dalam hati azka


ia terpaksa menelannya karna takut soni marah


"sudah selesai??"tanya soni saat melihat rasya


"sudah om"sahut rasya


rasya mengalihkan tatapannya kearah ars dan axel,


sejujurnya dia sangat merindukan mereka berdua,saking rindunya ingin sekali rasanya ia memeluk mereka


namun ia sadar,ars dan axel tidak mengenalinya dan juga terlihat sangat jelas dimata ars dan axel kalau mereka berdua sangat takut ke padanya


"om kapan ingatan mereka akan pulih"tanya rasya tanpa ekspresi


soni menggeleng kepala


"kalian bertiga perkenalkan dia rasya anak dari alex dan nadia sahabat orang tua kalian"kata soni


"saya ars"kata ars


"sa saya" kata axel,ia sedikit gugup karna rasya menatapnya dan ars dengan intens


"saya azka"kata azka memperkenalkan diri


azka meraba lukanya tdi


ia sangat terkejut saat meraba luka dilehernya ternyata sudah tidak terasa sakit lagi


"kenapa ka??"tanya ars khawatir


"ini tidak terasa sakit lagi"jawab azka sambil memegang lehernya


"benarkah??"tanya ars setengah tidak percaya


rasya tersenyum tipis melihat kepolosan mereka


"om aku pamit dulu,kerjaan ku masih sangat banyak dikantor"pamit rasya


"baiklah,terimakasih atas bantuan tadi"ucap soni


"sama sama om"setelah mengatakan itu rasya langsung pergi


"bereskan semuanya!!,jangan sampai tertinggal setetes darah pun"titah soni


dan jangan lupa ambil hadiah untuk mu juga"titah soni


"kalian bertiga cepat ikut dengan ku"ajak soni


mereka bertiga langsung mengikuti soni masuk keruangan pribadinya


soni memberikan berkas berkas perusahaan sastrawijaya kepada ars dan axel


"dan ini juga"soni memberikan berkas perusahaan abizar group keapada azka


"kalian harus mempelajari semua ini dalam waktu,aku karna menyerah kan perusahaan keopada kalian"kata waktu soni


"tapi pa"protes azka


"tidak ada tapi tapian,kalian harus mempelajari semua itu,setelah kalian paham kalian harus segera mengambil alih perusahaan"tekan soni


"tapi kami punya pekerjaan pa"protes azka lagi


"apakah kalian akan menyuruhku menghandel semuanya selamanya?!?"bentak soni


"ti tidak pa"jawab azka


sedangkan ars dan axel tertunduk diam


setelah itu soni pergi meninggalkan mereka bertiga didalam ruangan


"awasi mereka bertiga,pastikan mereka mempelajari semua berkas itu dengan benar"kata soni kepada dirga


"baik tuan"jawab dirga


mereka bertiga mempelajari semua berkas itu hingga larut malam


saat jam satu malam dirga membuka pintu ternyata mereka sudah tertidur di atas sofa


dirga mengumpul dan menyusun semua berkas itu dan menyimpannya,ia juga mengambil selimut lalu menyelimuti mereka


keesokan harinya..


mereka bertiga berlari kocar kacir karna sudah kesiangan


tampak rendi sudah menunggu mereka didepan pintu


"om papa mana??"tanya azka


"tuan besar sudah pergi kekantor"jawab rendi


"om dirga mana??"tanya ars


"tuan dirga sudah kembali ke mansion"jawab rendi


mereka bertiga bergegas menuju kamar azka untuk membersihkan tubuh


setelah mandi dan berganti pakaian ketiganya bergegas keluar rumah mencari taksi


"tuan muda sarapan kalian!"panggil rendi


namun mereka bertiga sudah sampai diluar gerbang


rendi menggeleng kepala melihat kelakuan mereka


sesampainya dikantor mereka bertiga disambut oleh alya dan yang lainnya


alya dan yang lainnya melongo melihat penampilan mereka bertiga,rambut mereka yang acak acakkan membuat mereka terlihat tampan dan seksi


tatapan azka dan alya tidak sengaja bertemu


azka menunjukkan senyum manisnya kearah alya sehingga membuat gadis itu salah tingkah


sela merasa sangat kesal dan cemburu melihat alya dan azka saling tatap tatapan


"ada apa dengan ku??"tanya alya dalam hati


jantungnya terus berdebar setelah bertatapan dengan azka tadi


untuk menghilangkan rasa canggungnya


alya langsung mencecar azka dengan pertanyaan


"apakah luka kamu sudah sembuh??"tanya alya


"luka??"tanya azka,ia bahkan sudah lupa kalau ia pernah terluka


azka meraba lehernya yang hanya dibalut plester


"luka separah itu kenapa kamu hanya menutupinya pakai plester??"tanya alya heran


"m itu,"azka bingung menjawabnya


"ardi!"seorang laki laki paruh baya langsung memeluk azka


"mana yang terluka?? mana??"tanya nya dengan panik


"ayah,aku baik baik saja


itu hanya luka kecil"azka mencoba menenangkan samsul


"syukurlah"ucap samsul


defran kembali meradang melihat kedekatan samsul dan azka


"ayah bahkan tidak menyapa ku,apakah aku benar benar sudah tidak penting lagi bagi ayah"tanya defran dalam hati