
“Jadi sekarang Anda ingin bagaimana?” Tanya Armand kepada Willard yang masih berdiri terdiam disana. “Kita tidak mungkin terus disini sampai Marquis Henry Alston bangun bukan? Anda sebagai Duke Harbert juga pasti punya banyak pekerjaan.”
“Aku masih belum dapat memikirkannya. Jika kita pergi dari sini meninggalkannya begitu saja, aku tidak tahu apakah Elyana akan kembali mencoba membunuhnya.” Willard mengangkat kepalanya dan melihat ke atas dengan tatapan yang putus asa.
“Kenapa kamu sangat terobsesi kepada perempuan seperti itu? Saya rasa masih banyak perempuan di sana yang lebih baik daripada Elyana Alston.” Armand dengan perlahan membuat ayah Elyana meminum obatnya.
“Entahlah, aku juga tidak tahu…” Willard berjalan ke kursi yang tak jauh darinya dengan lelah.
“Perasaan cinta sangat sulit dimengerti.” Setelah selesai memberikan obat pada ayah Elyana, Armand membereskan obat yang ada di nampan itu. “Apakah Anda ingin teh?” Tanya Armand sambil menuangkan teh ke dalam cangkir.
“Aku akan meminumnya nanti.” Willard duduk di kursi itu dengan perasaan tidak berdaya, beberapa ingatan tentang Elyana muncul di pikirannya dan membuatnya semakin putus asa.
“Teh ini akan dingin jika Anda tidak meminumnya sekarang.” Ucap Armand yang kini berdiri di depan Willard sambil membawa satu cangkir teh.
Willard melihat ke mata Armand yang menatapnya dengan tatapan yang sedikit khawatir. Ia pun mengambil cangkir teh yang ada di tangan Armand dan meminumnya dengan perlahan. “Panas.” Willard melihat pantulan dirinya dalam teh itu dan terdiam beberapa saat.
“Apakah kamu benar-benar tidak tahu kapan Marquis Henry Alston akan bangun?” Tanya Willard dengan perasaan yang benar-benar putus asa.
“Saya bukanlah seseorang yang mempunyai banyak pengetahuan tentang hal ini, jika Anda ingin memastikannya dengan cepat bagaimana jika memanggil seseorang yang ahli dalam hal ini?” Armand menatap Willard dengan tatapan yang serius.
“Apa yang sebaiknya aku lakukan?”
***
Dengan air mata yang terus mengalir Elyana berlari kembali ke kamarnya. Saat ia sudah masuk ke kamarnya, Elyana menutup pintunya dengan keras dan menguncinya. “Berhentilah menangis! Tidak akan ada yang peduli denganmu walaupun kamu menangis seperti ini! Aku harus memikirkan cara lain untuk membunuh orang tua itu, tapi Willard kini sudah mengetahuinya! Sial, aku harus bagaimana?!” Elyana terus menyeka air matanya yang terus mengalir.
“Kenapa kamu peduli jika Willard mengetahui bahwa kamu yang meracuni ayahmu sendiri?” Dari pandangan Elyana terlihat seorang wanita yang berdiri di depannya dan melihatnya dengan tatapan yang kosong.
“Siapa kamu?!” Elyana ketakutan sekali dengan kehadiran orang itu, tubuhnya gemetaran saat ia melihat ke mata orang itu.
“Berhentilah berpura-pura tidak tahu, kenapa kamu mencoba untuk melupakannya?” Orang itu tersenyum sedih melihat ke arah Elyana.
Elyana merasa suaranya menggema di seluruh isi kepalanya. “A-Apa maksudmu?! Aku tidak tahu kamu siapa!”
“Tidak, kamu tahu aku. Aku rasa aku harus memperlihatkannya padamu, karena bagaimanapun juga aku adalah dirimu dan jika kamu tetap seperti ini, hidup kita akan berakhir dengan cara yang sama.” Ucap orang itu masih dengan senyuman sedih di wajahnya.
“Apa maksudmu?!” Teriak Elyana kepada orang itu dan tiba-tiba pandangannya menjadi berwarna putih semua.