
Luka Elyana perlahan mulai sembuh. Selama masa penyembuhannya, Elyana memutuskan untuk tinggal di kediaman Willard. Ia sudah mengirimkan surat kepada ayahnya, tetapi surat itu tidak pernah dibalasnya.
"Sepertinya aku harus segera pulang." Elyana menatap luar jendela dengan tatapan kosong dan memikirkan tentang ayahnya yang tidak membalas suratnya.
"Kamu yakin? Lukamu belum sembuh sepenuhnya, lebih baik kamu tinggal sedikit lebih lama lagi." Willard berjalan mendekati Elyana sambil membawakan makanan untuk Elyana.
"Ya, lagipula aku sudah terlalu lama tinggal disini, dan pasti akan ada rumor buruk yang beredar jika aku tinggal lebih lama lagi disini." Elyana memalingkan pandangannya dari jendela dan menatap Willard.
Willard tampak tidak senang dengan apa yang dikatakan Elyana, tetapi ia hanya bisa menghembuskan napas kecewa dan menyodorkan makanan yang dibawanya kepada Elyana.
"Baiklah, aku akan menyiapkan kereta kuda untukmu tetapi dengan satu syarat." Setelah menyodorkan makanan yang dibawanya kepada Elyana, Willard duduk di samping Elyana.
"Syarat?" Elyana mengambil makanan yang disodorkan oleh Willard dan memakannya dengan perlahan.
"Biarkan aku menemanimu sampai ke kamarmu." Willard menatap Elyana dengan tatapan yang memohon.
"Kalau itu…" Elyana tampak ragu dengan syarat yang diinginkan oleh Willard.
"Tidak boleh?" Willard sedih melihat reaksi Elyana yang tidak sesuai dengan yang diharapkannya.
Elyana sebenarnya tidak terlalu setuju dengan syarat yang diajukan oleh Willard, ia takut jika Willard terlalu lama di sana dan bertemu dengan ayahnya, situasinya akan menjadi sangat buruk dan Elyana tidak ingin itu terjadi, sudah sangat banyak yang harus Elyana pikirkan. Jika harus melihat Willard yang berkelahi dengan ayahnya itu, hal itu akan membuat kepalanya sakit.
Willard yang mendengar ucapan Elyana terlihat sangat senang, kemudian ia segera menyuruh pelayannya segera menyiapkan kereta kuda untuk menuju ke kediaman Marquis Alston.
Willard pun membopong Elyana menuju ke kereta kuda yang sudah disiapkan oleh pelayan Willard. Elyana tersipu malu saat Willard membopongnya ke kereta kuda, Elyana sudah mencoba untuk menolak Willard untuk membopongnya tetapi semua itu diabaikan oleh Willard, ia bersikeras untuk membopong Elyana.
Sepanjang perjalanan ke Kediaman Marquis Alston, Willard tampak sedang memikirkan sesuatu dan Elyana menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong lagi.
"Kenapa kamu selalu melihat ke arah luar jendela dengan tatapan seperti itu, apakah ada ada masalah yang tidak bisa kamu bicarakan?" Willard yang tadi sedang berada di pikirannya, kini kembali saat melihat Elyana yang melihat ke arah luar jendela dengan tatapan kosong.
"Entahlah, aku juga tidak begitu tahu. Hanya saja dengan begini aku menjadi sedikit lebih tenang." Ucap Elyana tanpa menoleh ke arah Willard.
"Sedikit lebih tenang?" Willard sedikit sedih saat melihat Elyana yang masih melihat ke arah luar jendela dengan tatapan kosong itu.
"Ya, menatap sesuatu tanpa memikirkan apapun dan tanpa merasakan apapun membuatku sedikit lebih tenang, karena aku tidak tahu hal buruk yang akan terjadi padaku di masa depan." Elyana perlahan menolehkan kepalanya ke arah Willard dengan tatapan kosong.
Willard terkejut dengan tatapan kosong Elyana yang kini mengarah kepadanya, kemudian ia menjadi sangat sedih saat memikirkan apa yang mungkin sudah dialami Elyana sampai membuatnya berpikir seperti itu. Willard sepertinya ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak tahu apa yang ingin dikatakannya. Pandangan Elyana kembali menatap luar jendela. Perjalanan mereka berdua menuju kediaman Alston kini sangat sunyi.