
Beberapa hari kemudian Elyana benar-benar mendapatkan surat undangan dari Arabella, di surat itu mengatakan bahwa ia ingin bertemu di toko kue yang pernah di kunjungi Elyana.
"Surat dari siapa itu?" Tanya Willard sambil meminum teh yang telah disiapkan oleh pelayan Elyana.
"Arabella Abelard." Elyana membaca surat itu berulang kali.
"Hmm, apa kamu ingin pergi?" Tanya Willard lagi.
"Mungkin?" Elyana tampak sedikit ragu untuk pergi ke tempat yang dikatakan oleh Arabella.
"Waktu pesta teh kemarin aku sama sekali tidak berbicara dengannya, dan juga aku tidak tahu kenapa dia mengundangku waktu pesta teh nya berakhir. Aku benar-benar tidak mengerti." Elyana berpikir dengan keras apa sebaiknya ia pergi atau tidak.
"Menurutmu apa aku harus pergi?" Elyana menyerah berpikir sendiri dan bertanya kepada Willard.
"Jika kamu ragu, aku dengan senang hati menemanimu pergi kesana." Ucap Willard sambil tersenyum.
"Tidak bisa diharapkan." Gerutu Elyana dalam hatinya.
"Aku rasa aku akan pergi sendiri." Ucap Elyana sambil menyeruput tehnya.
"Kamu yakin?" Willard sepertinya meragukan Elyana.
"Sepertinya?"
"Hah… aku benar-benar mencemaskanmu." Willard menghembuskan napas berat saat mendengar jawaban dari Elyana.
***
Hari Elyana bertemu dengan Arabella pun tiba, ia berjalan dengan sangat percaya diri pergi ke toko kue tersebut. Walaupun dari luar ia sangat percaya diri, tetapi dalam hatinya ia sudah sangat khawatir.
"Bagaimana ini? Aku memang menolak Will untuk menemaniku pergi bertemu Arabella, tetapi entah kenapa sekarang aku sangat menyesalinya…"
Elyana tiba di depan toko kue yang dimaksud Arabella. "Apakah sebaiknya aku pulang saja?"
"Nona Elyana!"
Elyana mendengar suara yang tidak asing di telinganya, dan saat ia menoleh ke arah suara itu, tidak salah lagi itu adalah Arabella.
Elyana yang tadinya ingin pulang kini mengurungkan niatnya karena ia sudah tidak bisa kembali lagi. Elyana berjalan perlahan menuju tempat dimana Arabella duduk dan Arabella dengan senangnya menyambut kedatangan Elyana.
"M-maaf, apakah kamu sudah menunggu lama?" Suara Elyana sedikit bergetar saat bertanya kepada Arabella.
"Ah… ha… ha… ha…" Elyana tertawa awkward saat mendengar jawaban dari Arabella.
"Ayo silakan duduk." Arabella masih tersenyum memandangi Elyana.
"Aneh sekali, aku rasa Arabella bukanlah orang yang antusias seperti ini di pesta teh yang diadakannya sebelumnya." Elyana bergumam dalam hatinya.
"Anu… aku ingin meminta maaf sebelumnya." Ekspresi wajah Arabella kini berubah menjadi sedikit khawatir.
"M-minta maaf?" Elyana ragu untuk menjawab Arabella.
"Gawat, apa yang sudah aku lakukan sampai membuat Arabella meminta maaf… di pesta teh sebelumnya aku juga hanya diam saja… sial, apakah ada sesuatu yang terjadi sebelum aku memasuki tubuh 'Elyana'." Ucap Elyana dalam hatinya dengan ekspresi yang khawatir jika dirinya membuat suatu masalah.
"Ya, waktu Pangeran Albern ingin menampar Anda seharusnya saya segera membantu Anda, tetapi kakak laki-laki saya menghentikan saya. Dan waktu pesta teh yang saya adakan, saya tidak bisa mengajak Nona Elyana berbicara sama sekali. Maaf." Arabella meminta maaf kepada Elyana dengan mata yang seakan ingin menangis.
"I-itu…bukan salahmu. Lagipula permasalahan dengan Pangeran Albern itu disebabkan olehku dan waktu pesta teh yang kamu adakan itu juga salahku karena tidak mencoba untuk berbicara dengan mereka. D-dan bisakah kamu melepas formalitas mu? Jangan memanggilku Nona, panggil saja aku Elyana seperti s-sebelumnya." Elyana benar-benar kebingungan dan gugup dengan sikap Arabella.
"Anda benar-benar orang yang sangat baik hati! Sebenarnya, pesta teh itu diadakan oleh orang tua saya, makanya saya harus berhati-hati dalam sikap saya. Tapi saya tidak menyangka Nona Elyana akan datang!" Ucap Arabella dengan mata yang sangat antusias.
"O-oh… sudah kubilang jangan memanggilku dengan sebutan 'Nona' panggil saja Elyana dan tidak usah menggunakan formalitas, kita kan seumuran…" Elyana berusaha untuk menanggapi Arabella.
"Benarkah? Kalau begitu… E-Elyana." Arabella tersipu malu saat memanggil nama Elyana.
"Um." Elyana tersenyum saat melihat Arabella yang tersipu malu saat memanggil namanya.
"Mungkin ini tidak terlalu penting, tapi saya selalu mengagumi Anda sejak kecil. Mungkin Anda sudah tidak mengingatnya tetapi saya selalu mengingat betapa hebatnya Elyana saat dulu hingga sekarang! Ini benar-benar hal yang luar biasa bagi saya karena bisa berbicara dengan Anda seperti sekarang!" Arabella sangat antusias saat berbicara dengan Elyana.
"B-begitukah?" Elyana masih begitu shock dengan perubahan sikap Arabella yang ia kenal dengan sosok yang pendiam kini berubah menjadi seperti orang lain.
"Iya! A-ah maaf karena saya terlalu bersemangat seperti ini." Arabella menjadi sedikit khawatir saat melihat Elyana yang kebingungan.
"Tidak apa-apa, aku hanya sedikit terkejut saja. Ternyata Arabella Abelard yang terkenal dengan dirinya yang pendiam bisa berbicara seperti ini." Elyana merasa sedikit bersalah saat melihat Arabella meminta maaf.
"Benarkah? Kakak saya juga selalu bilang begitu, saya hanya merasa… daripada rumor buruk tentang saya beredar lebih baik saya diam saja." Arabella masih sedikit khawatir dengan ekspresi kebingungan Elyana.
"Jadi begitu… kamu benar juga." Ucap Elyana sambil tertawa kecil.
Arabella kembali menjadi antusias saat melihat Elyana yang tertawa kecil. Pembicaraan mereka terus berlangsung, dan Arabella juga sudah mulai tidak menggunakan bahasa yang formal saat berbicara dengan Elyana, mereka mulai akrab. Sampai sore pun tiba, mereka berdua pun akhirnya berpamitan dan pulang ke rumah masing-masing.
Elyana dan Arabella terlihat sangat senang sekali dan menikmati waktu mereka untuk saling berbicara satu sama lain.