
Hari ini, entah mengapa pikiran Elyana terasa sangat tenang. Ia merasa semua beban di hatinya kini sudah hilang. Elyana duduk di tempat tidurnya sambil melihat ke arah luar jendela dengan tatapan kosong dan sebuah senyuman di wajahnya.
“Aku akan mengakhiri semua ini.”
“Ely…?” Willard memanggil Elyana dengan suara dan senyuman lemah dari belakangnya.
Saat Elyana mendengar panggilan Willard, ia perlahan menolehkan kepalanya ke belakang. “Will…” Elyana terlihat senang saat melihat Willard yang kini berdiri tak jauh darinya.
Willard yang melihat ekspresi Elyana tersentak kaget, ia merasa Elyana seperti menjadi orang yang sama sekali berbeda dari dirinya yang biasanya. Willard hendak menanyakan Elyana apakah dia baik-baik saja, tapi ia merasa Elyana pasti akan menjawab ‘aku baik-baik saja’.
“Ada apa Will? Hari ini kamu terlihat murung.” Tanya Elyana yang tanpa Willard sadari ia sudah berdiri di depannya.
“Tidak ada apa-apa. Aku kesini untuk mengajakmu makan bersama.” Willard memalsukan senyumannya kepada Elyana sambil menggenggam tangannya sendiri dengan erat.
Elyana menganggukkan kepalanya dengan senang. “Ayo kita makan bersama. Oh ya, ada yang ingin kutanyakan padamu.”
“Apa yang ingin kamu tanyakan padaku?” Willard terlihat penasaran dengan hal yang ingin ditanyakan Elyana.
“Besok… aku ingin bertemu dengan Malvin.” Ucap Elyana dengan sebuah senyuman di wajahnya.
“Pangeran Malvin? Kenapa kamu ingin bertemu dengannya lagi?” Willard tiba-tiba memasang ekspresi yang dingin.
“Aku hanya ingin berbicara dengannya sebentar saja. Aku sudah menjelaskannya beberapa hari yang lalu bukan?” Senyum Elyana menghilang dan kini Elyana hanya menatap Willard dengan tatapan yang kosong.
“Aku akan membiarkanmu pergi jika aku pergi bersamamu.” Ekspresi Willard terlihat khawatir dan takut saat Elyana menatapnya dengan tatapan kosong.
“Tapi!” Willard sangat tidak setuju dengan Elyana yang akan pergi sendiri ke Istana Raja tempat Malvin berada.
“Tenang saja, aku akan baik-baik saja.” Elyana melihat Willard dengan tatapan kosong dan senyuman yang lemah, seakan sedang memohon kepada Willard untuk mengizinkannya pergi.
Willard terlihat sedih saat melihat Elyana yang melihatnya dengan senyuman yang tak pernah dilihatnya itu. “Baiklah… kamu boleh pergi, tapi saat di sana aku akan menyuruh salah satu orang yang kukenal untuk mengawalmu…” Ucap Willard dengan pasrah.
Elyana awalnya terlihat tidak setuju dengan hal tersebut tapi ia tidak punya pilihan lain selain mendengarkan ucapan Willard. “Baiklah. Tapi, siapa orang yang kamu kenal itu?”
“Nanti kamu akan lihat sendiri.” Willard terlihat khawatir sekali dengan Elyana.
Elyana tiba-tiba teringat tentang Arabella saat mendengar Willard mengatakan orang yang dikenalnya. “Ngomong-ngomong apa kamu tahu keadaan Arabella sekarang?”
“Aku tidak tahu tentang hal itu, tetapi beberapa hari ini aku mendapat beberapa surat dari Count Abelard. Apa kamu ingin membacanya?” Willard teringat beberapa surat yang ia terima di ruang kerjanya.
“Tidak, tidak usah.” Elyana terlihat berpikir untuk beberapa saat. “Berbicara dengannya sekarang sudah tidak ada gunanya.” Gumam Elyana dengan suara yang sangat kecil.
“Ely…? Apa kamu mengatakan sesuatu?” Willard terlihat kebingungan saat mendengar suara Elyana yang sangat kecil.
“Tidak ada. Aku hanya berbicara dengan diriku sendiri.” Elyana tertawa palsu saat mendengar pertanyaan Willard.
Willard tampak mencurigai Elyana sedikit, tetapi ia langsung mengubah topiknya. “Aku akan menyiapkan kereta kuda untukmu besok, jika bisa hindarilah Raja Barnett sebisa mungkin. Mengerti?” Willard memegang kedua pipi Elyana sambil memasang ekspresi yang sedih di wajahnya.
“Aku mengerti. Terima kasih Will…” Elyana kembali tersenyum kepada Willard sambil memegang kedua tangan Willard yang memegang pipinya.