Villainess Just Want A Little Love

Villainess Just Want A Little Love
Episode 61



“Air….” Elyana bergumam dengan setengah sadar.


Seorang laki-laki tiba-tiba muncul di dekatnya dan menuangkan air minum di mulutnya sedikit demi sedikit. Ketika Elyana merasa ada air yang mengalir di mulutnya, ia segera sadar dan mengambil gelas yang diisi oleh air yang dipegang oleh laki-laki itu dan meminum habis segelas air itu.


“Minumlah dengan pelan.” Ucap laki-laki itu dengan suara yang dingin.


Elyana yang tadi sedang sibuk meminum segelas air itu tiba-tiba tersedak saat mendengar suara laki-laki itu. “Siapa kamu!” Teriak Elyana sambil terbatuk-batuk.


Laki-laki itu tidak mengatakan apapun, ia mengambil gelas Elyana yang sudah kosong dan mengisinya dengan air minum lagi. Setelah ia selesai mengisi gelas itu, ia segera kembali ke tempat Elyana dan memberikan segelas air itu padanya.


Elyana awalnya curiga saat ia memberikan air minum itu padanya. Tetapi rasa hausnya mengalahkan rasa curiganya, dengan perlahan ia mengambil segelas air yang disodorkan oleh laki-laki itu dan meminum habis air minum itu.


“Apa kamu sudah merasa lebih baik?” Tanya laki-laki itu dengan ekspresi yang datar.


“Ya. Aku sudah merasa jauh lebih baik.” Ucap Elyana sambil melihat gelas yang sudah kosong itu. “Jadi sebenarnya siapa kamu? Kenapa kamu menolongku?” Lanjut Elyana sambil melihat ke mata laki-laki itu dengan sedikit mencurigainya.


“Yah… kalau secara sederhana, aku menemukanmu di depan penginapan ini dan aku merasa kasihan jadi aku membawamu kesini?” Ucap laki-laki itu masih dengan ekspresi yang datar.


“Hanya begitu? Bukan karena kamu mengenaliku atau semacamnya bukan?” Tanya Elyana dengan khawatir.


“Mengenalimu? Apa kamu adalah orang yang terkenal atau semacamnya? Tapi, harus kuakui bahwa pakaianmu terlalu mewah untuk seorang rakyat biasa dan satu kantong koin emas itu…” Laki-laki itu terlihat heran saat melihat pakaian Elyana dan kemudian ia mengarahkan pandangannya pada satu kantong koin emas yang berada di samping tempat tidur Elyana.


Elyana seketika terkejut saat melihat satu kantong koin emas yang dibawanya tidak berada di kantong bajunya, ia langsung mengambil satu kantong koin emas itu dan memeluknya dengan erat sambil melihat laki-laki itu dengan tatapan yang curiga.


“Tenang saja. Aku tidak mengambil satu koin pun dari kantong itu, saat aku membopongmu kantong itu tiba-tiba terjatuh dari kantong bajumu, jadi aku membawanya dan meletakkannya di sampingmu.” Laki-laki itu mengangkat kedua tangannya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Mungkin kamu bisa menghitung jumlah koin emas yang ada dalam kantong itu?” Jawab laki-laki itu tanpa ekspresi.


“Apa aku harus mempercayainya? Tidak mungkin aku bisa menghitung semua koin emas ini bukan?” Gumam Elyana dalam hatinya dengan perasaan yang cemas.


“Hah… baiklah aku mempercayaimu.” Elyana menghelas napas berat dan meletakkan kembali koin emasnya itu.


“Terima kasih?” Laki-laki itu tampak kebingungan apakah dirinya harus berterima kasih pada Elyana karena sudah mempercayainya.


“Tidak perlu berterima kasih. Kamu orang yang aneh.” Elyana perlahan bangun dari tempat tidurnya dan berdiri di hadapan laki-laki itu.


“Begitukah?” Jawab laki-laki itu yang masih memasang ekspresi yang kebingungan.


“Lupakanlah. Namamu siapa?” Tanya Elyana dengan ekspresi yang serius.


“Malvin.” Jawab laki-laki itu dengan ekspresi yang datar.


“Nama belakangmu?” Elyana terlihat sedikit penasaran dengan laki-laki itu yang tidak mempunyai nama belakang atau nama keluarganya.


“Tidak ada.”


“Apa mungkin semua rakyat biasa sepertinya tidak mempunyai nama belakang atau nama keluarga sama sekali? Marvin… sepertinya aku pernah mendengar nama itu di suatu tempat, tetapi kenapa aku tidak bisa mengingatnya sama sekali, rasanya isi kepalaku menjadi hitam semua saat aku mencoba untuk mengingat nama itu.” Elyana tampak termenung selama beberapa menit di hadapan Malvin.