
Elyana perlahan turun dari kereta kuda milik Willard. Armand memberi hormat kepada Elyana yang kini berdiri di depannya.
“Apakah kamu adalah orang yang dikatakan Will?” Elyana tersenyum kepada Armand dengan tatapan yang kosong.
“Benar. Saya adalah orang yang ditugaskan oleh Duke Harbert.” Armand menatap Elyana dengan tatapan yang sedikit tidak suka.
Elyana terlihat tenggelam dalam pikirannya sebentar. “Kamu… mirip dengan seseorang yang ku kenal…” Elyana melihat wajah Armand dan menemukan wajah Armand yang mirip dengan Arabella.
“Mungkin hanya perasaan Anda saja.” Armand tampak menolak untuk menyebutkan tentang adiknya.
“Wah… kamu benar-benar tidak menyembunyikan rasa tidak sukamu padaku sama sekali.” Elyana masih tersenyum kepada Armand yang memperlihatkan rasa tidak sukanya terhadap dirinya secara terang-terangan.
“Saya mengawal Anda di sini hanya karena permintaan Duke Harbert. Apakah saya perlu menyukai Anda?” Armand mencoba untuk tetap sopan kepada Elyana.
“Tidak. Kamu tidak perlu menyukaiku. Karena… semua orang di dunia ini membenciku, jadi walaupun kamu membenciku, aku tidak ada masalah sama sekali dengan hal itu.” Elyana menatap Armand dengan tatapan kosong yang sangat mengerikan.
Armand terlihat sedikit ketakutan saat melihat tatapan Elyana, namun ia segera membalikkan badannya. “Saya akan segera mengantar Anda ke ruangan Pangeran Malvin.”
“Baiklah…” Elyana mengikuti langkah Armand dari belakangnya. “Ngomong-ngomong namamu siapa?” Elyana kembali tersenyum sambil mengikuti Armand dari belakangnya.
“Saya rasa hal seperti itu tidak penting.” Armand tidak tahu mengapa dirinya ketakutan pada Elyana yang berjalan di belakangnya.
“Kamu benar-benar dingin sekali, apa ini karena aku hanya anak buangan Marquis Alston?” Tatapan dan senyuman Elyana terasa sangat dingin, Armand yang melihat ekspresi Elyana dari depannya semakin merasa takut.
“Hei. Apakah kita benar-benar tidak perlu bertemu dengan raja terlebih dahulu?” Tanya Elyana dengan ekspresi penasaran.
“Ya, saya sudah membicarakan hal ini dengan Pangeran Malvin. Lagipula…” Armand teringat saat dirinya dan Malvin bertemu dengan Raja Barnett dan Raja Barnett sama sekali tidak melihat ke arah Malvin.
“Lagipula…?” Elyana terlihat kebingungan saat Armand tidak melanjutkan ucapannya.
Armand menggelengkan kepalanya sebentar dan menjawab Elyana. “Tidak, tidak ada apa-apa.”
Armand tiba-tiba menghentikan langkah kakinya, Elyana terkejut dengan Armand yang tiba-tiba menghentikan langkah kakinya dan hampir menabraknya. “Hei! Ada apa? Apakah kita sudah sampai? Tapi aku tidak melihat ruangan disini sama sekali.” Ucap Elyana dengan sedikit kesal.
Armand tidak menjawab Elyana dan hal itu membuatnya penasaran, ia langsung mengintip dari sebelah kanan Armand dan saat ia melihat kedua orang yang sedang berdiri tak jauh darinya itu, tiba-tiba sebuah senyuman yang sangat menyeramkan terlintas di wajah Elyana.
“Ah… itu mereka… orang yang harus kubunuh dengan tanganku sendiri ini…”
Armand mendorong Elyana untuk kembali bersembunyi di belakangnya. “Tolong jangan memperlihatkan wajah Anda seperti itu.” Ucap Armand kepada Elyana dengan suara yang kecil.
Armand mencoba untuk menyembunyikan Elyana dari Pangeran Albern dan Caitlin, namun itu terlambat, mereka berdua kini sudah melihat ke arah Elyana yang bersembunyi di belakang Armand.
Caitlin terlihat terkejut saat melihat Elyana yang bersembunyi di belakang Armand, tapi tiba-tiba ia berlari ke arah Elyana dan memegang kedua lengannya dengan air mata di kedua matanya.