
Willard tanpa sadar memegang Elyana dengan sangat erat dan menciumnya dengan sangat liar. Tiba-tiba akal sehatnya kembali dan ia melepaskan ciumannya dari Elyana. “M-Maaf…” Willard terlihat tersipu malu saat dirinya hampir lepas kendali. Kemudian ia segera berlari keluar dari kamar itu.
Elyana yang melihat itu hanya tercengang di tempat tidurnya saat mengingat apa yang hampir mereka lakukan. “Apa yang sedang kulakukan?!” Elyana mengambil bantal di dekatnya dan memukul wajahnya dengan bantal itu.
Mata Elyana tiba-tiba terasa berat lagi dan tanoa sadar ia tertidur kembali. Besok paginya Elyana bangun dengan kepala yang sangat berat sekali. “Apa yang terjadi denganku belakangan ini? Kenapa aku selalu merasa mengantuk sekali?” Elyana merasa kebingungan dengan dirinya sendiri.
“Ely…? Apa kamu baik-baik saja?” Willard tiba-tiba sudah berdiri di samping Elyana dengan ekspresi yang khawatir.
“Will…?” Elyana tiba-tiba teringat kembali apa yang hampir mereka lakukan tadi malam dan wajahnya tiba-tiba memerah. “Aku tidak apa-apa…” Elyana menghindari tatapan Willard.
“Benarkah? Tapi kamu sudah tertidur selama dua hari…” Willard terlihat sangat mengkhawatirkan Elyana.
Elyana terlihat sangat terkejut mendengar ucapan Willard. “Dua hari?!” Elyana langsung menatap ke arah Willard untuk memastikan bahwa dia tidak sedang berbohong.
“Iya… makanya aku sangat khawatir.” Willard terlihat bersungguh-sungguh saat Elyana melihat ke arahnya.
“Tapi…” Elyana terlihat sangat tidak percaya dengan ucapan Willard, karena ia hanya merasa ia hanya tidur untuk sebentar saja.
“Albern Flawless dan Caitlin Delcy. Bunuh kedua orang itu.”
Elyana tiba-tiba mendengar suara di kepalanya yang menyuruhnya untuk membunuh Albern dan Caitlin. Elyana memegang kepalanya dan meringis kesakitan. “Kamu benar… aku harus membunuhnya.” Tatapan Elyana tiba-tiba menjadi sangat kosong dan sebuah senyuman yang sangat mengerikan terpasang di wajahnya.
“Elyana…? Apa maksudmu dengan membunuh…?” Willard memegang tangan Elyana dan melihat Elyana dengan perasaan gelisah.
“Jika saja kedua orang itu tidak ada… Elyana pasti akan bahagia…” Elyana tiba-tiba menolehkan kepalanya ke arah Willard. “Will… kita akan terus bersama bukan?” Elyana memegang kedua pipi Willard dengan tangannya dan mendekatkan wajahnya ke Willard.
“Tentu saja kita akan selalu bersama… apa yang sebenarnya terjadi padamu?” Tangan Willard bergetaran saat memegang tangan Elyana.
Mendengar jawaban Willard membuat Elyana sangat bahagia. “Aku baik-baik saja, tidak ada hal yang perlu di khawatirkan…” Elyana tersenyum kepada Willard.
“Siapa sebenarnya diriku ini? Kadang saat aku melihat ke cermin… aku merasa orang yang terpantul disana bukanlah aku, saat Will memanggil nama ‘Ely’ kepadaku, kenapa aku merasa begitu asing dengan nama itu? Kenapa setiap aku melihat ke cermin terdapat pantulan orang yang sama sekali berbeda dengan diriku saat ini dan memanggil ku dengan nama Riana? Aku tidak tahu… tapi ada sesuatu yang harus kulakukan saat ini… membunuh Albern dan Caitlin… itulah yang selalu diteriakkan pikiranku saat ini, aku merasa jika aku membunuh mereka berdua, maka hidupku akan menjadi lebih indah…tapi… apakah benar begitu? apa semuanya akan berakhir saat aku membunuh mereka berdua…? Aku… sudah tidak tahu lagi…” Elyana terlihat sangat kelelahan dengan pikirannya sendiri, kepala nya terasa sangat sakit dan seakan ingin meledak.
“Ely… aku membawakanmu teh…” Willard tersenyum lemah saat melihat Elyana yang masih memegang kepalanya dengan kedua tangannya.