
“Kemarin, aku melihat seorang pelayan yang menerbangkan seekor merpati ke luar mansion. Apakah pelayan-pelayan disini sering melakukan itu untuk mengirim surat atau semacamnya ke keluarganya?” Tanya Elyana dengan penasaran kepada Lia.
Senyuman Lia memudar dan ia berdiri terdiam disana dengan ekspresi yang tidak diketahui. “Nona Elyana, apakah Anda bisa memberitahu saya tentang ciri-ciri pelayan yang menerbangkan burung merpati itu?”
“Gawat, apakah aku baru saja mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak kukatakan?” Elyana merasakan suara Lia yang menjadi dingin dan membuatnya tidak berani untuk melihat ke wajahnya.
“P-Pelayan itu mempunyai mata berwarna hijau dan rambut berwarna coklat, hanya itu saja yang kutahu…” Jawab Elyana dengan ragu-ragu.
Ketika mendengar jawaban dari Elyana, Lia kembali tersenyum kepada Elyana. “Terima kasih atas informasinya, apakah Anda ingin makan kue?”
Setelah mendengar suara Lia yang sudah kembali seperti biasa, Elyana memberanikan diri untuk melihat ke wajah Lia. “Aku ingin memakannya tapi bukankah aku harus menemui ayahku dulu?”
“Saat ini ayah Anda sedang beristirahat setelah meminum obat yang diberikan dokter. Anda boleh makan terlebih dahulu dulu dan saat kondisi ayah Anda sudah lebih baik, saya akan segera memberitahu Anda.” Ucap Lia dengan senyuman yang sedikit menakutkan di wajahnya.
“B-Baiklah.” Elyana merasa sedikit ketakutan dengan Lia yang tersenyum seperti itu. “Apakah memberitahunya tentang pelayan itu adalah hal yang salah? Lia terlihat sangat menakutkan, ini pertama kalinya aku melihat dia seperti itu.”
“Kalau begitu saya permisi lebih dulu. Saya akan menyuruh pelayan lain yang membawakan kue untuk Anda.” Lia membungkukkan badannya sebagai tanda hormat kepada Elyana.
“Maaf, ada hal penting yang harus saya selesaikan.” Lia terlihat sedikit sedih saat melihat Elyana yang sedikit kecewa saat dirinya bilang pelayan lain yang membawakan cemilannya.
“Kamu tidak perlu meminta maaf seperti itu, aku hanya sedikit khawatir jika pelayan lain mencoba untuk membunuhku dengan memasukkan racun pada makanan yang akan kumakan.” Elyana kembali mengalihkan pandangannya dari Lia.
“Saya akan menyuruh pelayan lain yang saya percayai, jadi Anda tidak perlu khawatir tentang hal seperti itu.” Lia memegang bahu Elyana dengan kedua tangannya dan tersenyum lemah kepadanya.
“Baiklah, sepertinya aku dapat lebih tenang jika orang yang kamu percayai yang menyajikan makanan yang akan kumakan.” Elyana berusaha untuk mempercayai ucapan Lia. “Padahal yang memberikan racun pada ayah adalah diriku sendiri… tapi sekarang aku malah takut saat orang lain memasukkan racun pada makananku, hah…”
“Kalau begitu sampai jumpa nanti, Nona Elyana.” Lia membungkukan badannya sekali lagi, dan ia langsung pergi dari kamar Elyana dengan sangat cepat.
“Dia terlihat buru-buru sekali, jangan-jangan… mereka sudah menemukan orang yang meracuni ayah?!” Elyana menampar pipinya untuk menyadarkan dirinya dari apa yang baru saja dipikirkannya. "Bukannya kamu sendiri yang meracuninya? Dasar!"
“Jika mereka sudah tahu bahwa akulah yang meracuni ayah, pasti sekarang aku sudah ditangkap oleh Lia. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?” Elyana menatap pantulan dirinya sendiri di depan cermin yang ada di depannya.
“Ah… terserahlah. Biarkan saja jika akhirnya aku tertangkap, lagipula itu salahku karena meracuni ayahku sendiri." Elyana berdiri dari tempat duduknya dan pergi ke tempat tidurnya untuk membaringkan badannya sambil menunggu makanannya yang akan datang.