Villainess Just Want A Little Love

Villainess Just Want A Little Love
Episode 54



"Apa yang sebenarnya terjadi pada kalian?!" Teriak Ray pada Armand dan Arabella. 


Armand dan Arabella terlihat terkejut saat melihat Ray yang meneriaki mereka berdua, biasanya Ray adalah orang yang selalu ceria dan gampang menangis, tetapi saat ini ia terlihat sangat marah. 


"Kakak yang lebih dulu memulainya!" Arabella mencoba untuk menahan air matanya. 


Armand yang melihat Arabella seperti ingin menangis hanya diam saja dan menghela napas berat, sambil mencoba untuk menenangkan emosinya. 


"Tidak ada. Aku hanya sedikit kesal saat Arabella membentakku. Hanya itu saja." Jawab Armand dengan suara yang dingin. 


"Kamu sedikit berubah kapten… biasanya kamu bukan orang yang cepat marah seperti ini. Sebenarnya apa yang terjadi pada kamu dan Duke Harbert saat perburuan itu?" Ray menatap mata Armand dengan tatapan yang sangat serius. 


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedikit stres saja, banyak yang harus kupikirkan." Armand menepuk bahu Ray dan pergi meninggalkan mereka berdua. 


"Sebenarnya apa yang telah terjadi?" Ray hanya bisa menatap punggung Armand yang mulai menjauh darinya. Arabella masih melihat kebawah dan mencoba untuk menahan air matanya. 


***


"Nona…" Ucap Lia yang kini berdiri di samping Elyana. 


"Berani sekali dia menyuruhku meninggalkan Willard yang masih belum sadarkan diri!" Elyana berdiri di kamarnya dengan penuh amarah dan seakan mencoba untuk menahan air matanya yang ingin keluar. 


Elyana mengambil vas bunga yang berada di samping tempat tidurnya dan melemparnya ke samping pintu kamarnya.


"Sial! Sial! Sial!" Air mata Elyana mulai mengalir tanpa sadar. 


Lia hanya bisa diam saat melihat Elyana yang dipenuhi dengan amarah dan kesedihan yang sangat mendalam. 


"Dia bilang dia akan membunuhku jika aku tidak menuruti apa yang dikatakannya?! Ayah macam apa yang tega membunuh anaknya sendiri?! Dia pikir aku ini apa?!" Elyana mulai meneriakkan semua hal yang ada dipikirannya yang kacau. 


"Tenanglah diriku! Tenang! Tenang!" Elyana berteriak dalam pikirannya untuk menghentikan emosi yang kini tidak bisa di kendalikannya. 


Elyana berjalan di kamarnya sambil mencoba untuk mengendalikan emosinya. Ia berjalan berkeliling kamarnya beberapa kali, kemudian ia berjalan ke tempat tidurnya dan duduk disana sambil memegang kepalanya. Ia mencoba untuk mengendalikan napasnya yang terengah-engah. 


"Tenanglah. Semuanya pasti akan baik-baik saja, aku pasti akan baik-baik saja." Ucap Elyana pada dirinya sendiri untuk menenangkan dirinya. 


Saat ia sudah mulai bisa mengendalikan emosinya, Elyana menyuruh Lia untuk keluar dan membiarkan dirinya untuk sendiri terlebih dahulu. "Maaf Lia. Aku mohon… biarkan aku sendiri terlebih dahulu."


Lia mencoba untuk menggapai Elyana yang duduk membelakanginya, namun ia segera menarik tangannya kembali dan memberi hormat kepada Elyana dan segera berjalan keluar dari kamarnya. 


Saat mendengar suara pintu yang tertutup, Elyana menutup kedua matanya dan membiarkan dirinya menangis untuk beberapa saat. Setelah ia selesai menangis, Elyana mulai memikirkan apa yang seharusnya dilakukannya. 


"Apa Will sudah sadarkan diri sekarang?" Ucap Elyana dalam hatinya sambil mengingat Willard yang terbaring lemah saat terakhir kali ia bertemu dengannya. 


"Tidak. Ini bukan saatnya untuk memikirkan hal seperti itu, Will adalah orang yang kuat jadi dia pasti bisa kembali sadar dan menjalani kehidupannya seperti biasa." Elyana melihat cincin yang diberikan Willard dengan air mata yang masih mengalir. 


"Aku harus memikirkan cara untuk keluar dari rumah ini. Jika aku terus berada disini, cepat atau lambat aku pasti akan mati. Sekarang orang yang dapat menyelamatkan diriku saat ini hanyalah aku seorang." Elyana mengusap air matanya dengan perlahan. Ia bertekad untuk segera keluar dari kediaman Marquis Alston apapun yang terjadi.