
“Will, apa kamu sudah tidur?” Tanya Elyana yang terbaring di samping Willard.
Willard tidak merespon Elyana dan terlihat tertidur sangat pulas. “Kantung matanya sangat gelap… sebenarnya sudah berapa hari dia tidak tidur.” Gumam Elyana dengan perasaan yang cemas saat melihat ke mata Willard.
“Mulai sekarang aku harus hidup dengan bagaimana…?” Mata Elyana perlahan menjadi berat dan ia pun langsung tertidur.
***
“Lepaskan!” Bentak Malvin kepada Armand yang memegangnya dengan kuat.
“Tidak akan.” Ucap Armand dengan tenangnya.
“Kapten! Apakah perlu bantuan di dalam sana?” Ucap salah satu anggotanya yang menaiki kudanya sendiri di samping kereta kuda yang dipakai Armand.
“Tidak perlu. Sebentar lagi kita akan sampai, jadi lebih baik kali ini kalian menjaga sikap kalian.” Armand mengalihkan pandangannya pada anggotanya itu.
“Tenang saja. Kami tidak sebodoh itu untuk berbuat sesuatu yang aneh di istana raja.”
“Dan satu lagi, saat kalian sampai disana segera kembali pada markas dan kembali berlatih.” Armand terlihat tidak mempercayai mereka sama sekali.
“Eh?! Apa kami tidak bisa ikut kapten untuk menemui raja?” Tanya anggota lainnya dengan ekspresi yang kecewa.
“Tidak bisa! Kalian hanya akan mengacaukannya!” Armand terlihat sedikit kesal dengan sikap mereka.
“Eh… padahal aku juga ingin ikut dengan kapten…” Mereka semua terlihat sedih saat Armand tidak mengizinkan mereka untuk mengikutinya menemui Raja Barnett.
“Sepertinya aku harus mengajari sopan santun yang benar kepada mereka semua.” Gumam Armand dengan tatapan yang dingin.
“Sepertinya Anda sudah menjadi lebih tenang, Pangeran Malvin.” Armand menolehkan kepalanya ke arah Malvin yang sedang duduk terdiam di sampingnya.
“Apakah Ely benar-benar akan baik-baik saja?” Gumam Malvin dengan perasaan yang khawatir.
“Kamu…! Jika kamu tidak menghentikan ku saat itu, Ely pasti sudah berada di sampingku saat ini.” Ucap Malvin dengan nada suara yang sangat kesal.
“Hah… Kenapa kalian semua tergila-gila dengan perempuan itu…” Armand menghela napas berat saat mendengar ucapan Malvin.
“Diamlah, kamu tidak tahu apa-apa…” Ucap Malvin dengan suara yang sangat sedih sambil menundukkan kepalanya.
Armand hanya menghela napas saat melihat Malvin yang tertunduk sedih. “Simpan rasa sedihmu untuk nanti, kita sudah sampai.” Ucap Armand saat melihat bangunan yang sangat mewah dari jendela di kereta kudanya.
“Aku tahu.” Ucap Malvin dengan tatapan yang dingin.
Setelah sampai, mereka berdua segera turun dari kereta kuda itu dan keempat anggota Armand segera memberi hormat kepada mereka berdua dan pergi dari sana. Kereta kuda dari Duke Harbert yang mereka pakai juga segera kembali ke kediaman Duke Harbert dan menyisakan Armand dan Malvin berdua saja.
“Setelah menemui raja, saya bisa membantu Anda untuk mengobati luka tangan Anda.” Armand melihat ke arah tangan Malvin yang terlihat masih berdarah.
“Perubahan sikapmu luar biasa.” Ucap Malvin tanpa melihat ke arah Armand.
“Ayo kita segera masuk.” Ucap Armand dengan mengabaikan ucapan Malvin.
Mereka berdua berjalan menuju ke tempat Raja Barnett berada, di sepanjang perjalanan mereka banyak sekali pelayan-pelayan yang menundukkan kepalanya untuk memberi hormat kepada Armand dan Malvin.
“Menjijikkan. Ini pasti karena ada kamu disini.” Ucap Malvin dengan tatapan dingin.
“Tolong jaga ucapan Anda saat berada di istana raja. Pangeran Malvin.” Armand tidak melihat ke arah Malvin, ia hanya menatap ke depan dengan percaya diri. “Ini adalah tempat dimana jika kamu tidak menunjukkan kepercayaan dirimu maka semua orang akan merendahkanmu.”
“Tentu saja aku sudah tahu tentang hal seperti itu.” Malvin tidak mengarahkan pandangannya ke depan, ia berjalan dengan menundukkan kepalanya.
Armand yang melihat itu tidak memperdulikannya sama sekali, ia hanya tetap berjalan melihat ke depan tanpa melihat ke sekitar sama sekali.