Villainess Just Want A Little Love

Villainess Just Want A Little Love
Episode 24



Elyana dan Willard pun sampai pada kediaman Marquis Alston, para pelayan disana tampak menyambut kedatangan Elyana dan Willard, tetapi ayah Elyana tidak ada disana. Walaupun begitu, Elyana tampak tidak terlalu peduli dengan ayahnya yang tidak ada disana. 


"Apakah kamu yakin kamu sudah bisa berjalan?" Willard terlihat khawatir dengan Elyana. 


"Ya, aku sudah bisa berjalan seperti biasa. Tidak usah terlalu khawatir." Elyana mencoba tersenyum kepada Willard. 


Walaupun Elyana sudah berkata begitu, Willard masih khawatir dengan kondisi Elyana, tapi ia tidak punya pilihan lain selain mengikuti perkataan Elyana. Willard pun berjalan berdampingan dengan Elyana menuju ke kamarnya. 


Saat Willard sudah memastikan Elyana aman di kamarnya, ia tampak sedih saat ingin meninggalkan Elyana. Tetapi ia tetap harus mengikuti perkataan Elyana, Willard pun mengambil tangan Elyana dan mencium tangannya. 


"Jika ada apa-apa, berjanjilah untuk memanggilku ya?" Willard masih terlihat khawatir dengan Elyana. 


"Baiklah."


Setelah mendengar jawaban dari Elyana, Willard pun berjalan meninggalkan kamar Elyana. Elyana segera berjalan menuju ke arah jendela kamarnya dan melihat Willard yang pergi meninggalkan kediaman Marquis Alston. 


"Apakah ada ayah ada disini?" Elyana bertanya pada Lia tanpa melihat ke arahnya yang kini berdiri di dekatnya. 


"Mohon maaf nona, ayah Anda sudah pergi beberapa hari yang lalu." Lia sepertinya khawatir dengan Elyana yang tidak pulang selama beberapa hari ini tapi tidak punya keberanian untuk menanyakannya. 


"Apakah ada surat yang sampai ke sini?" Elyana tanpa sadar mengepalkan tangannya. 


"Mohon maaf nona. Jika surat itu ditujukan kepada ayah Anda, saya tidak bisa memeriksanya." Lia lagi-lagi meminta maaf kepada Elyana. 


"Ya, saya tahu." Lia menundukkan kepalanya dan tidak berani melihat ke arah Elyana. 


"Antarkan aku kesana." Elyana berjalan perlahan ke arah Lia dan berdiri di hadapannya. 


"Tapi…" Lia tampak ragu untuk mengantar Elyana ke ruangan di mana ayahnya bekerja. 


"Lia!" Elyana berteriak memanggil nama Lia, mengisyaratkan bahwa dirinya tidak ingin mendengar alasan apapun dan hanya ingin pergi ke ruangan tempat ayahnya bekerja. 


Lia terkejut saat mendengar Elyana yang meneriakkan namanya, walaupun ia tampak ragu tetapi ia merasa dirinya harus tetap menunjukkan tempat dimana ayah Elyana bekerja. Lia merasa sudah sangat lama sekali sejak terakhir kali Elyana terlihat marah seperti ini. 


Elyana kini mengikuti Lia yang berjalan untuk menunjukkan dimana ruangan tempat ayahnya bekerja, ia merasa dirinya tidak sama seperti biasanya. Rasa amarah dan kekecewaan memenuhi hatinya, Elyana merasa ini bukanlah perasaannya, tetapi perasaan 'Elyana' yang sebenarnya. Di dalam perasaan marah dan kekecewaan yang dirasakannya ada rasa sedih yang luar biasa yang tertutupi oleh dua perasaan itu. Sejak ia memasuki tubuh 'Elyana' ia tidak pernah merasa seperti ini. Yang biasa ia rasakan hanyalah kekosongan yang tak bisa dijelaskan oleh kata-kata. 


Jantung Elyana berdetak semakin kencang saat mereka mulai mendekati ruangan di mana tempat ayahnya bekerja. Tiba-tiba mata Elyana dipenuhi dengan air mata. Lia yang melihat itu tidak bisa melakukan apapun, yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah menunjukkan ruangan tempat dimana ayahnya bekerja. 


Elyana merasa sangat aneh dengan dirinya saat ini, ia merasa nafasnya sangat panas, dadanya terasa sakit, air matanya tidak mau berhenti, dan kakinya terus berjalan ke tempat dimana ruangan ayahnya bekerja.


Saat mereka sampai, penjaga disana terlihat kebingungan saat melihat Elyana yang menangis. Kemudian Elyana menyuruh mereka untuk membukakan pintu itu dengan berteriak. Penjaga disana terkejut tetapi mereka kemudian segera membukakan pintu untuk Elyana. 


Setelah penjaga disana membukakan pintu untuk Elyana, Elyana segera berlari masuk ke dalam ruang kerja ayahnya dan menuju ke mejanya, saat sampai disana, pikirannya tiba-tiba menjadi sangat kacau saat melihat robekan surat yang dikirimkan oleh dirinya. Rasa marah, kecewa, dan sedih kini menjadi satu, pikirannya sangat kacau dan hatinya terasa sangat sakit, ia ingin berteriak tapi tidak ada suara yang keluar. 


Tiba-tiba semuanya menjadi sangat gelap.