Villainess Just Want A Little Love

Villainess Just Want A Little Love
Episode 22



"ELYANA!" Elyana terbangun dengan tangannya yang seperti ingin menggapai seseorang. 


"Hah… hah… hah…" Seluruh badan Elyana berkeringat dan ia terlihat sangat kesulitan bernapas. 


"Ely!" Willard terlihat sedikit senang saat melihat Elyana yang bangun. 


"Cepat panggil dokter sekarang juga!" Perintah Willard kepada pelayan yang berada di kamarnya. 


Pelayan yang disana segera berlari keluar dari kamar Willard untuk memanggil dokter sedangkan Willard tampak sedang mencoba untuk membantu Elyana untuk meminum air. 


"Caitlin! Apakah kamu membunuhnya?!" Daripada mengkhawatirkan dirinya, Elyana tampak lebih mengkhawatirkan Caitlin. 


"Tenangkan dirimu dulu. Tenang saja, aku tidak membunuhnya." Willard menyodorkan segelas air yang dipegangnya kepada Elyana dan menyuruhnya untuk meminum air itu. 


Setelah mendengar ucapan Willard, Elyana merasa sangat lega. Kemudian ia meminum segelas air yang disodorkan Willard untuknya dan mencoba untuk mengatur pernapasannya. 


"Aku tidak bermaksud untuk mencampuri masalah pribadimu, tapi setidaknya bisakah kamu memberitahuku kenapa kamu mengasihani wanita itu? Dia hampir saja membunuhmu, tapi kenapa kamu membiarkannya pergi begitu saja?" Willard mengangkat tangannya ke arah Elyana dan memegang perban di kepalanya dengan jari telunjuknya. 


Elyana tahu bahwa Willard sangat mengkhawatirkan dirinya, tapi ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya kepadanya. Rasanya seperti ada sesuatu yang mengunci mulutnya untuk tidak mengatakan tentang hal yang sebenarnya. 


Willard menyadari ekspresi Elyana yang seakan mengatakan bahwa ia tidak mengatakannya dan memasang wajah yang sedih. 


"Tidak apa-apa jika kamu tidak ingin memberitahuku, tapi berjanjilah bahwa kamu tidak akan membuat dirimu terluka seperti ini lagi." Willard menurunkan tangannya dari perban di kepalanya dan mengepal tangannya dengan sangat kuat hingga bergetar. 


"Maafkan aku." Elyana merasa sangat bersalah saat melihat Willard yang memasang ekspresi yang sedih seperti itu. 


Pelayan Willard masuk ke kamarnya dengan membawa dokter. Dokter tersebut pun segera memeriksa keadaan Elyana, dokter tersebut bilang bahwa keadaan Elyana sudah membaik, ia hanya membutuhkan istirahat yang cukup supaya luka yang dialaminya dapat lebih cepat sembuh. 


Willard yang mendengar perkataan dokter merasa sangat lega. Sedangkan Elyana malah melamun dengan tatapan kosong seakan sedang memikirkan apa yang dikatakan oleh sosok yang terlihat seperti 'Elyana' di mimpinya. 


Tidak salah lagi, orang yang kulihat di mimpiku itu pasti 'Elyana' yang sebenarnya. Tetapi, mengapa dia terlihat sangat putus asa, seperti seseorang yang sudah kehilangan seluruh harapan dan apa yang dia maksud dengan tempat ini adalah tempatku? 


"Ely? Apa kamu baik-baik saja?" Willard tampak terlihat khawatir saat melihat Elyana yang kembali melamun seperti itu.


"Ya, aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah." Elyana terlihat mencoba tersenyum untuk menenangkan Willard yang khawatir. 


"Baiklah kalau begitu. Lebih baik kamu sekarang istirahat dulu, aku akan pergi untuk mengerjakan beberapa pekerjaan ku." Willard kembali tersenyum saat melihat Elyana yang tersenyum. 


Elyana menganggukkan kepalanya kepada Willard. Kemudian Willard pun berjalan keluar bersama dokter dan pelayannya, meninggalkan Elyana sendirian. 


Setelah Willard pergi, Elyana tampak memikirkan beberapa hal. Pertama yang dipikirkannya adalah kenapa sikap Pangeran Albern dan Caitlin sangat berbeda dengan apa yang dibacanya. Pangeran Albern seharusnya memiliki karakter yang baik dan ramah walaupun ia bisa menjadi licik jika demi itu demi pemeran utama wanita. Sedangkan Caitlin adalah seseorang dengan karakter yang pemalu dan baik hati. 


Pangeran Albern yang selalu marah-marah kepada Elyana dan Caitlin yang sangat membenci Elyana dan bahkan bermaksud untuk mencelakainya itu sangat tidak masuk akal. Elyana mencoba untuk memikirkan beberapa kemungkinan tapi ia tidak bisa memikirkan apapun. Namun, tiba-tiba muncul suatu pertanyaan di kepalanya yang membuat dirinya sangat terkejut. 


"Apakah dari awal kematian Elyana bukan salahnya tetapi mereka berdua yang merencanakan semua itu?"


"Hahahaha, novel ini benar-benar kacau. Jika benar begitu, rasanya aku mengerti kenapa novel ini berjudul 'Villainess Just Want A Little Love'." Elyana sedikit tertawa setelah mengatakan itu, kemudian ia tiba-tiba menangis. 


"Bukankah ini terlalu kejam?"