
Di semua kegelapan yang ada, Elyana kembali melihat orang yang bercahaya itu lagi, tapi kali ini dia tidak tersenyum seperti saat terakhir kali mereka bertemu. Orang bercahaya itu hanya menangis disana, tangisan yang penuh dengan rasa sakit yang mendalam. Pandangan Elyana kembali menjadi gelap kembali, dan saat ia membuka matanya, ia sudah berada di kamarnya.
"Sebenarnya apa yang kamu inginkan 'Elyana', kamu membuatku sangat menderita."
Elyana menutup matanya dengan kedua tangannya, rasa lelah yang luar biasa menyelimuti tubuhnya. Saat dirinya mulai berpikir bahwa mungkin dirinya sudah bisa menjalani hidup yang normal, kini semuanya menjadi sangat berantakan.
"Nona…" Lia memanggil Elyana dengan nada suara yang khawatir.
"Maaf Lia, tapi bisakah kamu memberiku waktu untuk sendiri dulu?" Suara Elyana terdengar seperti orang yang sangat kelelahan.
Lia yang mendengar apa yang dikatakan oleh Elyana kini terlihat sedih. Ia segera memberi hormat kepada Elyana dan berjalan pergi meninggalkan kamar Elyana.
Beberapa hari pun berlalu, Elyana masih terbaring lemah di tempat tidurnya, rasa lelah yang dirasakannya masih belum membaik. Elyana merasa tidak ingin melakukan apapun dan hanya berbaring di tempat tidurnya.
Lia yang melihat kondisi Elyana seperti itu, membuatnya ingin bertanya kepadanya apakah ada sesuatu yang terjadi, tetapi ia mengurungkan niatnya itu, karena pada akhirnya ia hanyalah seorang pelayan yang melayani Elyana dan bukanlah keluarganya. Lia pun menulis surat menggunakan nama Elyana kepada Willard dan menyuruhnya untuk datang ke kediaman Alston, setidaknya hal itulah yang bisa bisa ia lakukan sekarang untuk membantu Elyana.
Willard yang membaca surat itu segera datang ke kediaman Alston untuk bertemu dengan Elyana. Sebelum Willard pergi ke kamar Elyana, ia bertemu dengan Lia, dan saat itulah Lia memberitahukan kepada Willard apa yang terjadi.
Saat Willard sampai di kamar Elyana, ia segera masuk ke dalam dan berlari ke arah Elyana dengan ekspresi wajah yang khawatir. Saat melihat kondisi Elyana yang terlihat sangat lelah dan tidak bersemangat, ekspresi Willard berubah menjadi sedih.
"Bukankah waktu itu kamu berjanji untuk memberitahuku jika ada apa-apa." Willard meletakkan tangannya di atas kepala Elyana.
Elyana menyadari kehadiran Willard tetapi ia tidak memberikan respon kepada Willard. Tatapan Elyana kosong, pandangannya menuju ke arah luar jendela.
"Ely…" Nada suara Willard seperti seseorang yang kesakitan.
Tanpa sadar Elyana tiba-tiba mengatakan apa yang ia selalu rasakan kepada Willard "Will, sebenarnya apa yang harus kulakukan… sangat sulit untuk bangun dari tempat tidurku saat semuanya ada di kepalaku dan semuanya terasa sangat tidak masuk akal." Elyana perlahan mengarahkan pandangannya kepada Willard.
"Biasanya semuanya akan membaik saat aku melihat ke arah luar dengan pikiran yang kosong, tetapi ini tidak membaik Will, semuanya terasa sangat palsu." Elyana mencoba menahan air mata yang seakan ingin jatuh dari matanya.
"Ely, tenanglah. Bukankah aku yang berada di depanmu ini nyata, aku akan selalu berada disini dan selalu bersamamu." Willard tersenyum kepada Elyana, seakan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
Elyana bangun dari tempat tidurnya dan memeluk Willard, air matanya tiba-tiba jatuh, seakan membawa pergi perasaan sedih yang tidak bisa ia katakan pada siapapun. Ini pertama kalinya dalam hidup yang sudah ia jalani, dirinya merasakan kehangatan dari seseorang.