Villainess Just Want A Little Love

Villainess Just Want A Little Love
Episode 21



Willard melempar pedangnya dengan kuat hingga menusuk tangan Caitlin yang mengayunkan pisau nya kepada Elyana.


"AAAHHH!" Caitlin berteriak kesakitan saat melihat tangannya yang tertancap sebuah pedang.


Willard mengambil pedang milik ksatria lain yang bersamanya dan berjalan perlahan menuju tempat Caitlin berada. Caitlin yang melihat Willard berjalan perlahan padanya terlihat sangat ketakutan.


"J-JANGAN MENDEKAT! ha… ha… ha…" Teriak Caitlin dengan suara yang gemetaran dan terlihat sangat kesusahan untuk bernapas.


Willard mengabaikan teriakan Caitlin dan tetap berjalan menuju ke tempatnya berada. Kemudian ia perlahan mengangkat pedangnya ke atas, mencoba untuk menusuk Caitlin dengan pedangnya.


"Jangan!" Teriakan Elyana menghentikan Willard yang mencoba untuk menusuk Caitlin.


Pandangan Willard kini beralih ke arah Elyana. Saat melihat Elyana yang terikat disana, Willard segera berlari mendekati Elyana.


"Kepalamu berdarah." Willard memegang pipi Elyana dengan tangan yang bergetar dan suara yang bergetar.


"Aku baik-baik saja, lebih baik kita pergi dari sini dulu. Ya?" Elyana berusaha sekuat mungkin untuk mempertahankan kesadarannya.


"Tunggu sebentar, aku akan menghabisi wanita itu terlebih dahulu." Willard menoleh ke arah Caitlin dengan tatapan yang dingin.


Caitlin masih terlihat sangat kesakitan dan memegang tangannya yang berdarah, dengan tubuh yang gemetaran, ia berusaha untuk kabur dari tempat itu. Tetapi, para ksatria disana menghalaunya untuk pergi dari sana.


"Tidak usah, biarkan saja dia pergi. Kumohon." Penglihatan Elyana mulai kabur.


"Tapi!" Willard tidak setuju dengan Elyana yang ingin membiarkan Caitlin kabur dari sana.


Elyana menatap Willard dengan tatapan yang memohon dan perlahan ia mulai kehilangan kesadarannya. Semuanya gelap, Elyana merasa ini terasa sama pada saat-saat terakhir hidupnya, tidak ada apa-apa, hanya kegelapan saja yang dapat ia rasakan.


Aku tidak dapat membiarkan Caitlin mati, jika dia mati sekarang dan cerita ini berakhir, aku…


"Ely!"


Elyana mendengar seseorang memanggil namanya, suatu suara yang terdengar familiar. Walaupun matanya terasa sangat berat, Elyana dengan perlahan mencoba untuk membuka matanya. Saat Elyana berhasil membuka matanya, ia melihat Willard yang berdiri di sampingnya meneriakkan namanya.


Elyana hanya bisa mengedipkan matanya saat melihat Willard yang memanggil namanya dengan sangat sedih dan perlahan Elyana pun menutup matanya.


Elyana perlahan membuka matanya kembali dan saat ia melihat sekitarnya, tidak ada apa-apa disana, seluruh ruangan sangat gelap. Tiba-tiba ada seseorang yang bercahaya di dalam ruangan yang gelap itu.


"Siapa kamu?!" Elyana tampak panik saat melihat orang yang bercahaya itu mirip sekali dengan 'Elyana'.


Tetapi, orang itu tidak menjawab pertanyaan Elyana dan hanya tersenyum sedih melihat Elyana yang terlihat panik itu.


Elyana tidak tahu mengapa ia merasa takut dan cemas saat melihat seseorang yang mirip dengannya, mungkin jauh di dalam lubuk hatinya, dirinya takut jika 'Elyana' yang sebenarnya kembali dan merebut tempatnya saat ini.


"Tenang saja, aku tidak akan mengambil tempatmu. Hanya saja, aku ingin bertanya kepadamu. Hari-harimu yang selanjutnya akan menjadi lebih berat daripada yang sudah kamu lalui sebelumnya, meskipun begitu… apakah kamu masih ingin hidup di tubuh yang dipenuhi dengan takdir terkutuk itu?" Orang yang bercahaya itu perlahan mendekat ke Elyana, menunggu jawaban dari dirinya.


"Ingin hidup? Soal itu aku tidak tahu, tapi


… dibandingkan hidup yang kujalani di kehidupanku sebelumnya, hidup ini jauh lebih baik… setidaknya itulah yang kupikirkan." Elyana tampak sedikit ragu saat menjawab pertanyaan yang diberikan oleh orang yang bercahaya itu.


"Begitukah? Hahahaha. Kalau dilihat dari dekat, matamu sekarang sudah ada sedikit cahaya ya? Kamu tahu? Saat seseorang mati, ia akan menyadari banyak hal yang tidak dapat ia pahami saat dirinya masih hidup, baik itu hal baik maupun hal buruk. Tetapi, dilihat dari dirimu yang sekarang, kamu lebih menyadari hal yang baik. Sedangkan aku, malah menyadari sesuatu yang buruk." Orang bercahaya itu melihat Elyana dengan tatapan yang kosong sambil tersenyum dengan penuh kesedihan.


"Tempat itu adalah tempatmu, dan sudah bukan tempatku lagi."


Elyana melihat orang bercahaya itu perlahan menghilang dari hadapannya. Ia mencoba untuk mengejar orang bercahaya itu, tetapi seberapa keras ia mencoba untuk mengejarnya, ia tidak bisa menggapainya, dan perlahan seluruh pandangan Elyana pun menjadi gelap.