
“Nona! Keberadaan Tuan Willard sudah ditemukan!” Teriak salah satu pelayan Elyana yang berlari masuk ke tenda tempat Elyana beristirahat.
Elyana yang mendengar itu tersentak kaget dan segera berlari menuju ke tempat Willard dirawat, kegelisahan yang luar biasa menyelimuti hatinya. “Will…” Panggil Elyana dalam hatinya.
Elyana terus berlari tanpa memperhatikan pandangan dari bangsawan lain yang melihatinya dengan pandangan yang aneh. Ia sudah tidak memperdulikan hal lain lagi, hal yang benar-benar ada di pikirannya sekarang adalah melihat Willard. Apa dia baik-baik saja? Apa yang sebenarnya terjadi saat ia menghilang? Banyak pertanyaan muncul di kepala Elyana. Tanpa sadar ia pun sampai pada tenda tempat Willard dirawat.
Elyana langsung masuk ke tenda itu tanpa mempedulikan para ksatria kerajaan mencoba untuk menghalanginya. Ia mendorong mereka dan masuk ke tenda dimana Willard dirawat. Jantungnya terasa seperti berhenti berdetak saat melihat Willard yang terbaring tak berdaya di depannya.
Tanpa mengatakan apapun Elyana segera pergi memeluk Willard. Ia menahan air matanya yang seakan ingin jatuh, Elyana hanya memeluk Willard dengan perasaan yang sedih tanpa bisa berkata apapun. Dirinya merasa jika ia mengatakan satu hal saja rasanya ia tidak bisa menahan air matanya lagi.
Setelah beberapa saat, Elyana akhirnya melepaskan pelukannya dari Willard, ia duduk di sampingnya dan menatap Willard dengan tatapan kosong selama beberapa saat. Ia mencoba untuk kembali mengingat novel yang dibacanya, tapi ia hanya bisa membayangkan halaman yang berwarna hitam. Elyana mulai menyalahkan dirinya atas ketidakmampuannya membantu Willard, jika dirinya tahu apa yang sebenarnya terjadi lewat novel yang dibacanya, mungkin Willard tidak akan menjadi seperti ini.
“Tidak, jika dari awal aku tidak ikut dalam festival perburuan ini, Willard juga tidak akan ikut dan semuanya tidak akan berakhir seperti ini. Ini semuanya terjadi karena aku.” Elyana menyalahkan dirinya dalam hatinya yang terdalam.
Di saat Elyana sedang tenggelam dalam kesedihannya, salah satu pelayannya tiba-tiba masuk tenda di mana Willard dirawat dan mendekati Elyana dengan ekspresi wajah yang panik.
“Nona Elyana, Ayah Anda menyuruh Anda untuk segera pulang.” Bisik pelayan itu di telinga Elyana.
“Tuan Henry bilang jika Anda tidak mau pulang dari sini sekarang juga, maka Anda tidak akan bisa pulang lagi ke kediaman Marquis Alston untuk selama-lamanya.” Pelayan itu kembali berbisik kepada Elyana dengan gelisah.
Elyana sangat terkejut dengan apa yang diucapkan pelayannya. “Tidak bisa pulang lagi untuk selama-lamanya…?” Elyana menolehkan kepalanya ke arah pelayannya berada dan menatapnya dengan tatapan yang sangat kosong.
Pelayannya tersentak kaget dengan tatapan Elyana yang begitu mengerikan, ia menganggukkan kepalanya sambil melihat kebawah. Ia terlihat sangat ketakutan untuk melihat ke mata Elyana.
“Apa… maksudnya… itu…? Apa aku adalah seseorang yang sangat mudah untuk dibuang oleh kalian?!” Elyana tiba-tiba membentak pelayannya dengan suara yang keras.
Elyana segera berdiri dari tempat duduknya dan menarik tangan pelayannya dan segera berjalan menjauhi tempat itu. Hati Elyana yang awalnya dipenuhi dengan rasa bersalah kepada Willard kini dipenuhi dengan rasa amarah kepada ayahnya.
Saat Elyana berjalan dengan terburu-buru, Arabella yang tidak sengaja melihatnya mencoba untuk menghentikan Elyana. “Elyana!” Teriak Arabella kepada Elyana dengan nada suara yang khawatir.
Elyana menghentikan langkah kakinya saat mendengar Arabella meneriakkan namanya, ia melihat ke arah Arabella yang sedang berlari ke arahnya, tetapi Elyana tidak menjawab panggilannya, ia hanya tersenyum sedih ke arah Arabella dan pergi dengan begitu saja.
Arabella yang melihat senyuman sedih Elyana langsung menghentikan langkah kakinya begitu saja dan menatap punggung Elyana yang mulai menjauhinya dengan tatapan yang dipenuhi dengan kesedihan.